BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 74. KELAKUAN MANIS


__ADS_3

Terdengar suara Roby menyebut mahar juga hadiah pernikahan bagi Fathia. Riuh para wanita pun mengundang perhatian Malya.


"Kusuma seru ya, Den Arya," kata Malya melihat keakraban dan kekompakan mereka.


"Semenjak Naya dan Mahen menikah, mereka lah yang menyatukan keluarga besar, di susul Amir dan Aiswa, membawa banyak sahabat, juga kisah percintaan hingga mereka semua mendapat jodoh dengan sesama kawan dan beginilah Kusuma saat ini. Berkat Ermita, Kusuma merambah dunia asing lainnya. Jadi makin luas, Alhamdulillah," tutur Danarhadi menjelaskan asal usul Kusuma pada Malya.


Bunda Meeza mengangguk. Bian tak beranjak selagi Malya masih menetap di samping Danarhadi. Lelaki itu enggan meninggalkan wanitanya. Bian pun hanya duduk, tak jauh dari tempat mereka berdua.


"Dia sudah bucin ternyata ya, Nduk. Anakmu usia berapa tahun?" sambung Danarhadi, melihat Bian meminta Camai untuk mengambilkan semua menu dan menata di meja private untuk Malya.


"Masa sih? biasa aja kok dia ... mau enam, Den Arya. Lima tahun lebih lah," jawab Malya menunjukkan foto Meeza.


"Iya, dia mentingin kebutuhan kamu, lihat saja ... kayak ayahnya ya, keliatan pendiam tapi tegas. Wajah kamu kental di sana. Siapa namanya?" sambung Danarhadi.


"Meeza, Meeza sandya," balas sang bunda.


"Cahaya bulan seperempat, dari bahasa sansekerta ya? uyut doain, suami Meeza seperti keinginannya, panjang umur dan jodoh, rezeki juga bakti pada orang tuanya seperti para keturunan Kusuma, alus wujud, rupa sampai hati, aamiin," ucap Danarhadi. Dia lalu memanggil Abah, untuk membantunya melihat cicit pengantin.


Setelah kepergian Danarhadi, Malya mendekati Camai di meja, menyantap berbagai makanan tersaji untuknya. Lelaki yang mengamati Malya pun tersenyum dari kejauhan, wanitanya selalu menghargai apa nan dia perbuat.


Menjelang pukul sepuluh malam, rombongan keluarga Roby pamit kembali ke hotel. Bian sejenak berbincang dengan sang asisten sebelum mereka bubar.


Saat baru tiba di hotel.


Malya lebih cepat sampai di hotel dibandingkan rombongan. Dia pun memesan jahe hangat di coffee shop serta tambahan air mineral untuk di antar ke kamar Bian. Bunda Meeza juga membeli soto kuah bening dari aplikasi makanan antar siap saji. Tahu bahwa Bian tak suka makanan bersantan kental. Malya juga memperhatikan mantan suaminya itu hanya menyentuh sedikit sajian menu di sana.


Nyonya Sya, menghampiri receptionis. "Malam Mbak ... bisa minta tolong?" tanya nyonya Sya.


"Malam Nyonya Syakia, silakan," jawab receptionis tersenyum manis.


"Aku pesan makanan dari luar by aplikasi, jika kena charge, bebankan ke tagihan kamarku ya. Lalu tolong nanti antarkan ke kamar 402, sekalian jahe hangat dari coffee shop. Aku sudah pesan di sana," ujar Malya, menitipkan pesan di frontline.


Petugas hotel pun mengangguk. Nyonya Sya mengucapkan terima kasih lalu menuju lift untuk naik ke kamarnya dengan Camai. Sekilas, dia melihat rombongan keluarga Roby dan Bian baru saja tiba di lobby.


Beberapa saat kemudian.


Malya hendak memejam setelah mengeringkan rambut panjangnya, ketika ponsel di atas meja berbunyi.


"Ya, Mas?"


"Sayang, makasih banyak. Tahu aja, aku gak makan di sana tadi," kata Bian dari panggilan, padahal kamar mereka bersebelahan.

__ADS_1


"Sudah habis? langsung tidur ya, jangan main game lagi. Kalau pegal, di minum obatnya. Aku tadi siapkan vitamin kamu juga dititipkan di bawah," ujar bunda Meeza.


"Iya, ada kok. Al, rasanya sangat dekat tapi susah dijangkau. Kamu ternyata nyiapin semua kebutuhan aku dari jauh," bisik Bian, seperti akan tidur.


"Sleep call, Mas? gih, bobok ... jadi begini pun bisa ya? gak usah balikan," kekeh Malya.


"Ish, dosa lama-lama, Al. Aku ngebet, kamu gak kasihan?" jujur Bian lagi membuat Malya tergelak di ujung sana.


"Mesum mulu. Tidur dulu, besok terbang pagi kan? aku masih di sini, mau jalan-jalan dulu sebentar sebelum pulang," balas bunda Meeza.


Biantara hanya membalas dengan gumaman, tak lama, deru nafasnya lembut terdengar tanda dia mulai lelap.


"Love you Daddy Meeza, kangen kamu lagi padahal sebelahan dan baru saja ketemu," lirih Malya, menutup panggilan.


Biantara masih mendengar suara lembut mantan istrinya itu. Dia tersenyum sumringah, harus dengan cara seperti ini bila ingin mendengar kejujuran Malya.


...***...


Setelah resepsi Roby, Malya dan Bian kembali sibuk. Masa jabatan Bian akan berakhir akhir tahun nanti. Hingga tanpa terasa, awal bulan depan adalah waktunya penjemputan Meeza.


Malya kerap menangisi putrinya selama lima bulan terakhir sebab tak dapat melihat wajah bahkan suara Meeza. Pekerjaan pun sangat padat sehingga dia merasa lelah lahir batin.


Meski tinggal satu kota, keduanya jarang berkirim pesan atau melakukan panggilan jika tiada hubungan dengan Meeza. Pun hampir tak pernah bertemu kalau memang tidak kebetulan berpapasan.


"By!" seru Malya memanggil Roby kala melihat asisten Brandon berdiri di luar sebuah toko branded.


"Panjang umur. Tuh, ayang bebeb lagi milih sesuatu buat kamu," ujarnya.


"Apa? jam?" balas Malya, menoleh ke sebelah kirinya.


"Iya, couple. Kalian baru punya satu yang sepasang. Bang Bian mau beliin, ngumpulin buat hantaran katanya," jawab Roby, mengganti panggilan untuk tuan muda Cakra, setelah kedekatan mereka saat akan melamar Fathia.


Malya tak menanggapi. "Duluan ya, kerjaanku masih banyak. Dua pekan lagi mau ketemu Zaza. Semoga semua sudah selesai," sambung Malya bergegas pergi dari sana.


"Lekas jadi ayah yaaaaaa, By," goda sang mantan majikan untuk asisten Brandon.


Roby hanya menggeleng kepala, Malya makin intens menggoda. Dia tak berani bertanya pada Fathia sebab istrinya itu tengah sibuk mengerjakan tesis.


"Gak mau nanya, takut dia beban, Al. Jadi biarkan saja, se dikasih amanah oleh Allah," gumam Roby, menyadari waktu berjalan cepat hingga tanpa terasa usia pernikahannya telah berjalan lima bulan.


Biantara seakan mendengar suara tegas Malya, dia keluar toko sejenak lalu melihat Roby menunjuk ke arah kanan.

__ADS_1


"Al! Sayang!" teriak Bian mengundang perhatian pengunjung. Malya menoleh tapi hanya melambaikan tangan pada mantan suaminya dari elevator turun.


"Jahatnya. Aku nahan rindu malah Roby yang ketemu." Bian menggerutu sebab Roby memiliki kesempatan menyapa Malya.


Tak lama, suara announcement mall bergema.


"Mohon perhatian untuk para pengunjung. Sebuah salam untuk seseorang di lantai tiga ... kangen kamu juga, Sayang. Tapi aku sungguh tergesa. Jaga kesehatan ya, dad."


"Udududu, pernyataan rindu dari wanita cantik berhijab caramel, di tujukan khusus bagi sang pujaan hati ... kami persembahkan satu lagu manis bagi keduanya, Dewa 19, takkan ada cinta yang lain."


Lantunan lagu kasmaran pun mulai terdengar.


Bian mendengar pernyataan mesra itu bagai di tujukan untuknya lewat pengeras suara. Dia menyandarkan lengan pada pagar pembatas dan melihat ke bawah. Nampak mantan istrinya menengadah ke atas, melambaikan tangan padanya.


Bian tersenyum cerah. "Love you, Malya!" teriaknya dari lantai tiga.


Roby menjauh, dia merasa malu mendapat perhatian pengunjung. Mereka kini tahu, sosok pria yang di sebut oleh petugas informasi tadi. Bian mendapat tepukan tangan dari para penjaga toko di sekitarnya.


"Ya ampun," Roby memilih masuk toko, menghindari tatapan aneh pengunjung.


Sementara di lantai dasar, Malya tersenyum sumringah sepanjang langkah keluar Mall, hingga sudah di dalam mobil dengan Camai, gurat bahagia itu tak surut.


"Non, ciye. Kapan halal?"


"Kalau Meeza pulang. Aku ingin Meeza melihat dan mendengar janji dari ayahnya, untukku," teguh Malya.


...***...


Setelah keluar dari Mall. Roby meminta izin pulang cepat sebab Fathia di rumah sakit di temani oleh Maira.


"Bang, duluan ya. Aku langsung ke rumah sakit, Fathia di IGD, maag nya kambuh kayaknya sebab ngejar lulus tahun ini jadi suka telat makan," kata Roby tergesa.


"Pergilah, ada Chris sedang ke sini. Hati-hati, By," jawab Bian, menunggu di salah satu resto sambil menanti kedatangan seseorang.


Tak lama, sahabat lama Bian pun tiba. Daddy Meeza itu langsung memberondong pria yang baru saja duduk dengan banyak permintaan.


"Pokoknya bini gue cuti sebulan. Lu atur lah, gue mau honeymoon, biar pulang udah punya tabungan bayi," pinta Bian, sedikit memaksa.


"Lagak lu, tabungan bayi. Kayak udah pasti kawin aja. Emang kantor nenek Beatrice! sak karepmu," sungut sang pria tak kalah mendengus kesal akibat permintaan Bian.


.

__ADS_1


.


...___________________...


__ADS_2