BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 33. BEBAS


__ADS_3

"Kamu kenapa?" kata sang ayah.


"Aku tahu, jika kurang sabar. Juga paham kalau keputusan ini berdampak pada mental Meeza. Nenek Beatrice bukan orang yang mudah. Mas Bian, masih berada di bawah bayangan beliau dan aku tidak dapat menepis itu,"ujar Malya, duduk di sisi ranjang.


"Mas Bian mungkin suatu saat bisa berubah, tapi aku gak sanggup menunggunya, Yah. Memang aku egois, ingin merasakan bahagia dalam pernikahan. Seharusnya aku gigih berusaha menciptakan suasana harmonis apapun rintangannya cuma...." Malya tak melanjutkan kata-katanya. Dia menunduk dalam.


Tatapan teduh Haji Syakur jelas tak lekat dari sang putri. Namun, wanita ayu di hadapan kian tak kuasa menegakkan kepala. Malya merasa sangat bersalah, rumah tangganya hancur. Menoreh malu di wajah sepuh nan dia sayang.


"Al," panggil sang ayah lembut.


Isakan halus terdengar. Dia mengakui kesalahannya. Memilih jalan yang tidak di sukai Allah demi sebuah kata bahagia.


"Aku tahu, aku salah. Ayah boleh menghakimi," lirih Malya di sela isak.


"Enggak. Kamu paling tahu kondisi rumah tanggamu, ayah atau siapapun gak berhak menghakimi. Setiap hati di ciptakan memiliki rentan kekuatan tersendiri. Tidak perlu merasa malu dan khawatir pada kami, kondisimu jauh lebih penting, jangan terluka lagi, Al," pungkas sang ayah.


Haji Syakur menyerah, Malya sulit di bujuk sehingga menyerahkan segala keputusan padanya. Dia ingin yang terbaik untuk putri semata wayang itu.


Setelah kepergian sang ayah, Malya merenung. Dia memang memikirkan Meeza, anak adalah korban terdampak paling serius dari sebuah perceraian. Tapi Malya enggan bertaruh waktu menerima semua perlakuan buruk Bian padanya.


"Apakah aku harus membuang waktu lagi dan berharap dia dapat berubah dengan sendok?" gumam Malya menatap senja dari balkon kamar.


...***...


Setelah pertemuan pertama dengan Meeza, Beatrice tak jua memberi izin keduanya melepas rindu. Biantara mengkonfirmasi hal ini berulang kali pada Malya bahwa dia mengizinkan meski nenek melarang, akan tetapi Meeza menahan diri sebab tak ingin tetua kian membenci ibunya.


["Al, aku mengizinkan Meeza. Roby dapat membawanya padamu tapi anak itu justru menolak."] kata Bian suatu waktu.


["Al, Meeza menolak lagi. Dia bilang sabar menunggu izin Omanya agar kamu tidak di anggap buruk oleh beliau."] Pesan Bian beberapa hari berikutnya.


Malya hanya dapat sabar, menangis tertahan sebab putrinya pun membela sedemikian rupa. Meeza benar-benar ingin ibunya tak mendapat perlakuan buruk dari sang buyut.


"Bahkan kau pun, tidak dapat membujuk Meeza," lirih Malya kala membaca deretan pesan dengan isi yang hampir sama.


...***...


Dua bulan berlalu begitu saja.


Pagi ini, Malya bersiap ke kantor perusahaan fast food untuk pertama kalinya. Dia telah rapi dengan setelan rok panjang juga blazer serta voal yang menutup kepala.

__ADS_1


"Cantiknya anak ibu," puji Mardiah saat melihat Malya terbalut pakaian formal.


"Mana ada yang sangka kalau kamu sudah punya Meeza, Al," sambung sang ayah.


Malya hanya tersenyum manis, saat di Mansion dia kerap mencuri waktu untuk tetap berolahraga agar kesehatan fisik selalu terjaga dan bugar meski hatinya tidak.


"Sudah lebih ya, Al? resmi dong sekarang," ucap Mardiah sedikit sendu.


Malya menangkap gelagat ibunya. Bian kerap membujuk Mardiah untuk mendekatkan dia dengan Malya tapi keputusan telah bulat.


"Sudah lebih sepekan dari masa iddah. Tiga bulan delapan belas hari," jawab Malya, menarik kursi meja makan.


"Sambut hari baru. Semoga orang-orang di kantor semuanya ramah ya, Al," kata Haji Syakur mengalihkan pembicaraan.


"Aamiin. Yah, main ke keluarga mas Sulaiman kapan? aku ingin menjelaskan semuanya," cicit Malya.


Biiipp. Suara pintu unitnya terbuka.


"Bu, aku bikin telur kukus kebanyakan," suara Roby memanggil Mardiah.


Roby masuk ke hunian Malya leluasa sebab merasa telah dekat dengan kedua sepuh di sini. Dia lupa bahwa ada seseorang yang seharusnya di hindari.


Malya spontan menunduk sebab Roby hanya memakai kaos oblong dan celana pendek dengan kedua tangan membawa sebuah wadah juga botol minumnya.


Bunda Meeza pun menyembunyikan senyumnya.


"Eh, kok ada kamu, Al. Eh, Nyonya, maaf maaf. Saya kira Anda masih ... ehm, Bu, ini, a-aku balik, ehm, ganti baju dulu," ucap Roby kikuk hingga terbata, dia menyerahkan semua bawaannya ke tangan Mardiah.


Wanita paruh baya hanya bisa terkekeh melihat tingkah Roby yang kerap membuatnya tertawa.


"Ke keluarga Sulaiman baiknya di temani Bian atau seseorang yang dapat menjelaskan duduk perkara rinci, Al," saran sang ayah.


"Kapan ya, Yah?" sambung Malya, menyendok hasil masakan Roby.


"Tanya Bian dulu. Kan ini juga berhubungan dengannya," imbuh Haji Syakur lagi.


Malya mengangguk, dia lalu melanjutkan sarapan tanpa suara hingga Roby datang pun dia acuh terhadap pria yang ragu-ragu kala hendak duduk di hadapannya. Merasa Roby rikuh, Malya menyingkir dari sana, memilih duduk di ruang tamu seraya memesan taksi online.


"Ayah, Bu, aku berangkat ya, assalamualaikum," ujar Malya menghampiri keduanya yang masih di meja makan seraya mencium kedua pipi bergantian.

__ADS_1


"Wa 'alaikumsalam, hati-hati, Al," ujar Mardiah dan hanya di angguki Malya.


Melihat gadis cantik pamit, Roby pun berniat undur diri beberapa saat setelah Malya keluar nanti.


Malya melangkah keluar hunian, menuju lift di ujung koridor. Dia lega sebab tak menunggu lama, kaki jenjang itu pun terangkat memasuki kotak besi.


"Tunggu," seru suara pria, membuat Malya menahan tombol agar pintu tak menutup.


Malya menggeser posisinya berdiri, mundur ke belakang menjauh kala Roby masuk ke dalam lift yang sama.


"Selamat pagi, Nyonya," sapa Roby ramah seperti biasanya.


"Pagi. Aku bukan nyonya Cakra lagi. Panggil Malya saja," jawab bunda Meeza.


Dia mengabaikan. "Anda lupa membawa kunci mobil. Silakan," ujar Roby menyerahkan sebuah gantungan kunci.


"Anda juga lupa, Pak Roby, kalau aku gak bisa nyetir," jawab Malya tersenyum.


"Astaghfirullah. Maaf keteledoran saya, Nyonya," sahut sang asisten. "Anda mau saya daftarkan kursus mobil?" imbuhnya.


"Tidak perlu. Untuk urusan itu, aku ingin jadi wanita manja saja. Di antar ke sana sini," sahut Malya lagi.


Uhuk. Roby salah tingkah. Dia berpikir yang indah-indah.


"Jangan salah duga, Pak Roby. Aku gak akan menyusahkan Anda, kok. Banyak driver ojol yang bersedia mengantarku," pungkas Malya. Bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.


"Selamat beraktifitas." Malya melangkah cepat menuju lobby sebab ojolnya telah menunggu, meninggalkan pria tampan yang masih terpekur di sana.


"Judesnya keliatan sekarang ya, Al. Maa sya Allah, cepat banget berubah tegar. Gak heran, Meeza yang memotivasinya bangkit," gumam Roby, melangkah memutar arah menuju basement.


"Bisa-bisanya gue ke ge-eran waktu dia bilang pengen di anter kemana-mana. Padahal maksudnya sama ojek," Roby terbahak atas kebodohannya.


"Kamu, makin ayu saja, Malya. Lihat aku ya, Al."


.


.


...__________________...

__ADS_1


__ADS_2