
"Adikmu usil banget, dia terus menggoda aku ... Shan, sudahkah?" jawab Fathia untuk Maira sekaligus bertanya pada Shan ketika suami Maira ini muncul.
"Kamu tahu, Ajmi memang begitu, gak hafal juga," balas Maira seraya masuk ke hunian.
"Sudah selesai. Kamu mau aku jelaskan di sini atau by email?" tanya Shan pada sepupu istrinya seraya menarik kursi makan sebab Maira ada di pantry.
Fathia menimbang, inginnya privasi tapi dia tak memiliki waktu lebih lama, sedangkan Shan pasti enggan bicara jika Maira tak bersama mereka.
"Sini aja deh. Gimana dia?" desak Fathia lagi, sementara Mifyaz menyembunyikan senyumnya.
"Asisten kepercayaan Brandon Cakra, tangan kanan lah. Dia cerdas, hafiz ehm sekitar lima juz, putra sulung purnawirawan Akabri dan ibunya ini masih ada darah Pajajaran meski jauh, tapi di riwayat yang ku temukan, beliau menyandang gelar Raden saja," ungkap Shan detail melihat dari tab akan hasil penelusuran.
"Ajmi, tambahin," ujar Shan meminta adik iparnya menjelaskan tentang Roby.
"Pemilik usaha pembuatan gula batu skala menengah, terbukti dari surat izin usaha dan lainnya. Aset ehm, menggiurkan sebab dia ini memang kesayangan Tuan Brandon meski statusnya hanya tangan kanan. Partner bisnis Biantara Cakra."
"Negosiator ulung, terbukti dengan banyak proyek Cakra yang dia golkan. Di amanahi menjaga aset Brandon Cakra oleh pendiri Klan Cakrawala. Wuih, bersinar terang," beber Mifyaz, tak mengira rentetan informasi Roby demikian mulus.
"Cakep tuh, pasti langsung di luluskan uwa Abyan," kata Maira.
"Kelihatan hanya asisten tapi dia memiliki aset mandiri. Jika suatu saat berpisah dari Cakrawala, dia sudah teguh. Bisnis bio ethanol Biantara ini cemerlang dan Roby adalah co foundernya. Kamu ingat gak, sosok Rico Frizz, Kaffa gak akan menerima Rico dengan mudah jika dia belum mandiri meski bersembunyi di balik Sheraz," tutur Shan, panjang mengutarakan pendapatnya.
"Nah, betul. Rico diam-diam begitu dia memiliki saham di perkebunan sawit, bahkan sebagian dari petani rempah yang memasok bahan produksi ke perusahaan Kaffa itu di bawah naungan kantor miliknya. Kaffa yang ketergantungan pada Rico, bukan sebaliknya. Lagian baba gak mungkin melepaskan Kamila dengan orang biasa. Minus Rico hanya bukan ningrat saja dan itu gak masalah bagi keluarga mereka," ungkap Maira membandingkan kisah latar belakang antara Roby dan Rico.
"Jadi baiknya gimana?" tanya Fathia bingung.
"Kamu menimbang dengan sepupuku, Sam?" Shan balik bertanya.
"Sam mengatakan tidak akan menikah muda. Ambisinya tinggi persis macam ayahku. Sam itu di siapkan om Arjuna sebagai penerus bisnis keluargaku di Surabaya. Sedangkan Syaharan, adikku memegang perusahaan ayah," jelas Shan lagi.
"Abrisam pasti akan langsung di terima sebab sempurna. Tapi, Sam nya kan enggak bersedia dalam waktu dekat. Umma Qonita sudah mewanti agar kamu hati-hati. Jika ada pandangan, baiknya segera. Lagipula, Roby itu kan hasil didikan njid, kamu bakal nikah dengan alumni santri Multazam," kekeh Maira. Dia pun terkejut saat melihat Shan banyak menemukan hal positif tentang Roby.
Fathia menimbang, dia memang butuh alasan dan pendapat logis mengenai apa yang menarik perhatiannya.
__ADS_1
Roby, baru di kenalnya beberapa jam dan waktu, tapi lelaki itu meninggalkan kesan baik dalam benak Fathia. Dia ingin sosok suami yang dewasa, seperti Raline atau Mahendra. Dua pria idaman bagi Fathia terlepas turunan ningrat atau bukan.
Fathia melihat ayahnya sering bersikap kaku dan pendiam, entah jika di dalam kamar berdua dengan ummanya. Fathia menginginkan sikap lembut dan perhatian dari suaminya nanti.
Dia amat iri dengan Maira, Kamila, juga Fiora yang sangat di manjakan pasangan mereka. Sepanjang pria yang dia kenal dekat, hanya Syaharan berpotensi demikian. Namun, usia anak itu dibawahnya dan terindikasi menyukai Athirah sejak awal.
Tadinya Fathia ingin mengenal dekat Alfred akan tetapi lelaki itu memilih Ashley. Fathia kian murung, amat sulitkah baginya di dekati pria atau menginginkan standar suami seperti itu.
"Kebanyakan mikir. Type kamu tuh, bener kata uwa Abyan, kudu selera sendiri. Aku tahu, Roby masuk kandidat, jangan kelamaan nanti dia diambil cewek lain, loh," ujar Maira, menepuk bahu Fathia seraya menyodorkan roti panggang.
"Yang pasti aja. Sam masih lama," imbuh Shan lagi. Dia lalu membagi gambaran tentang rumah tangga.
"Zie, gak usah di jelaskan. Dia ini anak pak kiyai, paham begituan sih," cegah Maira.
Shan tertawa lepas, lupa siapa sosok cerdas di hadapannya. "Aku turun tangan gak nih?" tawar Shan.
"Maksudnya?" Fathia tak mengerti.
"Ngetest aja," sambut Maira, paham maksud suaminya.
"Wuih, udah jadi aja foto prewed nya," kekeh Maira, meraih tab milik Shan yang di gunakan Mifyaz untuk mengedit gambar.
Fathia kini menopang dagu, hatinya condong tapi kuatir akan di tentang oleh sang buyut. Danarhadi. Jika Kamila tak banyak di komentari beliau saat menikah dengan Rico apakah nasibnya akan sama sebab latar belakang keturunan Roby demikian.
Dia ingat kisah perjalanan cinta antara Mahendra dan bibinya. Kedua orangtua Maira dan Mifyaz itu menemui jalan panjang dan menyedihkan. Apa dia sanggup menghadapi itu nanti. Fathia galau.
Tak lama, Fathia dan Mifyaz kembali ke Jakarta setelah puas berbicara dengan Shan dan Maira, pasangan jenius di keluarga Kusuma.
...***...
Sementara di hunian lain.
Roby tidak berhasil memejam sejak dia tiba. Fisiknya memang lelah akan tetapi bayang foto milik Fathia berseliweran dalam benaknya.
__ADS_1
"Innalilahi, astaghfirullah. Dosa, By, dosa!" keluhnya bangkit, memilih mandi kembali berharap otaknya ikut segar.
Beberapa menit setelahnya. Pintu apartemen diketuk dan dibuka seseorang.
Tok. Tok.
"By? aku gak masuk, hanya buka pintu saja. Ini ada kiriman kue dan lauk dari ibu. Beliau langsung tidur jadi aku yang antar ke sini," kata Malya dari luar unit.
"Al, masuk saja. Letakkan di meja. Aku ke kamar dulu," jawab Roby, bangkit menuju kamar.
"Aku letakkan di balik pintu saja ya. Gak masuk, jangan lupa di pindah. Byyy," balas Malya sembari membuka pintu lebar, meletakkan makanan di atas lantai lalu menutupnya lagi.
Tak lama, Malya membuka pintu unit Roby kembali.
"Oh, iya, lupa. Gadis itu cantik ya, By. Keturunan alim, kata Mas Bian, kalau mau khitbah, harus segera sebab Raden Roro Fathia Jameela antri di lamar oleh banyak pria. Mas Bian bilang akan mewakilkan lamaran kamu melalui Pak Mahen," tutur Malya panjang. Dia mendapat info dari Bian, bahwa Roby baru saja bertemu seorang gadis.
Biantara menyelidiki siapa sosok di balik foto yang Roby kirimkan. Bukan cuma satu, tapi tiga buah gambar, sementara Bian tak meminta seorang model. Berawal dari kecurigaan inilah, identitas Fathia terungkap dengan bantuan Chris.
"What? Al, jangan macam-macam. Dia terlalu tinggi buat aku," ujar Roby, berdiri di depan pintu kamar.
"Ish, aku gak tahu lah. Kata Mas Bian begitu. Kamu sengaja ngode kan sama dia. Ngirim banyak foto gadis itu, kalau bukan minta untuk di wakilkan, lalu apa? sebab Mas Bian kan kenal dekat dengan Pak Mahendra," tutur Malya panjang.
"Hah, banyak? bukannya cuma satu?" tanya Roby memastikan lagi.
"Kata Mas, ada tiga dan yang terakhir itu wajahnya terlihat jelas," kekeh Malya menutup pintu unit Roby.
Roby lemas, dia goyah, menjatuhkan diri ke atas sofa panjang. Kecerobohannya menelurkan opini baru.
"Ya Robb. Dengan wajah apa aku menghadap Fathia jika dia tahu fotonya tersebar akibat aku lalai!"
.
.
__ADS_1
...__________________...