
Biantara tiba di Inggris setelah subuh. Dia tak lantas menyambangi rumah sakit. Tujuannya adalah kastil Valencia.
Anne menyambut keponakannya dengan suka cita, menduga bahwa Bian mungkin akan menyilakan dia untuk segera menempati Mansion.
"Bian, aku siapkan kamar ya untuk kamu istirahat," ujar sang bibi.
Biantara bergeming, dia bahkan tak menyentuh sofa untuk sekedar duduk di ruangan megah milik Duke Anthony.
"Tante, aku ke sini memang sesuai dengan keinginan Tante. Silakan pindah ke Mansion bulan depan, aku meninggalkan semua pekerja di sana agar kalian tidak kesusahan lagi mendapatkan pekerja yang mengerti seluk beluk Mansion," kata Biantara masih sambil berdiri.
Anne mengangguk, bola matanya berbinar cerah. Senyum tersungging di bibir wanita yang masih mengenakan piyama.
"Satu lagi. Aku gak akan membiarkan Maria melenggang bebas setelah kejahatan dia beberapa hari lalu sebab melukai istriku. Mencoba melakukan penculikan terhadap Meeza," tutur Bian dengan mimik wajah serius.
Anne terkejut, Maria tidak keluar rumah beberapa hari ini. Bagaimana mungkin menantunya Melaku kejahatan.
"Maria di rumah sudah hampir tiga hari, kondisinya lemah. Mana mungkin melukai istrimu Bian. Jangan mengada-ada," sangkal Anne seraya terkekeh, merasa lucu atas lelucon kemenakannya.
"Rekaman cctv, saksi kunci, juga visum istriku sudah siap menyeret Maria ke pihak berwajib. Aku tak gentar dengan ancaman Andreas, silakan saja. Akan aku balas orang-orang yang menyakiti Malya dan keluargaku," tegas Bian.
"Tante gak ngerti. Bukankah mama dengan sukarela menyerahkan hak bagi Andre? mengapa harus ada kekerasan di sini?" sanggah Anne lagi berusaha menahan Biantara saat akan meninggalkan hunian.
"Tante tanyakan pada putra kesayangan Tante itu. Jika dia masih bernafsu menginginkan kursi CEO Cakra Corp, hadapi aku dengan benar. Tidak dengan cara kotor seperti ini," tandas Biantara pamit melenggang pergi.
Anne menyadari bahwa Andreas telah membangunkan kucing yang tertidur. Briandana berhasil mendidik Bian menjadi pribadi yang tak banyak bicara tapi tegas melindungi miliknya.
"Mengapa aku seakan melihat Brian tadi? mata sipit itu begitu tajam," lirih Anne, mengusap pangkal lengan sebab buku kuduknya meremang.
Wanita cantik itu menaiki tangga menuju kamar menantunya. Dia amat penasaran dengan tuduhan Bian tadi.
"Maria, kau sudah bangun?" tanya Anne saat tak mendapati wanita itu di atas ranjang.
"Maria!" sebut Anne memanggil menantunya.
Tidak ada sahutan dari Maria hingga Anne di buay terkejut akan kehadiran tiba-tiba Maria dari arah balkon.
"Aah!" pekik Anne sebab gaun tidur Maria serba putih.
"Ya, Mi?" jawab Maria.
"Kamu bikin kaget. Mami mau tanya, kamu benar melukai mantan istri Bian?" desak Anne.
__ADS_1
Maria terkejut, dia mendadak ketakutan. Bayangan Andreas murka kembali melintas. "Enggak. Siapa bilang? ngarang aja. Bian masih gak bisa move on kali dari aku," kilah Maria, berjalan menuju ranjang lalu menarik selimutnya.
Ingin rasanya menekan Maria tapi Anne ingat bahwa dia tengah mengandung. Dokter mewanti agar Maria tidak stres. Anne pun, mengurungkan niatnya.
"Ya sudah. Mami hanya tanya saja. Mungkin Bian keliru," sahut Anne, sembari melangkah meninggalkan kamar Maria.
Setelah kepergian sang mertua, Maria merenung. Dia memikirkan kabur ke Indonesia dan bersembunyi di vila Sawyer lain agar tak ada yang mengenali. Termasuk menghindari Andreas, dia takut sebab kehadiran janin yang di luar dugaan.
...***...
Pukul tujuh pagi, Biantara tiba di rumah sakit. Dia duduk di sisi brangkar Malya, melihat wanitanya masih memejam.
"Dokter baru menaikkan dosis obat pereda nyeri untuknya. Semalaman dia gak tidur, setelah salat subuh tadi barulah Malya terlelap. Meeza juga menemani ibunya," ujar Beatrice.
Hari ini tetua Cakra melakukan pemeriksaan lanjutan terkait operasi kedua yang telah dijalani beberapa waktu lalu. Bian meminta Sari menemani neneknya sementara dia menunggu Malya siuman.
"Sakit banget ya, Al. Aku baca hasil Rontgen tangan kamu. Lukanya cukup dalam," lirih Bian melihat tebalnya bebatan kasa di tangan kanan Malya.
"Maaf ya. Kamu harus terluka," sambungnya lagi.
Raganya lelah, sejak kemarin tanpa jeda istirahat setelah RUPS dia langsung terbang. Mengunjungi kastil, bicara dengan dokter hingga berakhir di sisi brangkar Malya.
Lambatnya waktu terasa membuat Bian merasakan kantuk. Dia pun perlahan terpejam.
Meeza terbangun sebab dingin kian menusuk kaki dan lengan. Meski matanya amat lengket untuk membuka, dia paksakan untuk mencari selimutnya yang terjatuh. "Daddy?" lirih sang bocah melihat ayahnya telah tiba.
Cicit Cakrawala itu lalu bangkit, meraih pashmina milik Malya untuk menutupi bahu sang ayah yang tertidur sambil duduk. Dia lalu tersenyum melihat kedua orangtuanya berkumpul kembali.
"Love you Dad, Bunda," lirih Meeza, kembali berbaring menyamping di atas ekstra bed samping brangkar Malya.
Momen manis bagi Meeza, senyum tak surut terkembang di wajah mungil gadis cilik keturunan Cakra. "Jangan pergi lagi ya, Bunda," gumam Meeza perlahan memejam kembali.
Saat Beatrice kembali, keluarga cucunya ini masih di posisi semula. Jika suster tidak datang untuk mengantar obat, mungkin Malya belum terjaga.
Wanita ayu terpaksa bangun kala suster mengganti infus sekaligus memasukkan obat cair ke dalamnya. Nyeri dan ngilu menyergap Malya hingga dia mendesis kuat.
"Ssshhh, sakit," lirih Malya, tidak dapat menahan. Tangan kanan berdenyut sementara yang kiri menahan ngilu, jantungnya bagai teremat.
Rintihan Malya membuat Bian terjaga. Dia terkejut melihat mantan istrinya memejam menahan sakit hingga meneteskan air mata.
"Sayang, sakit banget ya?" tanya Bian, diabaikan Malya.
__ADS_1
"Suster, ini obat apa?" Bian mengalihkan obrolan.
"Pereda sakit, sebab anestesi lukanya telah memudar. Nyonya memiliki luka dalam dua lapis juga sayatan luar sehingga lumayan sakit. Beliau juga mengeluh mual muntah, semua obat untuknya diubah dalam bentuk cairan agar langsung masuk ke infus," ungkap suster.
Malya terisak, memiringkan wajahnya ke kiri agar Bian tak melihat dia kesakitan. Rasanya aneh di perhatikan sedekat ini oleh mantan suami.
Suster melanjutkan tindakan mengganti kasa Malya. Wanita ayu kian meringis manakala bebatan itu dibuka perlahan.
Beatrice tak dapat melakukan apapun, dirinya hanya dapat menyemangati Malya dari brangkarnya.
"Al, sabar ya, Nak. Nenek tau itu sakit," ucap tetua Cakra.
Biantara tak tega, dia menepis aturan dan akan menerima kemarahan Malya. Yang penting saat ini, dia dapat melindungi wanita pujaan.
"Al!" Bian berdiri ke sisi kiri, dia menyeka butir bening dari wajah ayu Malya menggunakan tisu.
"Sakit, ibu," lirih Malya kian terisak, matanya memejam, kepalanya menggeleng ke sana sini.
"Maaf ya, Sayang." Bian meraih bantal, meminta Malya menundukkan tubuh dan menekuk lututnya agar dapat menahan sakit.
Bian meraih selimut dari ranjang Beatrice untuk menutupi punggung Malya. Dia lalu mengusapnya lembut.
"Jangan, Mas. Gak boleh begini," lirih Malya kian jelas terisak manakala suster membersihkan area luka.
Bian tak tega, luka itu begitu mengerikan menghias lengan mulus istrinya yang tanpa cela.
"Maaf, Sayang. Aku pakai penghalang, Al. Tahan ya, sebentar kok," bujuk Bian, menenangkan Malya sebab memberontak dengan apa yang dia lakukan.
"Bundaaaa," suara tangis Meeza melihat ibunya kesakitan.
"Diam di situ, Za, bunda gak apa," pinta Bian pada putrinya.
Sesi menegangkan usai. Bian meminta suster membantu istrinya ke posisi semula. Lelaki itu lalu mengatakan pada tenaga medis agar dilakukan tindakan lanjutan untuk Malya.
"Aku ingin pengobatan istriku di naikkan levelnya sehingga tak lagi menderita kesakitan parah. Juga tindakan pasca luka agar tiada bekas, aku gak rela ada jejak parut di lengan Ratuku," tegas Biantara.
.
.
..._____________...
__ADS_1