
Malya masih terngiang ucapan Meeza tentang Beatrice yang bakal membawanya ke Inggris dalam waktu dekat. Biarpun Biantara mengatakan bahwa dia berusaha mencegah hal itu, akan tetapi hati Malya tak yakin usaha ayah Meeza membuahkan hasil.
"Nyonya!" seru suara seseorang, saat Malya baru saja memasuki lobby apart.
Malya menoleh, kakinya telah terasa pegal sebab melakukan dua presentasi hari ini. Di depan Herawati juga Michael untuk mewakili divisinya dalam meeting internal.
"Ya? sudah ku bilang, panggil Malya saja," sahut Malya setelah tahu pemilik suara yang memanggilnya.
"Bisa bicara sebentar gak? ke sana," tunjuk Robby ke salah satu cafe penjaja minuman coffee di lantai dasar.
"Ehm, cari tempat yang ramai dan terbuka," kata Malya kemudian.
"Di luar saja, ada meja kosong. Bagaimana?" desak Robby lagi.
Ingin menolak tapi melihat wajah berharap pemuda tampan di depannya, rasa hati tak tega. Dia takkan meminta bicara jika tiada urusan mendesak, pikir Malya.
"Ya sudah, ayo," sahut bunda Meeza.
"Yang ikhlas, biar saya enteng menyita waktu bunda Meeza," ucapnya sambil melangkah mendahului.
Malya tersenyum, ada saja celotehan yang membuatnya terhibur. "Ikhlas kok," balas Malya.
Keduanya duduk setelah memesan minuman dingin sebagai upah nongkrong sesaat di cafe ini.
"Al, boleh aku panggil begitu?" tanya Roby.
"Sure, boleh. Asal jangan Mama," kekeh Malya seraya mengeluarkan tisu basah untuk menyeka tangannya.
"Bunda saja, biar sama dengan panggilan Zaza," sambung Roby, melempar sebuah kode.
Keduanya tersenyum, membuat atmosfir menjadi sedikit canggung.
"Ada apa ya, Pak Roby?" tanya Malya kemudian.
"Roby saja, kan aku diminta panggil nama tadi, informal kan?" ujarnya. "Aku tadi nyiapin semua keperluan nyonya besar untuk ke Inggris. Chris juga di tugaskan mengurus dokumen Zaza. Kau sudah tahu? kemungkinan Zaza bakal di ajak ke England," tutur Roby, bertepatan dengan waiter yang mengantar minuman mereka.
__ADS_1
Malya menyesap espresso dingin kesukaannya, berharap kopi pahit dapat mewakili rasa hati sehingga ketika tiba di rumah nanti, dia merasa sedikit lega.
"Tahu dari Meeza. Kapan beliau berangkat? aku entahlah, akan sanggup atau tidak bila jauh dari anakku. Apa keputusanku ini salah?" tunduk Malya, dia mulai murung.
"Bulan depan. Rencana pengobatan satu tahun. Al, jangan cemas. Banyak akses yang akan aku temukan untukmu. Meeza memang di siapkan untuk menjadi penerus, beginilah cara kaum borjuis mempertahankan takhta," ungkap Roby.
"Aku tahu, Meeza memang di tempa untuk itu. Tapi sebagai ibu, tetua seakan ingin membuatku menyesali keputusan ini," keluh Malya.
"Selalu ada dua sisi dalam setiap keputusan. Tapi bagusnya, kamu bisa fokus mengejar karir, Al. Mendapat tunjangan tambahan agar dapat sesering mungkin mengunjungi Zaza. Aku tahu, semua bakal berat di lalui, tapi percayalah, anak itu juga melakukan hal yang sama," ucap Roby berusaha menyemangati.
"Gitu ya," cicit Malya, tak lagi bernafsu melanjutkan obrolan.
"Targetkan dalam enam bulan kau harus dapat promosi, satu tahun ke depan pegang jabatan baru. Tahun berikutnya, pindah lah ke perusahaan di atas ini. Aku sudah memberikan gambaran, semoga bisa kamu pelajari nanti," imbuh sang asisten, menyodorkan sebuah modul ke atas meja.
Malya meraih catatan yang Roby buat untuknya. Dia tak habis pikir, darimana dia tahu semua seluk beluk perusahaan tempatnya bekerja.
"Pak Roby, tau ini darimana?" tanya Malya takjub.
"Roby, Al. Jika hanya kita," pinta sang pemuda tampan.
"Anda juga majikan ku jika begitu, Nyonya," lanjut asisten Brandon.
"Sungguh risih dipanggil nyonya, apalagi jika informal seperti ini ... ehm, boleh aku pinjam ini?" kata Malya, dia bersiap bangun.
Roby hanya mengangguk, dia lalu membiarkan Malya bangkit lebih dulu, wanita itu telihat lelah.
"Kamu bisa kok, Al. Kecerdasan anak itu menurun dari bundanya, kalian sama hebat," pungka Roby, ikut bangkit menghormati sang nyonya muda.
Tak ada tanggapan dari wanita ayu yang melangkah gontai. Roby memperhatikan sosoknya dari kejauhan.
"Sabar ya, Al. Aku tahu ini berat untukmu," gumam Roby, tak lama menyusul menuju lift untuk naik ke unitnya.
...***...
Rencana kepergian Beatrice ke Inggris terdengar hingga ke telinga Andreas dan Anne. Keduanya membicarakan hal ini di ruang kerja putra mahkota Anthony dan sepakat akan menampung sang tetua Cakra di kastil Valencia.
__ADS_1
"Agar dapat mengontrol mama, baiknya nenekmu tinggal di sini. Biarkan aku berbakti pada ibuku meski dia pernah berpaling wajah dari anaknya," ujar Anne.
"Sekaligus agar aku leluasa mengatur skandal agar perusahaan Cakra kolaps. ketika terjadi pergolakan saham, saat itulah aku akan mengakuisisinya. Pukulan telak bagi Beatrice," tutur Andreas lagi.
"Jangan terlalu kejam, kau hanya ingin di lihat oleh nenek bukan? bagaimana dengan Maria. Mami rasa, baiknya kalian menikah. Sudahi bermain dengan Bian, dia tidak lagi memilki rasa dengan Maria. Bukan begitu?" Anne mengungkapkan saran untuk putra sulungnya.
"Ehm, setelah Beatrice tahu siapa Malya dan Maria. Aku gak bisa bayangkan yang dia tuduh sebagai selingkuhan ternyata cucu menantunya dulu. Lilis mengatakan kepergian kakek berdampak besar untuk nenek, sehingga spekulasi tuduhan itu menguak," kata Andreas terkekeh, mendapat informasi dari orang terdekat Beatrice.
"Ibu memang terlalu egois. Bahkan Briandana harus rela kehilangan wanita yang dia cintai. Bedanya dia menurut dan aku tidak. Ah, sudahlah, aku akan menerima, bagaimanapun dia mamaku. Tugas mami hanya menahan Beatrice tak kembali dalam waktu dekat kan?" ujar Anne lagi, bangkit meninggalkan ruang kerja putranya.
"Thanks mom," balas Andreas.
"Ingat, dia nenekmu. Bian sepupumu, dan Maria, cintamu. Raih salah satunya dan bahagialah, Andre," pesan Anne saat mencapai ambang pintu.
Pimpinan Valent Group hanya diam kala bundanya berpesan harus tetap welas asih dengan keluarga. Anne mengatakan dirinya salah, meski tak menyesali keputusan di masa lampau yang ia perbuat.
Namun, didikan sang ayah yang mengatakan harus membalas kesedihan Anne, selalu bercokol di dalam dada Andreas.
Panggilan cucu murtad kala tinggal di Indonesia membuat dia membenci Beatrice sebab tak merestui hubungan kedua orangtuanya. Hingga membuat Anne meninggalkan keyakinan semula.
"Nenek, apa kau masih ingat? cucu murtad ini telah sukses dan kau masih enggan mengakui bahwa aku bagian dari Cakrawala. Hati mami begitu lembut, tapi aku tidak," gumam Andreas melihat foto keluarganya yang terpigura cantik di sudut meja.
Tiba-tiba. Kriing.
"Ya, Maria? ada apa?" tanya pimpinan perusahaan tambang itu.
"Aku mulai pedekate dengan Meeza, bagaimana jika ketahuan Beatrice?" cemasnya kembali hadir.
"Kamu punya waktu dua bulan sampai anak itu pergi. Rebut hatinya agar dia luluh denganmu. Jika Beatrice enggan tunduk, kita punya stok pewaris yang akan bertekuk lutut di bawah Valent Group. Cakrawala akan terhapus," titah pria dengan kekuasaan tak terbatas.
.
.
...___________________...
__ADS_1