BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 72. NADZOR ROBY


__ADS_3

Karena kesibukan masing-masing, rencana pertemuan antara Mahen dan Bian, terjeda hingga tiga bulan lamanya.


Saat Malya di London untuk bertemu Meeza, Biantara menerima ajakan Mahendra untuk membicarakan tentang Roby. Bahkan dia didampingi sang asisten langsung sore itu.


"Assalamualaikum, Mas Bian, Roby. Kenalkan ini kakak iparku, Abyan Jamil Zaidi, ayah Fathia," sapa Mahen kala keduanya menyambut Biantara.


"Wa 'alaikumsalam. Bian saja, Om, Yai," balas Bian, di susul Roby yang menjabat tangan Mahendra. Khusus untuk Abyan, Roby meraih telapak tangan beliau serta menciumnya bolak balik sebagai tanda khidmat alumni santri Multazam.


"Langsung saja ya. Kami ingin nadzor Roby bukan sebagai mitra bisnis melainkan untuk niatan khusus bagi putri beliau," kata Mahendra, menunjuk Abyan.


Roby menunduk, jemarinya saling bertaut, dia grogi setengah hidup berhadapan dengan sang guru langsung.


"Ana samar mengingat Roby, saat itu satu alumni dengan siapa ya, Nak Roby?" tanya Abyan.


"Bersamaan dengan ustadz Farid yang resign sebab pindah ke Yaman. Beliau wali kelas ana dulu, Yai. Satu kamar dengan Manaf, vokalis Hadroh dan saat ini dia mengajar di Multazam," jawab Roby, masih menundukkan pandangan.


"Ya kheir. Antum ada niat dengan Fathia?" tanya Abyan langsung sebab waktunya mendesak.


Roby mengangkat kepala, apakah yang dia dengar salah atau keliru? seorang kyai besar seperti Abyan, menanyakan hal penting padanya? bukankah kandidat sekufu bagi Fathia itu bejibun? pikir Roby.


Biantara menyenggol lengan Roby hingga pria muda itu tergagap. "By!"


"Eh! Afwan, Yai. Ana tidak pantas," jawab Roby kembali menunduk. Fathia terlalu tinggi untuknya.


Abyan tersenyum, mengulang kalimatnya. "Nak Roby, ada rasa suka dengan Fathia?" tanya sang kyai.


"By, di jawab yang betul. Kerjaan kamu gak beres gara-gara tidak berani menghubungi Fathia untuk minta maaf kan, sebab perkara foto yang terselip saat mengirim padaku," beber Biantara kian membuat nyali Roby menciut.


Ucapan daddy Meeza menambah jumlah keringat dingin yang muncul di dahi lelaki tegap asisten serba bisa nan pantang menyerah. Namun, kali ini dia bagai kerupuk terkena tetesan air. Melempem.


"Jika Roby punya rasa suka dengan Fathia. Maka Kak Abyan ingin meneruskan niatan kalian berdua," imbuh Mahen.


Biantara tersenyum usil. Dia menyenggol lengan Roby agak kencang hingga asisten itu tersedak.


Uhuk. Uhuk.


"Calon mantunya malu-malu, Kak," kekeh Mahendra di iringi senyuman Abyan yang langka.


"Abuya sampai senyum begitu loh, By. Kamu gimana?" desak Mahen lagi.


Satu detik.


Dua detik.

__ADS_1


"Ana," sahut Roby, memberanikan diri menoleh ke Biantara lalu pada gurunya sekilas.


Daddy Meeza mengangguk, tanda dia siap menjadi perantara sang asisten hingga urusan selesai sampai halal.


"Sesungguhnya ana memang ada niat, tapi merasa tak sekufu dan juga kaffah bagi Fathia. Ana, khawatir tidak dapat full berkontribusi bagi almamater, Yai. Juga, banyak ganjalan lain. Intinya demikian," ucap Roby.


"Semua manusia itu setara. Kalian yang akan menyempurnakan ibadah, setelah menikah nanti. Bukan hanya saat ijab saja tapi seterusnya mengkaffahkan diri masing-masing. Jadi sekufu dan kaffah itu bisa di mantapkan setelah bersama. Jika memang demikian, abuya tanya sekali lagi, apakah Nak Roby memang berniat melanjutkan atau tidak?" terang Abyan, tak ingin basa basi sebab Roby telah mandiri, cerdas dan dapat mengambil keputusan.


"Kontribusi itu banyak macamnya, By. Kamu paham manajemen, IT dan hal lain. Bisa di koordinir secara jarak jauh nanti dengan Abuya atau staff lain. Baktimu buat Abuya dan almamater tak berjarak bukan?" terang Mahen, memberikan gambaran solusi bahwa Abyan tidak meminta dia pindah kota atau melepaskan pekerjaan saat ini.


"Ya kheir. Bismillah, secara hati, ana ingin melanjutkan. In sya Allah rembukan dengan ibu dan bapak untuk hal ini. Khitbah dan syarat dari Fathia apa saja ya, Yai," kata Roby.


"Belum ketok palu, By. Main tanya syarat," kekeh Mahen di iringi senyum Abyan.


"Kalau udah panas gini ya, ngebut. In sya Allah, abuya tunggu jawaban orang tua Nak Roby dulu ya. Syarat dari Fathia nanti nyusul, tapi buya gak maksa kalian tinggal di Multazam. Jika Nak Roby mantap, buya pegang Fathia," tandas Abyan.


Roby mengangguk cepat, sungguh sebuah keistimewaan baginya diminta menjadi bagian dari keluarga seorang alim. Mereka pun sepakat bertemu dua hari lagi. Petang itu, para pria pun langsung berpisah tujuan.


Asisten Brandon pun pulang ke Bekasi, menemui orang tuanya, sementara Bian sibuk menghubungi Malya di London.


...***...


Betapa terkejut kedua orang tua asisten Brandon, kala Roby tiba ke kediaman mereka. Pria tampan itu langsung terisak memeluk ibunya yang sedang mengaji di kamar, hingga Romlah cemas dan ketakutan telah terjadi sesuatu dengan si putra sulung.


"By, Abang, kenapa sih, ya Allah. Bapaaaakkk, ini anaknya kenapa?" teriak Romlah, mengundang reaksi panik yang sama dari sang ayah.


"Bang, kenapa sih?" giliran Rosi mengintip di ambang pintu kamar.


Romlah mengusap punggung putranya yang masih mendekam di atas pangkuan. Perlahan isakan itu mereda setelah beberapa menit.


"Pelan-pelan, cerita," tutur Romlah lembut.


Rijal Ashfaq, serta Rosi, duduk tak jauh dari sana. Menyiapkan telinga untuk mendengar penuturan Roby.


"Tadi bada ashar, aku baru saja di minta untuk menjadi menantu yai Abyan Jamil, beliau menantu ustadz Muhammad Abqory di Multazam dulu," kata Roby seraya menyeka air matanya.


"Alhamdulillah, barokallaaahh, anak ibu," Romlah meraih wajah putra kesayangan, menciumi bertubi di sana. Dia sangat terharu.


Sang ayah tak kalah bahagia, Rijal pun menyeka butir bening yang jatuh dari netra tuanya. "Mereka tahu tidak, latar belakang kita, By? cuma orang biasa, apa pantas? pekerjaan Abang?" ujar Rijal.


Roby mengangguk kemudian menceritakan garis besar pertemuan mereka. Dia ingin meminta restu dari kedua orang tuanya.


"Ya sudah. Dua hari lagi, langsung lamaran saja. Ayo, Bu. Kabari tetangga, RT, RW, bapak mau langsung minta surat numpang nikah besok," kata Rijal bersemangat.

__ADS_1


"Aku mau nikah jika ada Meeza, dia pulang enam bulan lagi, Bu, Pak, bagaimana?" cicit Roby. Malya dan Bian menunda pernikahan sebab menunggu putrinya kembali.


Rijal dan Rosi saling pandang. Jika untuk urusan Cakrawala, putranya takkan mentolerir. Mereka jadi paham penyebab Roby bersedih tadi.


"Bapak akan bicara dengan yai mu. Kalau harus akad cepat, ikuti ya, By. Gak boleh nunda kelamaan juga," tutur Rijal lagi. Bahkan Rosi sudah menyiapkan catatan kebutuhan hantaran sang kakak.


Roby mengangguk, ganjalan di hatinya terurai sudah. Hanya tersisa pertemuan keluarga dua hari mendatang. Semoga semua berjalan lancar.


Setelah isya, dia menelpon Malya memberikan kabar hari ini sekaligus meminta sarannya.


...***...


London.


Bian mempekerjakan Camai sebagai driver pribadi Malya. Dia juga meminta gadis itu menemani kemanapun Malya pergi. Kini, sang asisten pribadi nyonya Sya tengah menunggu beliau di sebuah resto.


Malya sengaja meminta bertemu dengan Andreas di resto bawah hotel tempat dia menginap.


"Mas Bian mengatakan akan melimpahkan jabatan pada Anda langsung tanpa rapat rups. Kami hanya terlibat di belakang layar saja. Tolong jangan buat Cakrawala memudar. Pertahankan apa yang telah Mas Bian jaga dan tata. Suamiku, telah banyak berkontribusi untuk kejayaan Cakrawala," tutur Malya pada pria di hadapan.


Andreas hanya tersenyum sinis. Meskipun dia memegang kekuasaan, tetaplah jumlah saham gabungan mereka melebihi miliknya dan tiada potensi bertambah. Andreas bagai boneka.


Namun, dia tak peduli. Prestige kedudukan dua CEO akan di sandangnya sebagai modal memperluas jaringan.


"Oke. Thanks," ucap Andreas bangkit berlalu.


Setelah kepergian lelaki angkuh, Camai mendekat. "Non, ada call dari pak Roby," ujarnya seraya menyodorkan ponsel Malya.


"Ya, By. Kenapa?" tanya nyonya Bian.


Roby mengatakan tentang kegundahannya, dia meminta pendapat Malya.


"Menikahlah duluan. Meeza pasti mengerti, putriku cerdas. Uncle Byby nya sudah bertemu Onty salihah. Aku akan cerita ke Meeza esok hari saat kunjungan," balas Malya menjawab keraguan Roby. Bian telah menceritakan garis besar kisah sore tadi di Indonesia dan Malya menyetujui rencana mantan suaminya itu.


Panggilan pun berakhir setelah Malya meyakinkan sang asisten.


"Alhamdulilah, mabruk ya Byby."


.


.


...__________________...

__ADS_1


Nadzor : melihat calon kandidat yang akan dijadikan menantu/istri/suami.


Kaffah dan sekufu : keseluruhan tentang memahami ajaran, kepantasan, kesetaraan status dari segi ilmu, kedudukan, latar belakang dsb.


__ADS_2