
Ritual pagi yang berbeda kini di jalani pasangan ibu dan anak. Sejak subuh, mereka melakukan ibadah bersama hingga mandi dalam bathtub pun saling bercanda.
Meeza baru mengetahui bahwa rambut bundanya sangat hitam dan panjang melewati bahu. Kulit mulus persis dirinya. Binar mata bahagia gadis cilik pun terpancar jelas.
"Maa sya Allah, Bunda cantik sekali. Princess," kata Meeza mengagumi sebab pertama kali melihat Malya tanpa hijab panjang.
"Kamu pun, my moon, Meeza. Cantik sekali, meski banyak duplikat wajah daddy di sini," balas Malya.
Keduanya bermain ala princess sembari menunggu waktunya sarapan. Seperti biasa, Malya akan meladeni keluarga Cakra lebih dulu akan tetapi pagi ini berbeda. Dia fokus meladeni keinginan putri semata wayang.
Interaksi manis bagai keluarga harmonis tercipta pagi ini hingga satu pekan ke depan. Malya sudah meminta izin Bian bahwa selama pengajuan gugatan, dia akan menyingkir dari rumah utama dan mukim di greenhouse bersama Meeza.
"Satu pekan ini waktuku kan? maka jangan kau usik. Jika ingin menemui Meeza, datanglah ke greenhouse," ucap Malya saat dia mengantar sang suami di teras, seperti biasa.
"Gunakan waktumu yang tersisa dengan baik. Jangan sampai mengajarkan kebiasaan buruk pada Meeza. Berikan pengertian padanya bahwa kau akan pergi," balas Bian lagi.
"Haruskah?" tanya Malya. Sekelumit perasaan getir hadir menyembul di kalbu.
"Tentu. Kau pikir Meeza tak akan bertanya kemana ibunya? jika aku jahat padamu, akan ku katakan bahwa kamu meninggalkannya," bisik Bian, bicara mendekat hampir menyentuh wajah ayu Malya.
"Ki-ss Bunda, Daddy," sorak Meeza dari kejauhan. Dia tak pernah melihat ayah ibunya duduk bersama, berdampingan bagai nenek dan kakek Cakra.
Pasangan yang tengah bertarung rasa mengabaikan keinginan sang putri. Malya terlanjur sesak. "A-apa yang harus ku katakan," ucapnya berusaha menahan laju cairan yang mulai menggenang di pelupuk mata.
"Terserah kamu. Berikan alasan logis bagi Meeza mengapa kau pergi," imbuh Bian, menoleh ke arah putrinya.
"Kau paling tahu alasan aku pergi!" geram Malya.
"Setelah sekian lama? ku kira kau telah jatuh cinta padaku hingga enggan menjauh atau terlalu menikmati hidup dalam kemewahan," cecar Bian lagi.
Malya geram, sorot matanya memancarkan kemarahan. Kedua tangan pun mengepal di sisi gamis hitam longgar yang ia kenakan.
__ADS_1
"Andai saja kau memanusiakan manusia, paham apa artinya tugas dan kewajiban seorang suami. Aku akan bertahan meski nenek Beatrice menekan kuat," lirih Malya, giginya mengetat tanda dia tengah susah payah mengontrol emosinya.
"Jangan menyalahkan orang lain atas ketidakmampuan diri. Tetap saja, kau meninggalkan Meeza," kekeh Bian, berlalu menyambut Bulan kesayangannya.
Hati Malya kembali sesak, butir bening turun menetes di pipi yang secepat kilat dia seka. Tubuh kurus itu pun berbalik menghadap dua manusia berbeda rasa.
"Bye Dadd, Meeza mau have fun sama Bunda di sana. Kata Bunda, kita mau melakukan banyak hal bersama," sorak Meeza girang.
Biantara hanya tersenyum, mengangguk seraya menggendong putrinya dalam buaian.
"Baik-baik dengan Bunda ya, Bulan. Daddy pergi kerja dulu. Nanti kita jumpa sore hari, oke?" ujar Biantara menurunkan princess cantiknya.
Meeza mengangguk cepat, dia lalu meminta gendong pada Malya seperti biasa. Saat akan memberikan ciuman pagi tanda perpisahan pada Meeza, pipi Bian menyentuh hidung mancung wanita ayu.
Bulu mata lentik itu mengerjap ragu, seakan khawatir bila aksi manis ini menggoyahkan pendirian.
"Love you, Sayang," bisik Bian pada gadisnya.
"Love you too, Daddy!"
Meeza melambaikan tangan mungilnya melepas kepergian sang ayah. Setelah itu, keduanya menuju greenhouse di bagian belakang Mansion.
Semua guru Meeza telah di liburkan selama satu pekan. Malya menghamparkan tikar sebagai alas di sela lorong tanaman, mengajarkan putrinya banyak hal yang selama ini tak dapat dia sampaikan.
Gadis kecil cicit emas keluarga Cakra yang baru pertama kali menapak bangunan ini, girang bukan kepalang. Dia tak mengira bahwa ibunya pandai merawat bunga juga sayur mayur yang biasa dia makan.
"Ini Bunda yang tanam?" tanya Meeza dengan sorot mata bulat berbinar.
Malya mengangguk. "Dengan opa. Meeza tau gak, arti nama Bunda?" tanya Malya seraya menuntun gadis ayu menuju taman bunga di sisi barat greenhouse.
"Enggak. Apa artinya Bunda?" suara gemas Meeza menguar memenuhi gendang telinga.
__ADS_1
"Malya itu rangkaian bunga. Syakia adalah kebahagiaan. Jadi?" pancing Malya ingin tahu pemahaman putrinya.
"Bunga kebahagiaan?" sahut sang putri. Meeza menarik satu bunga rose berwana putih. Dia lalu menciumnya.
"Iya, bisa. Bunga kebahagiaan bunda ya kamu. Tapi makna luasnya adalah semoga setiap kali orang melihat bunga, akan ada rasa bahagia yang hadir. Bunda diharapkan menjadi wanita, sumber bahagia bagi orang lain di sekitar," jawab Malya. "Meeza paham gak?" sambung istri Bian lagi.
Gadis manis dengan rambut tergerai itu mengangguk. "Meeza akan ingat Bunda kalau lihat bunga. Sebab bunga bisa bikin Bunda bahagia," tutur sang bocah.
Meski pemahamannya tak sepadan, entah mengapa kalimat polos Meeza membuat Malya menangis.
"Betul, Sayang. Ingatlah bunda setiap saat bila Meeza melihat bunga, yah!" kata Malya, menahan suara parau meski air matanya telah turun.
Seakan mengerti kemelut hati ibunya. Meeza mendekap Malya begitu saja. Pelukan yang jarang dia dapatkan. Usapan tangan kecil di punggung kian membuat hati ibu ini hancur. Bahu Malya terguncang dalam dekapan sang Bulan.
"Meeza sayang Bunda. Jangan menangis ya, Bunda. Kan Bunda Meeza adalah sumber kebahagiaan," kata bocah tiga tahun ini, bijak.
Malya segera mengurai pelukan. Dia menyeka kesedihan dari wajah pucatnya. Lalu mengajak Meeza berkeliling.
"Tinggal di sini saja, Bunda." Meeza amat peka. Namun, Malya mengabaikan.
Keduanya menghabiskan waktu bersenang-senang di dalam greenhouse. Mengenal cacing, tanah, cara membuat pupuk dan berbagai hal agar Meeza lebih dekat dengan alam.
Menjelang siang, Malya mengajarkan bagaimana cara memasak semua makanan kesukaannya pada sang putri. Meeza anak cerdas, dia sangat cepat menyerap informasi yang Malya tuntun.
Kala putrinya telah lelap, wajah polos itu kembali mengusik netra. "Bulan, di sini, bunda bebas menjadi diri sendiri. Rawat greenhouse ya, inilah nyawa ibumu. Jika kamu rindu, datanglah kemari. Memori akan selalu hidup dalam ruang yang sekaligus menjadi saksi ikatan batin di antara kita," ucap Malya, wajah ayu pun menengadah, memohon kekuatan pada Tuhan pemilik jagat.
"Kuatkan bunda ya, Sayang. Kita pupuk kenangan manis. Bunda akan kembali, berjuang untuk dapat terlihat pantas di sisi Meeza," gumam Malya, mengecup ubun-ubun kepala putrinya seraya melantunkan alqadr.
.
.
__ADS_1
...____________________...