BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 80. SURPRISE


__ADS_3

Malya menyiapkan setelan untuk suaminya di atas tempat tidur lalu dia mencari kedua orangtuanya.


Malya masuk ke kamar sang ayah, kala Mardiah masih wara wiri di lobby. Dia menyampaikan niatan Bian yang akan mengajak ke Eropa dan timur tengah malam nanti.


"Bian udah izin ke ayah jauh hari tentang itu semua. Dia tadinya mau ngajak kita juga tapi ayah menolak sebab belum fit betul. Kaki masih lambat jika digunakan berjalan. Duluan saja, Meeza di sini sama kita, paling nanti main ke Roby," ujar Haji Syakur, menepuk tumpuan tangan Malya agar dia tenang.


"Nanti nyusahin ayah dan ibu," ucap Malya cemas jika Meeza rewel.


"Ada maid kan tadi satu, ibumu senang punya mainan baru, Al. Sudah, pergilah. Bahagiakan dirimu kini," balas sang ayah, kali ini menepuk bahu dan mengusap lengan Malya.


Wanita ayu yang baru saja melepas masa lajang, mengangguk pelan. Dia lalu mencium tangan ayahnya dan pamit dari sana.


Mardiah, sedang memberi wejangan pada Bian di area pantry kala Malya keluar dari kamar mereka. Bahkan dia meminta Bian membawa kantong cooler ice agar diisi air hangat jika Malya kram perut saat hari pertama haid.


"Jangan lupa, di isi air hangat lalu taruh di pinggang dan perut agar kram hilang," pesan Mardiah untuk menantunya, dia bahkan memperagakan bagaimana cara meletakkan benda itu.


Bian mengangguk, akan tetapi apa yang Mardiah lakukan di hentikan oleh Malya. "Gak usah bawa beginian, ribet," ujar Malya mencebikkan bibir, malu jika aibnya didengar Bian. Dia berlalu masuk ke kamar.


"Jaga-jaga kan Al. Kamu kan belum--" sahut sang bunda. Mardiah mengingat kebiasaan putrinya kala haid.


"Suuuddaaah, baru aja bersih," seru Malya dari dalam kamar, lupa bahwa Bian mendengar ucapannya itu.


Daddy Meeza menundukkan kepala menyembunyikan senyumnya, kedua lengan yang bertumpu di atas meja pantry itu, ditepuk sang mertua.


Tatapan usil Mardiah seraya menaik turunkan alis pada Bian, ditanggapi kekehan pria dalam balutan busana sporty casual itu. Mardiah berharap cucunya akan bertambah dalam waktu dekat.


Bian pamit pada kedua mertuanya, dia masuk ke kamar dan mengecup pipi Meeza bergantian dengan Malya lalu menarik koper keduanya. Camai, membantu membawa milik Malya turun lebih dulu.


"Tas kamu, Sayang. Biar aku yang bawa," ujar Bian meraih tali tas pendek Malya untuk dia tenteng seraya menarik koper.


"Repot kan, Mas. Biar aku lah," pinta Malya meminta lagi tasnya kala memasuki lift.


"Gak usah, kan sekalian dorong. Tolong bawakan jaket aku aja," ujar Bian, menyerahkan jaket hitam miliknya.


Malya mendekap coat milik Bian dan beringsut menempel ke lengan kiri suaminya kala penghuni dari lantai lain bergabung dengan mereka di lift. Bahu tegap Bian, menjadi sasaran sandaran wanita ayu selama berdiri di sana.

__ADS_1


"Pengen buruan nyampe hotel," bisik Bian, sangat lirih membuat pipi Malya merona.


Malya tak menanggapi dengan ucapan, dia hanya mencubit kecil lengan suaminya itu seraya menyembunyikan senyuman.


Tak lama, pintu kotak besi membuka di lantai basement. Keduanya jalan beriringan menuju mobil yang akan membawa mereka ke suatu tempat.


"Bi, lama amat!" seru suara pria.


"Sorry Mik, Nyonya menggoda iman tadi. Menjinakkan little boy nya itu yang sulit," kekeh Bian, menyambut dan memeluk sahabat lama. Malya membola, dia menghentikan langkah di belakang Biantara


"Mak Mik Mak Mik! Maik, Michael!" protes Michael, membalas pelukan Bian. Dia adalah pimpinan Malya.


"P-paak Michael?" ucap Malya, terkejut sebab mereka saling kenal.


"Hai Nyonya Cakra. Happy honeymoon ya. Jangan ngamuk sama aku, ini rencana Bian saat kau tak bisa ke England untuk jemput Zaza," beber Michael dengan senyum terkembang.


Biantara menepuk berkali lengan sang sahabat, dia membongkar rahasia mereka. Entah Malya akan ngambek atau sebaliknya nanti.


Tatapan tajam Bian menusuk sang CEO retail fast food dimana Malya bekerja. "Apa? gantian lah, staff gue di amuk sama dia," tawa Michael seraya menghampiri Malya untuk memberikan izin cuti panjang sebagai hadiah pernikahan sebab dia adalah karyawan teladan.


"Hetdah! baju gue rusak Hoy!" Michael menepis tangan sahabatnya. Kedua pria ini bagai anak kecil tengah berebut sesuatu.


"Terima kasih, Pak. Ehm, maaf, aku tidak tahu jika ini bagian rencana kalian," ucap Malya menatap tajam Biantara yang bersembunyi di balik punggung Michael.


"Pak, Non, silakan. Nanti terlambat ke Bandara sebab kita akan ke satu tempat dahulu," ucap Camai, menjeda obrolan mereka. Menyelamatkan Bian dari serangan tajam Malya.


Mereka lalu berpisah setelah Malya banyak mengucapkan terima kasih pada sang pimpinan.


Sepanjang perjalanan, Malya memikirkan semua hal yang terjadi di hidupnya. Mulai dari saat keluar rumah, skincare di kamar, baju, semua keperluan pribadi, pembiayaan bulanan apartemen, bahkan pekerjaan yang mengizinkan dia melewati masa Iddah dengan benar. Malya menduga, Bian di balik semua ini meski Roby yang terlihat oleh pandangan.


"Sayang!" sebut Bian, merasa Malya akan meluapkan emosi.


"Sstt, diam!" balas bunda Meeza, mengangkat telunjuknya ke mulut Biantara.


Lelaki itu pasrah jika Malya mengamuk. Dia bahkan enggan di sentuh dan di dekati olehnya.

__ADS_1


Satu jam kemudian.


"Turun yuk, lihat sebentar sebelum pergi," ajak Bian, ragu menyentuh lengan istrinya.


Malya menoleh, menatap lembut ke arah wajah tampan yang kini terlihat tak bersemangat. Dia mendiamkan Bian selama perjalanan sebab isi otaknya sedang kilas balik.


Keduanya lalu turun, Bian perlahan menuntun langkah sang pujaan hati kala menapaki undakan tanah yang menurun.


"Ini belum di perbaiki, harusnya pakai batuan alami biar gak licin dan lebih lebar menghindari terpeleset," gumam Bian, merengkuh pinggang Malya kala dia kesulitan memijak tanah becek.


"Ini apa, Mas?" tanya Malya. Sorot matanya berbinar melihat hamparan rumput hijau, tanaman berbagai jenis bunga menyembul di sana sini.


Bian tak menjawab, dia fokus membuka gembok greenhouse. Lalu menarik lengan Malya masuk ke dalam.


Wow.


Tiada yang mampu melukiskan betapa dia bahagia. Binar mata bulat itu memancar indah bahkan tampak mengembun melihat pemandangan di depan mata.


"Hadiah pernikahan, untukmu, si pemilik nama Rangkaian Bunga," bisik Bian, merengkuh tubuh istrinya dari belakang.


"Maaf ya semuanya serba rahasia, aku akan jelaskan padamu tanpa kecuali, jangan marah ya, Sayang," pinta Bian, mengecup sekilas pipi istrinya.


Malya hanya diam, sibuk mengagumi karya indah yang Bian berikan untuknya. Lelaki itu lalu mendorong langkah Malya, tak melepas pelukan hingga mereka menyentuh bagian belakang greenhouse.


"Aku buat mirip dengan di Mansion, dan tadaaaaa," imbuh Bian, membuka pintu belakang greenhouse. Terhampar lautan bunga kesukaan Malya, Krisan warna warni, rose juga lainnya. Bagai karpet hidup memanjakan mata.


Malya berbalik badan, memeluk Bian, dia terlalu bahagia. "Syukron, Mas."


"Afwan, Sayang. Love you, Al. Jangan pergi lagi," bisik Bian, memeluk wanitanya, menghujani dengan kecupan basah. Netranya mulai mengembun, dia berhasil membawa cintanya kembali.


.


.


..._____________________...

__ADS_1


...Selesai 🥰...


__ADS_2