BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 24. NEW DAY


__ADS_3

Satu pekan berlalu begitu saja. Malya masih sibuk memasukkan lamaran ke berbagai perusahaan, sesuai dengan bidang yang dia kuasai juga pengalaman mengelola pembukuan majlis, selama beberapa tahun.


Tak lupa dia menuliskan catatan bahwa dirinya masih dalam masa Iddah, jika diizinkan maka akan bekerja dari rumah.


"Mana ada Al, perusahaan yang mau rugi. Katanya Bian ngasih nafkah, tunggu selesai saja baru keluar cari kerja," usul sang bunda.


"Apartemen ini butuh biaya, kita juga. Di Jakarta semua serba mahal, Bu. Memang kakek Brandon memberiku fasilitas tapi hatiku was-was bilamana nenek Beatrice mengetahui hal ini dan meminta ganti. Mau jadi apa aku? semakin buruk mereka menilai ku di mata Meeza," terang Malya saat makan siang.


"Malya bukan merasa terbebani oleh ayah dan ibu tapi jika aku bisa berdiri di kaki sendiri. Kedudukan hina atau tidak, bukan dari penilaian manusia, tapi tujuanku agar Meeza bangga," sambung Malya lagi, ingin kedua orangtuanya mengerti.


Haji Syakur mengangguk setuju. Dia mengerti posisi anaknya, terlebih menanggung kebutuhan mereka juga obat-obatan yang tak murah harganya.


"Hati-hati. Pandailah pilih pekerjaan, semoga ketemu jodoh dengan perusahaan yang ramah dengan karyawan," kata sang Ayah, menenangkan gundah hati putrinya.


Kalimat teduh Haji Syakur kian melecut diri Malya untuk gigih berusaha. Setelah makan siang, wanita ayu pun kembali berkutat dengan tumpukan CV di atas meja kamar. Menjelang Ashar kala dirinya akan mengambil wudhu, notif email masuk ke laptop yang masih menyala.


Ibunda Meeza langsung membuka aplikasi dan membaca pelan di sana.


"Di butuhkan freelance untuk memeriksa laporan keuangan serta hasil survei kepuasan customer selama satu pekan. Dapat di kerjakan di rumah, berkoordinasi via zoom juga media lainnya dengan manager. Salary di hitung per jam dengan total penghasilan sekitar tiga juta rupiah," lirih Malya membaca deretan kalimat di sana.


"Selamat, Anda terpilih menjadi salah satu freelancer yang tergabung dalam team dua. Di pimpin oleh pak Daniel, wakil direktur bagian keuangan. Silakan hubungi sekretaris beliau, Martha di nomer 6213xx untuk berkoordinasi. Lampiran berkas akan dikirimkan by email. Segala aturan terkait akan dibicarakan saat zoom pada tanggal 3 April 2023 pukul 08.00 WIB."


Malya membaca lirih, berulang kali hingga beberapa detik kemudian dia meloncat kegirangan.


"Aaaahhhhhh!" serunya melempar sandal rumah yang akan dia gunakan untuk berwudhu.


"Aaalll," teriak ibu tak kalah panik mendengar suara putrinya.


Mardiah pun tergopoh, membuka pintu kamar sang anak, khawatir terjadi sesuatu dengannya. "Kamu kenapa?" tanya ibu.

__ADS_1


Malya terkejut saat Mardiah mendorong daun pintu kamarnya kencang. Dia bahkan terlonjak kaget.


"Eh, a-aku gak apa kok, Bu," jawab Malya, terbata seraya menunjuk ke arah laptop yang terbuka.


"Ada apa di sana? film hantu?" imbuh Mardiah tak habis pikir.


"Bukan. Aku dapat kerjaan, di terima kerja meski hanya sepekan tapi gajinya lumayan. Semoga sih bisa kontinyu begini. Bisa dilakukan di rumah juga," ujar Malya dengan senyum terkembang tak surut di wajah.


Mardiah terlihat sumringah meski tidak paham apa isi tulisan di layar benda kotak di atas meja. Dia hanya ingin memastikan bahwa anaknya menjerit bukan karena takut hantu.


"Alhamdulillah, bukan film ya, Al. Kamu dapat kerjaan ternyata," kekeh sang bunda, mengelus lengan Malya yang terbalut kaos panjang.


Putri Haji Syakur mengangguk antusias. Dia memungut kembali sandal yang dilempar tadi lalu akan salat lebih dulu baru membalas email agar konsentrasi.


Setelah kabar bahagia tadi siang. Malya tak keluar kamar bahkan saat Roby mengantar sesuatu untuknya pun dia acuh.


"Alhamdulillah. Saya ikut senang. Nyonya muda memang gigih meski diberi fasilitas. Aku titip ini untuk beliau, lukisan Meeza yang tak sengaja tercecer dan saya ambil. Nona kecil, sedang rindu ibunya," kata Roby, menyerahkan kertas juga rangkaian bunga Krisan.


"Kau suka Krisan kah, Al? jika iya, akan aku siapkan tanaman itu untukmu," Roby membatin.


"Oh, iya baik. Akan ibu sampaikan, Nak. Malya memang suka Krisan juga Dahlia," ungkap sang ibu.


Roby mengangguk samar lalu dia pergi keluar apartemen setelah menyampaikan pesan.


"Krisan dan Dahlia, sungguh menggambarkan dirimu. Keduanya melambangkan kekuatan, rasa syukur, setia, percaya dan optimisme," gumam Roby, sambil menekan deretan angka di panel pintu unit miliknya.


Lelaki muda nan tampan itu melepas pakaian dinas lalu menuju biliknya untuk membersihkan diri. Tak berapa lama kemudian, saat dia keluar kamar kembali. Netra sipit Roby melihat kudapan lezat masih mengepul terhidang di atas meja sofa.


"Ibu kah? serasa dekat dengan orang tua jika begini. Aku hanya menjaga putri Anda tapi malah mendapat kasih sayang juga, makasih banyak, Bu. Tahu aja kalau aku suka tahu isi," kekeh Roby duduk di sofa sambil mencicipi masakan tetangganya.

__ADS_1


Jari tegas sang pria lincah mencari sesuatu di atas tablet canggih miliknya. "Nah, ketemu yang sekalian bisa dekor," lirih sang asisten tampan.


"Al, semoga suka ya. Nona kecil merawat bunga kalian di greenhouse sangat baik. Anak itu persis ibunya kini, irit bicara. Tetua belum mengizinkan kalian bertemu. Apakah tuan muda mengabarkan ini padamu?" imbuh Roby, dia memejamkan matanya bersandar di kepala sofa.


"Nona Maria di kabarkan mendarat kembali di Indonesia kemarin. Tuan muda pun mengetahui kabar ini, kasihan Meeza. Tapi aku percaya, gadis kecil itu dapat mengenali siapa ibu kandungnya. Kemelut ini semoga segara terungkap. Aku pun penasaran pada sosok dibalik semua. Dia sangat rapi," kata Roby, bermonolog setelah memesan sesuatu untuk amanah majikannya.


Sementara di hunian satunya.


Malya menerima sesuatu dari tangan sang ibu dan membukanya. Netra bulat itu perlahan mengembun melihat gambar Meeza tengah memandang bunga. Sosoknya di gambarkan bagai bayangan, melayang di atas taman bunga.


"Meeza. Kamu mengingat pesan bunda ya, Nak. Bunda melihat Meeza setiap hari melalui Minnie," kata Malya menyeka butir bening di ujung netra. Meraih boneka tikus yang dipakaikan kaos terakhir milik sang buah hati.


"Sabar ya, daddy bilang lewat pesan bahwa dia sedang sakit sehingga nenek enggan memberi izin kita ketemu. Bunda juga berusaha di sini. Kita janji bertahan kan?" kecupnya pada kertas di tangan.


Malya turun dari ranjangnya, meraih selotip dan menempelkan karya Meeza di cermin besar ruangan itu.


Senyum getir terlukis, bayangan wajah Meeza menangis dalam diam kembali melintas. Dia bagai dirinya, banyak menahan rasa.


"Aku sayang Meeza ya Allah, my moon," lirih Malya, menjulurkan tangan mengusap kertas yang telah tertempel.


"Bunda kerja dulu ya, Sayang," imbuh Malya, berbalik badan dan kembali berkutat dengan beberapa email yang masuk ke laptopnya.


"Pekerjaan lagi? aku di terima kerja di tempat lain, tapi kali ini di outlet makanan. Fast food kesukaan Meeza," ucap Malya tak percaya, binar kesedihan pun berangsur sirna berganti harapan.


.


.


...____________________...

__ADS_1


__ADS_2