BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 6. KAU JUAL, AKU BELI


__ADS_3

"Apa kau tahu, dampak dari ini, Chris?" tanya Bian dengan sorot mata tajam pada sang asisten.


Chris menunduk, tak mampu menegakkan kepala sekedar untuk membalas tatapan pimpinan Cakrawala Corp. Dia tahu persis setiap kata yang tertoreh di atas kertas itu. Sebuah realita mustahil dinalar akal tetapi nyata adanya.


"Iya tahu, Bos. Dan saya sangat berhati-hati saat melakukan ini selama tiga bulan. Mencoba menyambungkan sebab akibat terhadap Anda juga menyelidiki motif apa yang digunakan," jawab Chris masih dengan sikapnya semula.


Biantara tak menanggapi lagi, dia memutar kursi kerja menghadap jendela besar yang sebagian tertutup vitrace. Pantas saja, dia menghindar. Penampilannya sangat berbeda kini, tapi wajah sangat mirip Maria.


Mengapa begitu kebetulan. Apa motif dibalik ini semua, dimana Maria juga apakah keluarganya mengetahui ini. Harta, kedudukan atau apa. Biantara tak menemukan alasan tepat. Spekulasi bertumpuk dalam benak.


"Chris, apakah yang ku tabrak dan korban meninggal itu adalah suaminya?" tanya Bian ragu, dia mengkhawatirkan sesuatu.


"Benar. Mereka baru melangsungkan pesta pernikahan dua hari sebelum kejadian itu. Bos, saya mendesak petugas untuk meminta alamat korban dan mengunjungi keluarganya. Mertua wanita yang diduga Nona Maria, meniup konflik internal dengan besan mereka," ungkap Chrisnandi.


Degh. Rasa bersalah menyergap Bian.


"Keluarganya bagaimana?" imbuh Bian.


"Saya tidak dapat menyentuh lebih dekat keluarga wanita itu. Seakan ada seseorang yang menjaga mereka. Ada saja aral untuk menuju ke sana," pungkas Chris.


"Berarti alasan ekonomi atau harta dan dia bekerja tidak sendiri. Minta orang kita untuk menyelidiki kemana perginya Maria juga tetap berusahalah agar dapat mendekat ke keluarga wanita ini," titah Biantara.


Chris bergeming. Dia mematung di tempatnya. Menurut pemahaman sang asisten, bisa jadi ini adalah keinginan Maria untuk kabur. Wanita itu memiliki banyak akses untuk membuat sebuah skandal.


"Chris? kau tak dengar aku bilang apa?" tegas Bian, sebab tak mendengar langkah kaki ataupun bunyi pintu yang menutup.


"Menurut saya, Anda tiada guna mencari keberadaan Nona Maria, Bos. Bisa jadi ini adalah keinginan beliau untuk menjauh. Selama ini bukankah berkali tunangan Anda mengkhianati?" ujar Chris, tak lagi ingin Bian menjadi budak Maria.


Biantara mendengar pendapat Chrisnandi. Dia ingin menyangkal akan tetapi apa yang disampaikan asistennya itu bisa jadi satu alasan ini semua terjadi.

__ADS_1


"Bahkan Matthew juga acuh. Ketidakpedulian dia apakah karena dirinya tahu rencana Maria untuk kabur dan menukar posisi dengan wanita ini?" ujar Bian, mencoba mereka-reka keadaan sejak insiden peristiwa lebih dari tiga bulan lalu.


"Bukankah ada pepatah mengatakan bahwa kita mempunyai tujuh orang kembaran, Bos?" imbuh sang asisten.


"Tapi dia sangat mirip Maria, bahkan malah lebih cantik setelah berhijab," kata cucu emas klan Cakra seraya menopang wajahnya dengan satu telapak tangan.


Pasangan asisten dan pimpinan berlanjut membahas segala kemungkinan. Biantara meminta agar terus melanjutkan proses persiapan pernikahan meski Chris melarang.


"Aku tak mudah di bodohi, mungkin dia justru tahu keberadaan Maria. Tidak mungkin seseorang bersedia menggantikan posisi wanita lain akan tetapi tiada keuntungan yang didapat. Lanjutkan persiapannya," kata Bian.


Chris pun keluar ruangan untuk melaksanakan perintah sang pimpinan. Sementara Biantara melihat kembali fakta yang tertuang dalam map tadi.


"Malya Syakia, sarjana akuntansi merangkap sebagai pengurus majlis dakwah. Suaminya seorang guru keagamaan. Siapa kamu sebenarnya? dimana bertemu dengan Maria?" gumam Biantara melihat foto Malya yang tersenyum hingga nampak lesung pipinya.


"Umurmu dibawah Maria, selisih dua tahun. Baru lulus sudah menikah ya. Dan aku yang menyebabkan suamimu meninggal. Oke, Malya, kau ingin bermain peran? mari kita lanjutkan ini...." senyum misterius tercetak di wajah tampan dengan gurat rahang tegas, alis tebal juga manik mata segelap gua.


Pewaris Klan Cakra memejamkan mata, membuat landai kursi yang dia duduki. Angannya menerawang kala melihat Malya pertama kali.


"Pantas saja menghindar. Dia masih dalam masa iddah, dan maid itu, apakah pelayan satu ini juga tahu perihal status Malya menggantikan Maria? fix, kamu bekerja tak sendiri. Ck, rubah licik, syar'i tapi menjijikkan," sindir Bian seraya merobek foto yang dia pegang.


"Selamat datang di dunia Cakrawala. Sampai jumpa saat akad nikah nanti, Malya. Aku akan membuat kejutan bagus untukmu," gumam cucu Beatrice.


Hingga menjelang bulan ke empat, Biantara tak menyambangi lagi kediaman Maria, membuat Malya leluasa sekuat tenaga agar lekas pulih dengan memaksa tubuhnya beraktivitas lebih keras.


Setiap hari, Malya berolahraga di gym pribadi milik Maria, membentuk otot tubuh sebab dia harus memiliki pertahanan diri. Dia mengunci mulut rapat dan hanya bicara panjang dengan Rara apabila ingin melihat kedua orang tuanya.


Sari mengatakan bahwa Maria adalah pewaris perusahaan jasa kargo internasional milik sang ayah yang kini di kelola Matthew. Dia mendapat jaminan hidup mewah dari sang paman sebagai sharing profit perusahaan.


"Pantas hidupnya hanya hura-hura. Dia mandiri tapi gak produktif," gumam Malya saat melihat foto keluarga Maria yang terpajang di dinding ruang keluarga.

__ADS_1


Tekad ingin lepas dari jerat nasib tak diinginkan, membuat Malya bertanya pada Sari tentang semua kegiatan Maria, hobi, kesukaan juga banyak hal lain. Dia meminta belajar etiket demi agar identitasnya tidak terbongkar, sebab Maria adalah wanita borjuis nan berkelas.


"Hanya untuk kalian, ayah, ibu. Bertahanlah, doakan aku ya," ucap Malya kala menanti guru privatnya tiba.


Sari kian yakin bahwa majikan mudanya itu hilang ingatan sebab meminta dia menceritakan banyak hal dasar juga bersikap tidak selayaknya Maria.


...***...


Sepekan sebelum masa Iddah berakhir, Biantara mendatangi kediaman Maria lagi. Kali ini dia tak seorang diri melainkan membawa designer ternama untuk membuat gaun pengantin.


Malya menolak dengan alasan sakit kepala mendera hebat siang itu, padahal dia tengah mengaji. Namun agaknya Bian mempunyai niatan lain hingga memaksa masuk dan berdiri di ambang pintu kamar Maria.


Seperti biasa, Rara menghalangi dan kali ini Chris membantu menyingkirkan asisten merepotkan itu.


Malya terkejut, dia seketika menundukkan pandangan. Memasang tabir menggunakan pashmina panjang yang langsung dia raih dari atas ranjang. Sebisa mungkin untuk menutupi tubuhnya meski sudah terbalut mukena.


"Baiknya kamu mengikuti keinginanku untuk fitting baju pernikahan. Bukankah ini yang kau inginkan? menyodorkan diri padaku sebab suamimu tak lagi mampu memenuhi kebutuhan batinmu itu dikala baru mencecap manis pernikahan, Malya syakia," tandas Bian, tegas menyebut namanya.


Dhuaaar.


Dalam tundukkan pandangan, Malya membola, jantungnya berdegup kencang tak menduga bahwa identitas yang setengah mati dia tutupi dengan mudah terbongkar oleh lelaki yang berdiri di ambang pintu sana.


"Ayo, lekas keluar," titah Biantara lagi.


"Lepaskan aku, jika Anda telah mengetahui siapa diriku," lirih Malya.


"Enak saja. Kau jual, aku beli!" tegas putra sulung Brian Cakra.


.

__ADS_1


.


..._________________...


__ADS_2