
Saat Roby menuju kebun bunga milik Bian yang di rahasiakan dari Malya, ternyata Mifyaz sudah di sana dengan Fathia. Sebuah kejutan bagi Roby dapat menjumpai cucu gurunda.
"Assalamualaikum, Yaz," panggil Roby kala baru saja turun dari mobil dan melepas kacamata hitam yang bertengger di wajah tampan.
"Mbak, oppa datang," kekeh Mifyaz. Dia menilai Fathia membuka diri terhadap Roby sebab bersikap ramah dan mau bicara panjang dengan yang bukan mahram.
Fathia, persis Aiswa jika dalam bersikap akan tetapi bagai umma Qonita bila bicara. Tertata rapi, sangat lembut dan pandai memilih kata sehingga orang awam pun mudah memahaminya maksudnya. Mungkin inilah ciri khas keluarga pendidik, sebab Fathia besar di lingkungan demikian. Kakek, paman, ayah dan ibunya adalah seorang alim.
"Apaan sih, Yaz, mbak mau ikut sebab penasaran dengan kebun bunga Krisan yang kata nyonya Jani, kualitas di sini terbaik di banding supplier lainnya," bisik Fathia memutar badan membelakangi.
"Tapi kan Mbak ramah sama dia, tumben. Aku bisa hitung jari, pria yang sanggup membuat Mbak Tia ngemeng panjang. Bahkan kang Yusuf aja di cuekin mulu padahal ajib lahir batin," kekeh Mifyaz ikut berbalik badan.
"Roby menahan pandangan, hanya melihatku sekilas dan saat bicara secara khusus tempo hari, dia pun menunduk setelah kamu bilang mbak cucu njid, itu saja. Sedangkan lainnya tidak, termasuk Yusuf, Ali, Syaharan, bahkan Azhar," kata Fathia.
"Lagian kamu juga bukan mahram, cengengesan mulu," imbuh Fathia lagi, dia tertawa renyah. Mifyaz bagai adiknya meski mereka sepupu, sehingga Mahen meminta asisten wanita untuk menemani keduanya agar tidak pergi berdua.
"Abrisam fawwaz gak disebut, berarti kandidat dua dong, oppa dan bang Sam," kekeh Mifyaz.
Fathia hanya tersenyum, dia lalu melangkah pergi saat Roby nyaris mencapai tempat mereka.
"Sorry lama, aku bangun kesiangan. Biasanya weekend balas dendam untuk tidur. Langsung aja yuk," ucap Roby setelah menjabat tangan Mifyaz.
"Kita lagi nginep di oma dari pihak ayahku. Kawasan ini dekat dengan markas milik bang Shan. Juga kebun sayur ayah, jadi cepat sampai sebab hafal daerah sini. Aku gak sangka, lokasi ini milik pak Bian?" kata Mifyaz lagi, takjub dengan landscape di bawah sana.
"Ayahmu? jangan bilang jika beliau adalah Mahendra Guna," ucap Roby, menahan bahu Mifyaz saat mereka akan melangkah.
"Kok tahu," kekeh sang pemuda.
"Maa sya Allah. Bener ya, semua terkoneksi dengan Kusuma secara tidak langsung. Siapa lagi, pemilik kebun terluas di sini yang dikenal baik masyarakat sebab loyal, jika bukan Gunafarm. Beliau juga sempat berebut lokasi ini dengan Pak Bian. Tapi aku terkesan saat pak Mahen melepaskan dan membiarkan Pak Bian membelinya," terang Roby seraya melangkah menuruni undakan tanah.
"Kenapa? ayah cerita sih, katanya ingin mendukung perjuangan. Bunda saja mengiyakan langkah ayah itu padahal tempat ini strategis, tapi aku gak paham alasannya," jujur Mifyaz penasaran.
"Benar. Alasan pribadi sih, Pak Bian mengatakan bahwa tempat ini akan dijadikan hadiah untuk nyonya Sya, istrinya. Pak Mahen langsung sumringah dan bilang oke lah, aku lepas jika Bian ingin memanjakan ratunya, gitu. Aku baru tahu jika beliau bagian dari Kusuma," tawa Roby terdengar. Merasa beruntung bisa berteman dengan putranya.
Mifyaz ikut tertawa, sang ayah memang super romantis dan selalu memanjakan bundanya.
"Ayah itu bucin abis ke bunda dan memang akan support setiap pria yang berniat menghujani istrinya dengan banyak sayang ... Om, butuh model gak? Mbak Fathia bisa di pakai. Tuh, diem gitu aja cangtip, wait ya aku jepret dari sini," kata Mifyaz mulai memposisikan kamera tanpa Fathia tahu.
Beberapa capture berhasil di abadikan secara cantik. View antara langit, sengkedan juga hijaunya rumput menambah chic tangkapan kamera.
"Kan, cakep," Mifyaz menunjukkan hasil.
"Kamu beneran berbakat ya. Cus lah, izin dulu tapi ke Mbak Fathia nya. Aku gak mau kurang ajar apalagi beliau cucu guruku," ujar Roby.
Mifyaz mengangguk lalu melanjutkan misi, membujuk Fathia.
"Mbak gak mau nampak wajah ya, Yaz. Pokoknya itu aja ... ehm, pak Roby, aku boleh minta capture greenhouse itu gak? kayaknya unik banget di dalamnya," ujar Fathia untuk Mifyaz juga Roby.
__ADS_1
"Boleh. Ehm, syukron bantuannya. Silakan di lanjutkan, aku akan membuka greenhouse. Isinya spesial dan ekslusif sebab di tata epik oleh beliau," balas Roby, mendahului mereka turun ke bawah.
"Om, aku send capture by email ya. Ajib banget ini ... sekalian bikin kontrak yuk, buat lokasi prewed. Mbak Tia bisa masukkan ulasan ke blog dan aku akan ajukan proposal untuk Bunda supaya Queennaya punya banyak pilihan lokasi shoot," kekeh Mifyaz.
"Dasar otak bisnis, persis emak bapaknya, semua jadi duit," sahut Fathia.
"Boleh. Nanti aku sampaikan ke Pak Bian jika memang serius," seru Roby melihat ke Mifyaz yang masih ada di undakan atas.
"Ya kali, kan nanti lokasi ini jadi trending sebab foto prewed kalian nampang di web, kan, kan," celoteh Mifyaz membuat Fathia melotot ke arahnya.
"Prewed siapa? kalian?" tanya Roby tak mencerna kalimat Mifyaz dengan benar sebab sembari membuka palang juga gembok greenhouse. Dia lalu menepi, menundukkan pandangan kala Fathia melintas.
"Ck, kalian lah," lanjut Mifyaz, menggoda Fathia dan Roby.
Fathia tak menggubris, dia membuka pintu greenhouse dan melangkah masuk, seketika netra wanita cantik itu di buat takjub.
Sementara Roby yang mendengar sekilas malah jadi salah tingkah. "Ehm, si-lakan," ucapnya terbata.
"Sabar, jangan grogi ya, Om," kekeh Mifyaz saat melewati Roby.
"Maa sya Allah. Pantesan aja ayah nyerah berebut ini. Lah, Pak Bian total amat ya. Salam untuk beliau, selamat bergabung dengan komunitas bucin istri bagai ayah," tawa Mifyaz menggema.
Melihat Fathia, jemarinya spontan mengangkat kamera mengabadikan setiap gestur sang sepupu. Siang itu, tidak ada capture sia-sia dari Mifyaz. Semuanya Roby sikat dan menyimpan foto yang ada Fathia hanya untuknya tanpa berniat membagi pada Bian.
"Terima kasih banyak atas bantuannya. Aku sudah transfer ke rekening Mifyaz Ajmi, tolong di cek mutasi ya," tutur Roby melepas kepergian partner kerja.
"Wa 'alaikumsalam," sahut Roby seiring Mifyaz membuka pintu tengah lalu naik ke mobilnya.
Setelah kepergian keduanya, Roby masuk ke mobil. Mengirimkan banyak foto ke email Biantara dan website garapan sang majikan.
"Memang total sih, aku aja baru lihat isi dalam greenhouse. Selera Malya banget ... Al, Bian totally berubah. Dia menggadaikan dunianya untukmu, habis-habisan menyiapkan rumah yang nyaman untuk kalian tanpa banyak bicara. Emang pantes kalau dia ngajak balikan, semoga kamu terima segala niat baiknya," ucap Roby seraya menarik tuas rem, bersiap menekan pedal gas.
Kriing. Ponselnya berbunyi.
"Ya, Tuan muda. Anda sudah lihat? bagaimana?" tanya Roby, urung melajukan mobilnya dan mematikan mesin.
"Cantik sekali. Thanks. Siapa fotografernya," tanya Bian di ujung sana.
"Yang motoin rekomendasi dari Pak Sheraz. Anda gak akan percaya, ternyata dia putranya Mahendra guna, Mifyaz Ajmi," jawab Roby membuka identitas rekan kerja mereka.
"Eh, dunia sempit. Ayah dan anak membantuku ternyata. Ini siapa, By?" imbuh Bian, melihat satu foto wanita di dalam greenhouse.
"Siapa apanya?" tanya Roby heran.
"Wanita dengan hijab abu tua dan gamis broken white, memakai topi lebar di dalam greenhouse, pegang ilalang, capture sisi kanan. Posenya bagus jadi kayak cocok buat lokasi galau atau prewed gitu deh. Pacar kamu?" desak Bian.
Degh.
__ADS_1
"Please hapus saja. I-itu gak termasuk. Jangan di pakai," ucap Roby, gusar.
"Kenapa? kamu kenal?" cecar Bian. Dia tidak mengajukan konsep ini pada Roby.
"Iya. Beliau cucu guruku dulu. Hapus saja, Tuan," pinta Roby sedikit memaksa.
"Oke, oke. Aku hapus, padahal bagus, loh," pungkas Biantara. Tak lama, obrolan mereka berakhir setelah Bian mengutarakan rencana lanjutan dengan Chris pada asisten Brandon.
Roby menarik nafas lega, satu foto lolos terkirim ke email sang pimpinan akibat kurang teliti. Baru saja, dia hendak menekan tombol starter, notifikasi email berbunyi.
["Om, yang ini cakep. Aku edit kasar dulu sebab masih di mobil, kalau di sandingkan dengan mbak Tia, pose bertolak belakang, wuih, bisa jadi contoh prewed syar'i"] Tulis Mifyaz di email yang dia kirim.
Roby melihat tampilan, memperbesar gambar di sana. "Astaghfirullah. Jangan ngarep, By. Dia ketinggian," gumam Roby, cemas akan hatinya.
Sementara di kabin mobil lain yang mulai memasuki tol Jagorawi. Mifyaz menangkap Fathia tengah mengirim pesan, terlihat dari chat bar seseorang yang akrab dengannya.
"Hayo, minta apaaan ke bang Shan? mau ngepoin Roby ya? ciye ciye, bang Sam pupus nih?" goda Mifyaz mengintip dari belakang jok Fathia yang duduk di depannya.
"Yaaz, mulai deh kepo," protes Fathia menutup layar ponselnya.
"Aku juga bisa cari informasi tentang Roby. Sekejap mata malah. Bang Abrisam, baru aja dapat reward pemerintah loh, Mbak. Gak naksir nih, beneran? Buya kan udah nawarin juga," goda Mifyaz lagi.
"Abrisam fawwaz, silau banget aku sama dia. Tampang bule turki, hafiz, jenius macam Shan dan arsitek berbakat kayak keluarga besarnya. Nyambung sih sama dia, tapi Sam itu, ketinggian buat aku. Dan kata Shan, sepupunya gak ada niatan nikah muda. Pesan umma, cari suami idaman sekaligus nyaman," tutur Fathia panjang.
"Jadi gimana?" desak Mifyaz lagi.
"Kata Buya, aku diminta lapor beliau, jika ada pria yang menurutku cocok. Nanti abuya langsung minta dia buat aku," jujur Fathia.
"Luar biasa. Saking apanya ya, sampai buya Abyan bingung milihin yang sesuai selera anaknya," kekeh Mifyaz.
"Kan wanita juga boleh memilih siapa yang akan jadi imamnya, jika di rasa ada pria saleh. Bukan hanya pria yang bisa mengajukan diri. Nah, buya cari aman mungkin," ungkap Fathia.
Keduanya lalu membahas lokasi tadi, susunan draft kerjasama dan hal lain. Saat telah mencapai Cibubur, mereka mampir ke kediaman Shan dan Maira, Mifyaz mengirimkan hasil editan sementara ke ponsel Fathia sebelum dia turun.
Ting. Notif masuk ke ponsel Fathia.
"Ayaaaaaaazzz!!!!!!!!!!" teriak Fathia, kesal dengan ulah usilnya itu. Sementara Mifyaz berlari masuk ke rumah sang kakak.
"Tia, berisik! kenapa sih?" tegur Maira, saat menyambut sepupunya yang baru turun dari mobil.
.
.
...__________________...
...Bablas lagi 1600+ kata. Mommy gak sempat penggal bab, nulis sambil otw mudik. Selamat lebaran ya kesayangan 🥰...
__ADS_1