
Malya membuka pesan dari kedua ponsel setelah dia berada di dalam mobil dengan Camai. Roby mengatakan bahwa dia tak bisa pergi melihat Meeza sebab tengah melakukan misi dengan Chris menjalankan perusahaan selama Bian di Inggris.
Bunda Meeza hanya membalas singkat pesan sang asisten, tanpa embel-embel lainnya. Jika dulu, dia hanya membawa satu ponsel pemberian Roby saja, semenjak kepergian Meeza, Malya menyertakan gawai dari Bian di dalam tasnya.
Kini, ibu muda itu membalas pesan sang mantan.
["Banyak doa tergantung keyakinan Mas saja, yang paling mudah adalah doa sapu jagat untuk kelapangan urusan dunia akhirat. Robbana atina fii dunya hasanah...."]
["Jika aku, biasa membaca doa ini, Ya hayyu ya qayyumu birahmatika astaghitsu, ashlih li sya'ni kullahu wala takilni ila nafsi tharfata 'ainin abadan."]
["Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmatMu aku mohon pertolongan, perbaikilah segala urusanku. Jangan berikan padaku petunjuk tanpa mendapat pertolongan dariMu selamanya. Sahih Tirmidzi."]
Bian mendapat notif di ponselnya. Dia lantas membuka pesan dari seseorang yang membuat senyum terkembang di wajah tampan pimpinan Cakrawala.
["Aku ikut yang kamu baca saja."] Tulis Bian.
["Mana saja boleh, tiada yang salah dengan doa. Yang haram itu meminta pada selain Allah. Musyrik. Doa kelapangan urusan yang paling mudah tertuang dalam surat Thaha, Mas boleh buka mushaf jika punya wudhu. Ayat dua lima hingga dua delapan. Robbysiroh lii...."]
Bian segera mengambil wudhu, penasaran dengan ayat yang di sebut Malya. Dia lalu membuka mushaf milik Meeza yang sengaja di tinggalkan anak itu sebab dia telah dibelikan Malya yang baru.
Biantara Cakra tidak setaat Robby bahkan jauh jika dibandingkan dengan Sulaiman. Tapi berkat Meeza dia bagai melihat bayangan Malya yang rajin beribadah, tergambar indah nan syahdu di pelupuk mata.
Kajian online kerap dia dengarkan setelah subuh, membuat iman di dada sang hamba itu perlahan Allah hidupkan. Bian merasakan kedamaian semenjak dia kembali pada jalan ketaatan. Bahkan Beatrice kini ikut belajar salat berkat Meeza yang getol mengajaknya beribadah.
["Al, aku ingin jadi pria yang kau pilih ketika di surga Allah nanti. Bantu aku menuju ke sana. Bukankah Allah akan memberi pendamping terbaik untuk menemanimu di kehidupan akhir nanti. Aku ingin pantas berdiri di sisi Malya Syakia."]
Entah mengapa Bian menulis kalimat melow demikian. Dia meneteskan air mata kala membaca arti ayat yang Malya sebut tadi. Wajahnya basah, banyak nikmat tak dia syukuri dengan benar.
Pewaris Cakra, menitipkan tetua pada maid juga bodyguard yang dia sewa. Merasa Iman dan kucuran Rahmat Tuhan sedang turun. Bian bergegas pergi keluar kamar perawatan Beatrice menuju islamic centre yang tak jauh dari rumah sakit.
Sesampainya di sana, Biantara Cakra meminta di pandu untuk salat taubat oleh imam besar. Dua rokaat tak cukup membuat hati sang CEO tenang maka dia melanjutkan hingga tanpa terasa sajadah yang dia pakai, basah oleh air mata.
__ADS_1
"Ya Tuhan, masih pantaskah jika aku meminta agar Malya kembali padaku? aku sungguh menyesal." Isak Bian puas mengadu pada Robbnya, Beberapa menit di sana, Bian lantas kembali ke rumah sakit.
"Aku siap, Andreas." Teguhnya. Dia akan diskusi dengan Malya nanti untuk pembagian waris hak Andreas saat RUPS nanti.
Jika Bian melow, maka Malya pun demikian. Air mata haru menyembul di ujung netra. Tak salah bacakah dia, Biantara Cakra, lelaki angkuh nan seenaknya menulis kalimat permohonan seperti itu untuknya.
"Aku tahu, kamu sebenarnya pria baik, Mas. Allah yubarik, Allah yubarik, Mas Bian. Aamiin," gumam Malya, menyeka bulir bening yang menetes.
Hari berganti bulan lebih cepat dari prediksi manusia. Keluarga Cakra, Valencia kini mendekati garis pertempuran. Jika Malya berjibaku dengan ego untuk mandiri, lain hal dengan Bian. Sejumlah aturan akan dia terapkan saat rapat internal setelah RUPS nanti.
Pewaris Cakra itu kian kalem, bahkan Beatrice melihat jelas perbedaan Biantara sejak Meeza masuk asrama. Cucunya ini, seakan berganti jiwa meski dalam raga yang sama. Biantara lebih religius.
...***...
Menjelang akhir tahun, divisi keuangan sangat sibuk. Audit sana sini, analisa, membuat laporan, mengerjakan neraca juga hal lainnya. Malya khawatir tak dapat menemui Meeza.
Bian mengatakan bahwa pekan depan, dirinya harus pulang dan meminta Malya menggantikan dia menemani Beatrice juga Meeza yang akan memasuki masa liburan.
"Halo, assalamualaikum. Al, sudah siap?" tanya Bian beberapa hari sebelum dia pulang.
"Wa 'alaikumsalam. Dokumenku sudah siap berkat Roby tapi kerjaan aku entahlah, belum dapat izin dari atasan. Tapi akan berusaha terbang saat Mas pulang, meski gak lama. Maaf," ujar Malya
"Gak apa, Sayang. Makasih banyak. Sampai ketemu di Bandara," ujar Bian menutup panggilan.
Tampilan wajah ayu yang tak pernah lagi dia lihat semenjak Meeza masuk asrama, berputar di benak. Dia baru tahu apa artinya rindu terdalam.
"Ketika tidak dapat saling melihat, atau menyentuh dan hanya menyebut dalam doa, ternyata ini namanya puncak kerinduan," gumam Bian, melanjutkan bacaan mengaji surat an-naba sebelum meeting dengan para staff satu jam kedepan.
...***...
Seperti Bian, Andreas tengah menyusun rencana penyerangan opini saat sidang nanti. Dia berhasil membeli saham hingga akumulasi miliknya berada di bawah Bian.
__ADS_1
Jika digabung dengan milik Anne, maka posisi Andreas akan setara.
"Bersiaplah, tiga hari lagi wahai Cakrawala. Aku tak akan melepaskan kalian kali ini," gumam Andreas.
Putra Anne memutar kursi kebesaran menghadap jendela besar di ruangannya. Dia lalu melakukan panggilan untuk wanita pujaan di Inggris sana.
"Maria, kamu sudah tahu apa yang harus dilakukan bukan? jangan sampai terlena," ujar sang suami.
"Iya, Sayang. Aku tahu, jangan kuatir," jawab Maria.
Panggilan itu berakhir saat semua titah sang putra mahkota Valencia turun. Maria menatap nanar pada benda di tangan. Entah dia harus mengatakan hal ini pada Andreas atau tidak.
Situasinya sedang tidak tepat, akankah dia akan menerima sebab ini di luar perkiraan keduanya.
"Bodoh, Maria!" umpatnya seraya meremat rambut yang terurai.
"Bagaimana ini? Andreas tak pernah menyiratkan keinginan. Aku sudah berusaha menahan, tapi mengapa malah begini?" gumam Maria, khawatir.
Kondisi tubuh Maria juga tak stabil, kadang merasa baik saja tak jarang sebaiknya. Dia takut akan mengecewakan Andreas lalu pria itu meninggalkannya. Pada siapa lagi Maria bergantung hidup meski Anne terlihat sangat sayang.
"Kuat Maria. Jangan kecewakan dia," lirih Maria, kepalanya mendadak pusing sehingga dia berjalan tertatih menuju pembaringan.
"Andre, jangan tinggalkan aku." Maria meneteskan air mata, dia meringkuk, menarik selimut. Tak kuasa membayangkan bila hal itu terjadi.
"Akankah? mungkinkah?"
.
.
...__________________...
__ADS_1