
Tidak biasanya Bian melakukan panggilan berkali-kali pada Malya. Juga banyak pesan menyertai di ponsel yang selalu tergeletak di atas meja nakas samping ranjang.
"Tumben, mas Bian kenapa ya?" gumam Malya di sela aktivitas pagi itu.
Wanita yang belum melepas mukena, membuka semua aplikasi di ponsel khusus pemberian Bian. Dia merasa harus membalas salah satu pesan agar lelaki itu tak menuduhnya menahan Meeza.
"Meeza sudah kembali sesuai waktu yang di tentukan. Dia patuh padamu. Jangan mengabaikan keberadaannya."
Malya meletakkan kembali benda pipih di tempat semula. Hari ini pekerjaannya padat. Dia harus menyelesaikan audit laporan rugi laba pendapatan di salah satu outlet. Juga berusaha hadir on time pada forum zoom menjelang Maghrib nanti.
Putri Haji Syakur bahkan mengabaikan waktu makan siang hingga Mardiah terpaksa menyuapi anak satu-satunya itu.
"Sudah dewasa tapi masih teledor. Kerja boleh, mau nampang sama Meeza juga boleh, tapi jangan suka melewatkan makan siang," oceh Mardiah di sela suapan.
Malya hanya tersenyum, dia tak berniat menanggapi. Ponselnya pun terabaikan di atas ranjang padahal Roby mengirimkan sesuatu.
["Nyonya aku izin numpang makan siang di rumah Anda. Rumahku sedang dilakukan pembersihan AC juga saluran air yang rembes jadi banyak pekerja di sana. Mohon jangan keluar kamar. Terima kasih."]
Wanita ayu tak menggubris selain pekerjaannya. Bulan ini adalah gaji pertama sebagai staff keuangan di perusahaan fast food. Dia ingin melakukan semua yang terbaik dan akan membelikan Meeza banyak buku bacaan.
Hingga menjelang asar, Malya baru menyentuh gawai yang terabaikan sejak pagi. Dia merasa bersalah kala membaca pesan asisten mantan mertuanya.
Malya bergegas mencari Mardiah. Khawatir Roby menahan diri hingga dia tidak makan siang.
"Bu, tolong telpon Pak Roby, katakan aku meminta maaf baru melihat pesannya. Apakah dia sudah makan siang?" ucap Malya pada Mardiah yang tengah duduk di ruang keluarga.
Wanita sepuh pun mengikuti permintaan putrinya. Dia menelpon sang asisten melalui ponsel Malya dan meloudspeaker.
"Halo assalamualaikum, Nak Roby, maaf ibu pake hape Alya. Sudah makan siang belum? Alya cemas sebab pesan Nak Roby baru di baca," ujar sang ibu, diangguki Malya yang berdiri di sampingnya.
"Wa 'alaikumsalam. Iya gak apa, Bu. Pesanku tidak di baca Alya jadi aku urung masuk ke hunian ibu. Tapi sudah makan kok, di cafe bawah meski sendirian gak enak juga," kekeh sang pria.
Tawa pertama kali yang Malya dengar dari bibir Roby membuat dia merasa lega dan mengulas senyum yang sama.
"Paham dan pengertian."
__ADS_1
"Oh, iya, Alhamdulillah. Alya merasa bersalah katanya. Maaf ya," ucap Mardiah lagi.
"Tolong sampaikan pada Alya, jangan cemas. Aku terbiasa melakukan sendiri. Aku menggantung sesuatu di handle pintu, sudah di ambil?" tanya Roby pada Mardiah.
"Belum, sebentar," sahut Mardiah seraya membuka pintu.
"Snack sehat biar Alya tetap fokus, jika penat bisa konsumsi itu. Pasti dia lupa makan saking getol kerja. Tolong sampaikan, terima kasih," kata sang asisten.
"Terima kasih banyak, Nak Roby. Kata Alya, ini berlebihan," balas Mardiah.
Pria di seberang merenung. Berpikir bahwa mungkin Malya mendengar semua kalimat barusan jika di cerna dari ucapan ibu. Dia buru-buru meralat.
"Maaf Nyonya, saya tidak tahu jika Anda di sebelah ibu. Maaf bukan bermaksud kurang ajar," sambung Roby, gugup.
"Bodoh Roby, bodoh, dia tahu kamu manggil Alya. Bodoh, damn!"
Mardiah terkekeh dan menyampaikan bahwa Malya tak mempermasalahkan itu. Bahkan kini putrinya telah masuk kembali ke kamar. Panggilan pun berakhir menyisakan rasa malu dan canggung pada salah satunya.
["Nyonya, maafkan saya jika berlaku tidak sopan."]
...***...
"Selalu saja, aku yang mengalah menghampirimu," keluh Maria.
Menjelang isya, Maria tiba di hotel tujuan. Mobil yang kekasihnya gunakan terparkir cantik di pelataran kian menegaskan bahwa Bian memang menginap di sini.
Maria menuju frontline guna menanyakan kamar pujaan hati akan tetapi dia harus menelan kecewa sebab Bian berpesan tak ingin di ganggu.
"Aku calon istrinya. Mobil yang di gunakan tadi pagi adalah itu, masa bukan tamu di sini," cecar Maria.
"Bukan begitu, Mbak. Beliau sedang tak ingin di ganggu Silakan menunggu di lobby," jawab sang receptionis ramah.
Maria mendengus kesal. Upaya menghubungi Bian pupus manakala semua panggilan juga pesan tak mendapat balasan.
Sementara di kamar yang digunakan Biantara.
__ADS_1
Lelaki itu sudah bangun sejak tadi, sengaja mengabaikan pesan dari Maria. Bahkan kini dia mematikan data pada ponselnya.
Cucu emas Beatrice masih memandangi deretan kalimat yang di kirimkan oleh Malya siang tadi. Berkali-kali Bian membaca ulang tulisan di sana.
"Kok bahagia ya, padahal kamu cuma balas begini doang setelah puluhan jenis pesanku yang bermacam-macam."
"Makasih ya, Al. Sudah hadir di mimpiku, semoga kamu sehat. Jangan sakit," lirih Bian lagi.
Dia lalu meletakkan gawai setelah berjam-jam memandangi. Kini tubuh tegap itu menuju balkon, duduk di kursi malas seraya melihat ke arah bulan.
Bian mengingat malam-malam panas dengan sang istri meski Malya tak pernah melihat wajahnya selama aktivitas halal tersebut. Mengabaikan wanitanya begitu saja dan memilih ke balkon guna melepaskan kepulan asap tanda dia telah terlayani sangat baik.
"Malya Syakia, kamu sedang apa? masihkah melihat bulan seperti kebiasaan saat di Mansion? aku kini sedang menatap ke arah yang sama," lirih sang duda.
"Mungkin kau benar, hanya seorang korban dari konspirasi yang entah aku tak tahu alasan motif dibalik ini. Juga tidak dapat menerka bencana apa kelak akan menimpa Cakrawala, maafkan aku," ucapnya seraya menghela nafas berat.
Pewaris perusahaan retail itu memejamkan mata. Bayangan wajah ayu Malya, rupa terakhir juga senyum yang jarang dia lihat saat memergoki di greenhouse, membayang seakan enggan sirna dari pelupuk mata.
Malam panjang di lalui seorang pria yang tengah mulai menyesali apa nan dia perhuat di masa lalu. Dorongan hati mengatakan harus menemui Malya kian mencuat.
"Aku harus ketemu dia, dan memintanya kembali," ucapnya mantap.
"Eh, Maria bagaimana ya?"
Seketika tubuhnya kembali lesu, tidak mudah menjauhi wanita yang telah dia kenal baik tabiatnya.
"Kenapa setelah Maria hadir, justru aku merasa kehilangan Malya? aku harus bagaimana jika Maria bersedia menjadi kamuflase Malya di depan publik? apakah seharusnya aku membongkar semua ini pada nenek?" timbang Bian, memikirkan semua kerumitan sendiri.
"Tuhan, bantu aku!" keluhnya lirih, menekan pangkal alis.
Dia teringat Malya kerap melakukan ibadah jika dirinya menyakiti wanita itu. Bian, bergegas menuju bathroom untuk berwudhu.
"Di terima gak ya, doaku?" ragu tuan muda Cakra saat akan memulai takbiratul ihram.
.
__ADS_1
.
..._______________...