BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 11. PETAKA BARU


__ADS_3

Sejenak Malya tertegun mendengar untaian kata yang keluar dari mulut sang sepupu Biantara. Tanpa sadar, dia memandang lekat, kata hati mengatakan bahwa suara tadi sangat familiar.


"Ada yang salah denganku?" kata sang sepupu.


"Eh, tidak. Maaf. Aku permisi," jawab Malya lagi, dia membungkukkan badan lalu berbalik pergi.


"Setahuku kekasih Biantara wanita yang akrab dengan keramahan. Ini Maria yang sama kan?" tanya pria tampan disamping Bian.


Brandon dan Biantara hanya diam. Mereka sengaja tak ingin memancing spekulasi terhadap perkataan kerabat Beatrice ini. Wanita sepuh pun mengambil alih alur obrolan tepat setelah Malya menjauh.


"Orang yang sama meski dia seolah berubah. Sepenggal kepribadian mungkin terasa bertolak belakang akan tetapi dia tetap cucu menantuku," ujar Beatrice, seraya menyesap kopi susu yang di sajikan.


Keakraban antar kerabat jauh berlangsung hampir menjelang tengah malam. Malya masih terjaga kala suara derap langkah mulai memasuki kamar. Dia fokus memikirkan sepupu Bian, mungkinkah pria misterius yang sama.


Hidup dalam satu ruang dengan pria acuh membuat Malya sedikit peka. Dia melatih ketajaman indera pendengaran meski mata bulatnya tak melihat apa yang dilakukan Bian. Wanita dalam balutan selimut ini tahu, apa saja rutinitas malam sang suami di atas kertasnya itu.


...***...


Hari berganti Minggu dan bulan.


Tiada perubahan berarti dalam hidup Malya selain Bian yang kian berani meminta haknya secara rutin.


Petang ini, tubuh putri Haji Syakur menggigil hebat. Dia mengeluh pusing sejak siang tadi dan memilih tidak lagi menampakkan diri meski Beatrice berkali memanggilnya.


"Nona sedang sakit, Nyonya. Badannya panas sekali," suara Sari, mencegah Nyonya besar masuk.


Malya mendengar samar percakapan antara maidnya dengan seseorang di balik pintu. Namun, suara melengking Beatrice mengomel kala mengetahui Malya tidur di sofa, kian mendekati.


"Bangun! sudah tahu sakit tapi malah tiduran di sofa," omel sepuh Cakra, menepuk panggul cucu menantunya.


Malya terjengit kaget. "Aku tidak tidur, Nyonya. Hanya memejamkan mata sejenak," elak wanita ayu seraya membetulkan hijab yang tersingkap.


Nenek tua itu tidak mau tahu. Dia tengah menyiapkan misi agar segera hadir seorang cicit sehingga memaksa Malya bangkit. Istri Biantara tak dapat lagi mengelak, kepalanya kian berdenyut hebat mendengar ocehan Beatrice yang tiada kunjung usai.


Sari mendekat, membantu sang majikan wanita agar pindah sementara ke tempat tidur Bian. Namun, baru beberapa langkah.


Tiba-tiba. Bruk. Malya jatuh, tubuhnya terkulai di lantai.

__ADS_1


"Nona!" seru Sari langsung menyanggah tubuh Malya.


Beatrice ikut panik, dia meminta Lilis memanggilkan dokter segera. Brandon pun tergopoh memasuki kamar. Dia tak kalah cemas mengetahui cucu mantu kesayangannya lunglai di atas ranjang.


"Kau keterlaluan. Biarkan saja dia melakukan apa yang di suka, kenapa sih susah sekali bersikap baik padanya? Maria juga butuh udara bebas. Bian selalu pergi sendiri, jangan jadikan Maria bagai budak se-ks semata," cecar Brandon pada istrinya.


"A-aku tid--" elak Beatrice tak ingin disalahkan.


"Mulai besok, jangan lagi usik Maria. Beri dia keleluasaan. Bahkan maid saja masih bisa menikmati udara luar Mansion," tegas sang sesepuh, Brandon lalu memilih keluar kamar setelah dokter tiba.


Beberapa saat kemudian.


Kabar bahagia menjalari setiap sudut bangunan megah bergaya arsitektur Eropa Renaissance. Beatrice bagai ketiban bulan malam itu, senyum tersungging tiada surut di bibir tipis nan mulai mengeriput.


Keceriaan sang Nenek ditangkap oleh Bian yang baru saja tiba. Wanita tua itu mengatakan bahwa cucunya memang perkasa.


"Apa maksudnya?" tanya Bian heran, masih lambat mencerna.


"Nona Maria, mengandung tiga minggu, Tuan muda," jawab Sari mewakili sang Nyonya yang antusias mengangguk.


Brak.


"Katakan bahwa itu salah, lekas!" bentak pewaris Cakra saat Malya baru saja turun dari ranjangnya.


Wanita ayu nan terlihat pucat akibat pusing dan demam masih mendera, hanya diam, dia merasa tidak memiliki tenaga untuk berdebat malam ini.


Biantara Cakra, bergegas menghampiri Malya. Mencekal kedua lengan dan mengguncang tubuh kuyu itu dengan hebat.


"Katakan! kau sengaja kan!! sudah ku bilang, minum obatnya, apa kau tuli!!"


"Le-lepas. Sa-kitt." Suara Malya tercekat, lemah dan lirih.


Cucu menantu Beatrice hanya mengaduh kala Bian kembali mendorong badan Malya hingga terjatuh di atas ranjang.


"Oh, aku tahu. Sekarang kau baru sadar ya, suamimu istimewa, kamu ketagihan? tak ingin pergi dariku bukan? oke, aku ikuti maumu," tuduh Bian lagi.


Pria keturunan Cakra yang merasa memiliki keperkasaan kembali membuktikan diri, meminta hak dari wanita yang dia sebut istri meski hanya sebatas status di catatan sipil.

__ADS_1


Malya pasrah, bulir bening jatuh berkubik dari ujung netra. Setiap meminta, dia akan berlaku kasar meski perlahan melembut menjelang akhir ibadah halal mereka.


"Kita pisah kamar saja," ujar Bian setelah hajatnya terpenuhi.


Wanita di bawah selimut yang tengah memunggungi hanya diam, lelehan lava bening itu tak lagi terasa, keluar dengan sendirinya menjebol pertahanan diri. Sudah tiada isakan, batin Malya terlampau nyeri.


"Cengeng. Dikit-dikit nangis! Maria meski di cemooh dia tetap cuek, tak sepertimu cuma bisa mewek," cibir Bian meninggalkan Malya di sana.


Hampir tengah malam, Biantara kembali masuk ke kamar. Dia tahu, Malya belum tidur. Entah hanya perasaan dia saja atau memang demikian. Bian kerap merasa bahwa Malya akan terlelap jika dirinya telah masuk ke kamar.


"Pakai kamar sebelah. Ini kuncinya. Semua bajumu akan di pindahkan besok," ujar Bian.


Bunyi nyaring benda jatuh yang membentur permukaan meja membuat Malya bangun dan duduk. Tanpa banyak kata, dia bangkit sebab telah membereskan pakaian miliknya selepas Bian pergi tadi, langsung menarik koper besar itu perlahan keluar dari sana.


Diam, sebab bicara pun percuma. Tidak ada yang mendengar suara seorang wanita yang dianggap penipu ini.


Badannya kian terasa ngilu, susah payah Malya menarik koper melewati permukaan karpet. Butir keringat dingin muncul di dahi tak membuat seorang Biantara luluh, dia hanya berdiri angkuh di sana.


Pintu kamar mewah milik pewaris Cakra kini menutup rapat. Malya bertekad tidak akan masuk ke dalamnya lagi jika bukan situasi genting.


Langkah tertatih juga tangan yang bergetar sebab rasa menggigil kembali mendera, membuat Malya kesulitan memasukkan lempeng besi ke lubang kunci.


"Alhamdulillah ... hai, assalamualaikum kamar baruku. Semoga kita bisa merajut kenangan manis di sini. Merakit diam-diam asa untukku, meski masih berteman sunyi," gumam Malya saat pintu bercat putih itu terbuka.


Hanya ada satu single bed dan lemari berukuran sedang di sana. Ruangan ini terasa lega bagi hati dan jiwa miliknya yang sempit.


Malya berdiri di sisi jendela, melihat kemana arah pandang kamar ini, berharap keindahan yang dia lihat dapat sedikit mengaburkan pengap.


"Sehat ya Nak. Ada ibu, yang akan menjagamu. Suka atau tidak, inilah kita. Kelak jika engkau telah dewasa nanti, tidak menyesal telah lahir dari rahimku. Maaf ya, maaf," lirih Malya, mengusap bagian tubuhnya yang masih datar seiring laju butir transparan nan menetes.


Wajah ayu pun kian kusam, sebab terdapat banyak jejak kesedihan yang tiada sanggup dia seka.


.


.


...____________________...

__ADS_1


__ADS_2