
Esok hari, pasangan ibu dan anak masih asik melakukan semua kegiatan berdua. Ini adalah waktu terpanjang yang Malya miliki terakhir kali sebelum kepergian Meeza besok siang.
Roby tak terlihat sejak kemarin sore, mungkin lelaki itu tengah sibuk mempersiapkan dokumen tambahan untuk keberangkatan nyonya besar Cakrawala.
Kini kedua wanita, tengah berjalan santai menyusuri mall di gedung sebelah yang terkoneksi dengan apartemen.
"Za, beli ini yuk. Zaza kan belum punya," kata Malya menunjuk sebuah jam tangan couple di sebuah etalase aksesoris ternama.
Gadis ayu mengangguk. Mereka pun masuk ke dalam toko lalu memilah warna dan lainnya. Malya juga membeli sebuah kalung yang unik, berbentuk hati terbelah menjadi dua, satu bagian dipakai Meeza dan satu lagi untuknya.
"Yes, kita punya benda sebagai pengobat rindu ya, Za," ujar Malya kala mereka keluar dari sana.
Putri sulung Bian lalu menunjuk sebuah toko mukena. Dia meminta Malya membelikan satu untuknya dan serupa dengan milik sang bunda.
Saat kembali ke apartemen, Malya membawa banyak benda couple. Mulai dari jam tangan, kalung, mukena, sandal rumah, selimut, juga beberapa potong hijab.
"Za, foto tadi yang di Mall jangan lupa ya," kata Malya saat menata barang bawaan untuk Meeza dalam sebuah koper.
"Bunda," sebut Meeza saat dia melihat beberapa pot bunga Krisan di balkon kamar Malya.
"Di sana boleh tanam bunga kan?" tanya Meeza menyentuh salah satu kelopaknya.
"Minta pada daddy agar Zaza di izinkan merawat bunga dalam kamar, jika kita memiliki sebuah hobi, maka harus bertanggung jawab. Biasanya orang bule bakal minta Meeza memperhatikan tanaman tersebut," tutur Malya menjelaskan. Jangan sampai aktivitas balitanya menjadi
"Jangan sampai, Zaza menyiksa mahluk hidup ciptaan Allah. Menelantarkan bunga hingga layu dan mati, meski tujuan Meeza agar selalu teringat bunda, kan?" ucap Malya menghampiri anak pintar itu.
Meeza mengangguk. Dia mengerti, semua ucapan ibunya, telah terpatri dalam otak. Kebiasaan Malya sudah dia tiru sejak perpisahan mereka enam bulan lalu.
...***...
Tibalah waktu yang enggan mereka lewati. Bian mengatakan sedang menuju Bandara dengan Sari dan rombongan.
Roby meminta Camai mengantar mereka sebab dia akan ikut terbang mengurus Beatrice di sana selama satu pekan sebelum kembali ke tanah air.
Isakan Mardiah, mendekap cucu satu-satunya membuat Meeza menangis. Dia telah sayang dengan wanita sepuh yang dipanggil nenek. Bocah itu seakan enggan berpisah.
"Nenek!" isak Meeza pilu.
"Zaza anak pintar. Zaza jaga diri ya meski ada Mbak Sari," pesan Mardiah, menyeka air mata dari wajah bulat nan ayu.
Meeza melambaikan tangan setelah memeluk erat kakek neneknya. Binar mata sendu diperlihatkan bocah itu sejak dalam gendongan Malya.
Tidak ada percakapan sepanjang perjalanan menuju Bandara, Roby pun dibuat kikuk oleh situasi dengan atmosfer kesedihan kentara.
__ADS_1
Tiga puluh waktu tempuh, terasa sangat singkat dijalani siang itu. Mereka pun bertemu Bian di depan ruang tunggu keberangkatan luar negeri.
"Nenek sudah di kabin dengan Sari dan satu orang suster. Al, maaf, ini terlalu cepat dari prediksi," ucap Bian kala melihat Meeza lekat dengan sang bunda.
Malya hanya diam, dia pun duduk lalu meraih wajah putrinya agar manik mata mereka bersitatap.
"Za, inget salat dan ngaji ya. Sampaikan pada guru apapun yang Meeza rasakan, jangan lagi memendam, oke?" pesan Malya.
"Makan, tidur, kerjakan pe-er dan jaga sikap yang baik. Anak salihah itu, disiplin, rapi dan bersih sebab kebersihan adalah?" bisik Malya, menahan suara nan mulai parau.
"Sebagian dari iman, Bunda," jawab Meeza, butir beningnya telah menggenang di pelupuk mata.
"Lalu apalagi?" kecup Malya di dahi Meeza, dia berusaha tegar.
"Baca doa sebelum tidur, dzikir pagi dan petang, doakan daddy dan Bunda. Baca apa tuh, Bun, satu lagi," kata Meeza mengingat wejangan ibunya semalam.
Bola matanya mulai tak fokus. Malya tahu, Meeza juga sekuat tenaga tak ingin menunjukkan kesedihan. Wanita ayu, menatap tajam iris coklat tua bagai miliknya.
"Kirim al fatihah. Baca itu kalau?" sahut Malya, meloloskan butir bening.
"Kalau ... kangen, sa-mmaa Bun-ddaa." Tangis Meeza pecah. Dia memeluk ibunya.
Tangan mungil itu mendekap hingga ke punggung, menepuk dan mengusap tubuh wanita yang telah melahirkannya ke dunia.
Malya menyerah, dia memilih meloloskan sesak sambil mendekap erat putrinya. Bahkan Roby, berpaling muka melihat kedua insan di bangku tunggu saling membagi sesak.
"Al." Biantara memanggil sang mantan. Dia tahu ini berat tapi ingin Malya melepas dengan ikhlas.
"Aku tahu. Gak semestinya begini," balas Malya untuk sosok pria disampingnya.
Putri Haji Syakur melerai pelukan, menghapus jejak kesedihan dari wajah putrinya. Tak lama, suara announcement mulai menggema. Namun, Meeza masih enggan lepas dari buaian Malya.
"Meeza, ayo," ajak Bian seraya bangkit.
Gadis kecil itu kembali menatap ke dalam manik mata Malya. Air mata pun kembali luruh di wajah bulat nan ayu.
"See you again, Bun-daaa," isak Meeza seraya mengecup pipi Malya berulang kali.
Bahu Malya terguncang, dia menghidu wangi bocah miliknya. Menciumi bertubi mulai dari wajah hingga semua bagian tubuh yang dapat dijangkau.
"See y-ou ... aga-iin, Za-zaa, jangan lu-pakan bu-daa ya," ucap Malya terbata. Dia lalu melepaskan Meeza agar Bian dapat menggendongnya.
Mereka pun melangkah meninggalkan Malya yang kian tersedu di belakang rombongan. Bahkan Roby hanya menunduk, tak kuasa melihat wanitanya menangis separah itu.
__ADS_1
Saat tiba di pintu kaca, Malya melambaikan tangan, sesekali menyeka wajahnya. Tanpa di duga, Meeza melepaskan diri dari cekalan sang ayah, berlari menghampiri Malya.
"Meeza!" panggil Bian panik sebab pesawat akan flight.
"Bundaaaaaa!" serunya.
Grep. Malya menerima pelukan akhir Meeza.
"Pergilah, Baby. Buat bunda bangga ya, kuatlah di sana, Zaza," bisik Malya mengulangi semua wejangan, menciumi Meeza terakhir kali.
Roby menghampiri untuk membantu membujuk nona kecilnya.
"Bunda, bundaaaa," rengekan Meeza mulai membuat Malya kian berat, dia sesenggukan seraya mendorong Meeza agar masuk kembali.
"Maafkan bunda, Sayang." Tunduk Malya, tak kuasa lagi, dia teramat sesak.
Malya memohon pada Roby dengan tatapan iba, agar membawa Meeza.
"Kalian akan bertemu lagi, Byby janji," ucap Roby berbisik di telinga Meeza lalu membopongnya.
"Bye bunda!" tangis Meeza masih terdengar.
"Bye, Sayang!" balas Malya tanpa suara, hanya gerakan bibir bergetar, mengantar kepergian sang putri dalam dekapan Roby.
Lambaian tangan mungil, wajah sedih Meeza manjadi hal menyakitkan bagi Malya siang itu. Bahkan setelah kepergian Meeza, dia masih menekur diri di bangku tunggu.
"Nyonya, mari pulang." Camai yang menyaksikan semua peristiwa tadi pun turut berlinang air mata. Dia lalu memapah majikan wanitanya, berjalan terseok-seok keluar dari sana.
"Separuh nyawaku, pergi. Ini salahku, salahku," gumam Malya, masih dengan wajah berderai oleh bulir bening yang tiada surut.
"Bulan...."
.
.
...______________...
...ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜...
...Jangan lupa mampir di karya mommy untuk event male lead ya guys....
__ADS_1