
Malya memilih menutup matanya membuat Meeza sigap menghapus jejak sedih dan kesakitan dari wajah sang bunda.
"Bulan, hati-hati kena infus Bunda. Kamu sudah makan?" tanya Bian pada putrinya sebab melihat Meeza tidak memakai piyama tidur.
"Iya, aku tahu, Dad. Aku sudah makan, tadi suapin Bunda juga setelah subuh, lalu mandi dan ganti baju sendiri. Kata Bunda, gak boleh ada yang pegang Zaza lagi meskipun itu wanita," jawab Meeza.
Biantara mengangguk setuju atas ucapan Meeza. Anaknya dididik sedini mungkin mandiri oleh Malya setiap saat dia punya kesempatan memberikan contoh dan nasihat.
Malya teringat Bian masih menggunakan setelan kerja. Dia membuka mata kembali lalu menoleh ke arah mantan suami yang masih setia duduk di sisi brangkar.
"Mas!" sebut Malya kala Bian hendak menyentuh lengan kanan yang di balut perban tebal.
"Ya? butuh apa, Al?" tanya Bian siaga.
"Enggak. Ganti baju dulu, istirahat. Nanti jika sakitnya mereda, aku ingin bicara," lirih Malya, tidak memandang Bian, dia hanya melihat lengannya.
Pewaris Cakra mengulas senyum, Malya masih peduli padanya, dia lalu mengangguk. Tak di pungkiri fisiknya juga lelah.
Waktu Zuhur masih tiga jam lagi, Bian kini sudah berbaring dengan Meeza yang juga ikut bergelung dalam pelukan Daddynya.
"Bobok yuk, Za. Daddy ngantuk banget, Bunda juga kayaknya bentar lagi tidur sebab efek obat sudah bekerja," ucap Bian, memeluk Meeza erat.
"Ehm. Zaza ngantuk juga, nemenin Bunda sambil main semalaman. Mbak Sari malah bobok melulu," keluh gadis ayu.
Malya masih mendengar semua percakapan antara ayah dan anak meski kantuk mulai intens menyergap, bibirnya mengulas senyum samar sebab tak mengira mendapatkan momen manis meski di situasi yang kurang tepat.
"Daddy pengen peluk Bunda, Za," gumam Bian menyandarkan kepala di tengkuk Meeza. Tak lama, pria itu memejam.
Putri Mardiah, menoleh ke arah kanannya, pria yang dulu berlaku kasar itu seakan tiada tersisa dalam raga Biantara. Tubuh tegap Bian terlihat lelah, wajah pun tak terawat seperti dulu.
"Dulu, kamu sangat rapi. Anti banget pakai kemeja kusut meski sedikit, kalau aku gak siapkan segala aksesoris senada, kamu pasti ngamuk di pagi hari. Semua harus terlihat sempurna. Sekarang apa hal itu sudah berubah?" kenang Malya.
Meski Bian acap kali mengatakan tak mengizinkan Malya menyentuh barangnya akan tetapi tetap saja pria itu perlahan ketergantungan pada si istri pendiam.
Malya beringsut berusaha memiringkan tubuhnya menghadap mereka, pemandangan ini dia damba sejak dulu. Kedekatan Bian dengan Meeza dimulai kala gugatan pisah itu mencuat. Dan kini, keduanya bagai lem, lengket satu sama lain.
Beberapa jam kemudian.
Suara denting pinggan membuat Bian terjaga. Suster meletakkan menu untuk Beatrice dan Malya. Juga Sari terlihat menata meja dengan beberapa pilihan hidangan untuknya dan Meeza.
__ADS_1
Bian menoleh ke arah dua brangkar di sisi kirinya. Beatrice sudah mulai makan siang di bantu maid, sementara Malya masih terpejam dengan posisi menghadap mereka.
Cucu pewaris Cakra, urung bangkit. Dia memilih menikmati sejenak wajah ayu yang lama dirindukan.
"Bening banget ya Allah. Mataku kemana aja, dia setenang itu kalau sedang tidur. Za, daddy kangen Bunda kamu," bisik Bian gemas, menciumi Meeza sebab tak dapat menyalurkan keinginan memeluk Malya hingga putrinya jadi sasaran.
Suara Sari yang menyajikan jus sehat untuk Beatrice membuat Malya terjaga. Tatapannya langsung bersirobok dengan Bian kala kelopak mata itu terbuka pertama kali.
"Love you, Sayang," lirih Bian mengucap kata cinta tanpa suara. Senyumnya hadir untuk pujaan hati.
Blush. Malya merona, pandangannya terkunci oleh pesona mantan.
Bibir tipisnya mengulas senyum sekilas sebelum dia menelentangkan kembali tubuhnya.
"Mbak, bantu aku pakai mukena. Sudah Zuhur kan?" tanya Malya pada Sari yang sibuk hilir mudik.
"Baru selesai azan, Non, kalau dari handphone saya," jawab Sari seraya mengambil mukena Malya.
"Bareng, Al, dengan nenek juga," kata Bian bangkit menuju bathroom untuk wudhu.
Entah mengapa, air mata Malya menetes manakala Bian mulai takbiratul ihram. Ini adalah pertama kalinya dia melihat keluarga Cakra beribadah bersama.
Setelah perut terisi, Beatrice meminta Sari dan suster membantunya, mengajak Meeza serta agar menghirup udara luar sejenak. Mengerti jika mereka membutuhkan ruang untuk bicara.
Selepas kepergian tetua, terjadi kecanggungan di antara keduanya. Ini kali pertama mereka terlibat obrolan serius tanpa melibatkan kebencian.
"Al, bisakah aku mendapat kesempatan kedua?" tanya Bian memulai pembicaraan serius.
"Tergantung," jawab Malya singkat.
"Aku harus bagaimana?" desak Bian, wajahnya gelisah dengan alis yang hampir bertaut. Dia seakan melukiskan banyak harapan.
"Apakah dapat menerimaku tanpa menuntut apapun. Bukan hanya aku, tapi semua. Aku bukan dari kalangan yang sama, Mas," balas Malya, dia masih meragukan Beatrice dalam hal ini.
"Al, please. Kan aku tidak melihat itu sejak awal. Ya memang salah sebab tak mendengar dari sisimu apapun alasan aku tetap keliru," sahut Bian bersikukuh.
Malya menjeda, dia menoleh sekilas ke arah Biantara. "Juga, apakah ini murni keinginanmu atau hanya sekedar agar Meeza memiliki keluarga yang utuh," sambung Malya lagi.
"Kau meragukanku?" sahut Bian.
__ADS_1
Malya tak menjawab, dia malah meminta sesuatu. "Mas tolong buka pesan dari ayah di ponsel aku. Baca kalimat beliau tapi tanpa emosi, bisakah?" ucap Malya memberikan petunjuk.
Daddy Meeza meraih gawai dari atas meja nakas lalu mencari chat mantan mertuanya di aplikasi pesan.
Bian membaca barisan kalimat di sana. Netranya memicing terheran sekaligus terkejut bahwa dugaannya benar.
"Al, aku kan sudah duluan memintamu ke beliau, i-ini," kata Bian setelah membaca sebuah lamaran tertulis di ponsel Malya.
"Itulah, ayah meminta kepastian darimu segera dan aku," sahut Malya, pandangannya memendar ke atas ceiling ruangan. Dia masih belum siap kembali.
"Sekarang pun bisa jika kau bersedia, atau mendatangkan beliau ke sini untuk menjadi wali nikah kamu juga aku mampu sebab serius, Al," tutur Bian, tak ingin Malya mengabaikan ajakannya.
"Entahlah, aku belum memutuskan. Ada ketakutan tersendiri kala memasuki rumah yang sama. Akankah yang lalu akan berulang dan pada akhirnya aku mengambil keputusan berpisah kedua kalinya. Di sisi lain, kegagalan ini juga menghantui langkahku. Bayangan kamu, hubungan kita tidak akan pernah berakhir sebab ada Meeza. Aku takut melukai perasaan suamiku nanti," ungkap Malya atas kebimbangannya.
Bian mengerti. Keputusan apapun yang akan di ambil mempunyai risiko masing-masing. Namun, apakah Malya tak melihat usahanya? ataukah dia kurang gigih berjuang? pikir Biantara.
"Aku harus bagaimana?" tanya sang pemilik Cakrawala, mengulang kalimat yang sama.
"Menunggu tapi entah sampai kapan. Jika kau kuatir, maka jatuh hukum wajib bagimu untuk segera menikah dengan wanita lain, Mas," ucap Malya, memejam seakan menahan ketidakrelaan.
"Istriku hanya satu, kamu! aku akan menunggu, in sya Allah sabar," kata Bian. Tak dia kira, pernyataannya barusan membuat senyum manis Malya terbit.
"Syukron, Mas. Aku akan menjawab pesan ayah," kata Malya masih mengulas senyuman.
"Ma-maksudnya?"
Malya tak menjawab apapun lagi, dia hanya berulang kali memuji kekasih Allah dan beristighfar tiada henti.
...***...
Seorang wanita, menyelinap keluar kastil saat hari baru saja berganti gelap. Maria, pergi tanpa sepengetahuan Anne ke Indonesia untuk menghindari tuntutan Biantara juga mencegah amukan Andreas.
Dia lalu menghubungi seseorang, satu-satunya tempat meminta pertolongan. "Paman, tolong aku," kata Maria saat dalam perjalanan menuju Bandara.
.
.
...______________________...
__ADS_1