
Dalam kabin sebuah mobil. Malam sebelumnya.
Malya mendekap boneka Minnie kesayangan Meeza, dia juga menciumi kaos terakhir yang putrinya pakai seharian tadi, bau khas keringat buah hati nan akan dia rindu.
"Nyonya, tujuan Anda kemana?" tanya sang supir taksi mengusik kubangan kesedihan Malya.
Ibu satu anak ini mendongak, menyeka lelehan lava bening dari wajah lalu menjawab sang driver. "Ke kost yang tidak terlalu mahal di pinggiran Jakarta, dan dekat ke arah Bogor," ujar Malya tak dapat menyebut tujuan secara jelas.
"Daerah mana ya Nyonya?" sambung pria dibalik kemudi.
"A-aku tak paham tempat. Aku tidak pernah keluar rumah sejak pertama kali menginjak tanah Jakarta, maaf. Aku percaya pada Anda," kata Malya, pasrah. Otaknya tak dapat berpikir jernih. Yang penting dia mempunyai tempat tinggal sementara.
Driver mengarahkan kendaraan menuju hotel melati terdekat sebab dia pun tidak mempunyai rekomendasi tempat tinggal yang layak dan takut wanita ini tak memiliki uang untuk membayar jasanya.
"Saya antar ke hotel melati sementara ya Nyonya. Di sana, Anda dapat bertanya tentang rumah kontrakan atau kost terdekat sebab biasanya karyawan juga kan ngekost," balas supir taksi.
Malya hanya mengangguk, dia tak memperhatikan jalanan yang mulai semakin gelap. Entah karena suasana hati atau memang lampu lalu lintas yang temaram.
Tak berapa lama, taksi yang membawanya menepi di depan sebuah hotel. Seorang pria membukakan pintu dan membantu calon tamu mereka.
Malya tak perlu bersusah payah menunggu, dia langsung di bimbing oleh room boy menuju kamar di lantai dua. Nyonya muda Cakrawala pun masuk ke dalamnya setelah memberikan tips pada petugas hotel.
Yang dia tuju adalah balkon mini. Netranya memendar angkasa malam, menyapa Dewi bulan nan setia dengan cahaya temaram di atas sana. Bagai kisah hidupnya.
"Bian, mari saling terbiasa tanpa kabar hingga semua ini menjadi hal remeh. Biarlah terasa asing sebab ego yang tak jua tunduk mengalah pada perasaan. Ayo menapak jalan masing-masing agar ikatan ini terurai tanpa ada lagi erangan kesakitan."
"Urusan kita hanya sebatas pada Meeza. Bukan jarak yang memisahkan, wahai putriku, tapi keinginan kami tak lagi sejalan. Bertahanlah Malya, meski sakit, hancur dan berdarah," gumam wanita ayu yang kini telah masuk masa iddah keduanya.
Udara malam Jakarta yang biasanya panas kini terasa kian menusuk ke dalam sumsum tulang, Malya pun memilih masuk ke dalam kamar. Menutup pintu dan menarik tirai lalu dia menuju bathroom untuk menggelar mihrab.
Malya tidur masih menggunakan mukena hingga menjelang subuh. Dia di kejutkan oleh ketukan keras di pintu kamarnya. Melalui lubang celah panel pintu, wanita ayu pun mengintip siapa gerangan tamu yang tak tahu waktu.
"Roby? ada apa? aku tak membawa apapun dari rumah itu selain uang cash pemberian Bian. Kartu miliknya pun telah aku serahkan," gumam Malya, meraih masker dari atas meja.
__ADS_1
"Siapa?" tanyanya memastikan.
"Saya, Roby, asisten pribadi mendiang tuan besar Brandon, Nyonya," jawab sang lelaki maskulin dari balik pintu.
Malya pun membuka pintu kamar sedikit, menciptakan celah untuk mengintip sang tamu. "Ada apa ya? aku gak mencuri apapun dari sana," jujur Malya sebelum dia di tuduh.
Roby hanya diam, melihat sekilas pada nyonya mudanya lalu menunduk kembali. "Maaf aku terlambat menyiapkan tempat tinggal bagi Anda. Saat breakfast, tolong turunlah ke resto, saya akan menjelaskan banyak hal di sana," ujar Roby lagi.
"Itu masih lama," jawab Malya tak enak hati jika Roby terlalu lama menunggu.
"Tidak apa, saya terbiasa menunggu. Anda baik saja, kan?" tanya pria tampan itu lagi, melihat ke arah Malya.
Mantan istri Bian mengangguk. "Gak apa, Alhamdulillah."
Asisten tuan besar pun membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan dan pergi dari sana.
Wanita ayu lalu memilih membersihkan diri setelah kepergian Roby, bersiap menyambut seruan Tuhan.
Satu jam kemudian. Pukul enam lewat sepuluh menit, Malya turun ke lantai dasar menuju resto.
"Nyonya, ini wasiat tuan besar untuk Anda. Silakan di baca," ujar pria di meja satunya, menyodorkan dua map coklat besar pada Malya.
Wanita ayu yang setia memakai masker itu pun menerima, membuka dan membaca pelan tulisan tangan di atas kertas.
"Apartemen untukku, sebuah mobil juga uang untuk memulai sebuah usaha sesuai hobi aku?" kata Malya, menoleh ke arah Roby.
"Kepemilikan saham lima persen di perusahaan retail Cakrawala? dan Anda, asisten pribadi aku?" tukas Malya tak habis pikir.
"I-ini sangat berlebihan. Aku tak dapat menerimanya," ujar Malya, menyerahkan berkas yang dia baca.
"Sudah valid dan sah di mata hukum. Semua atas nama Anda. Jikalau tak ingin menggunakan segala fasilitas ini, tidak masalah. Anda pasti akan membutuhkan sesekali waktu. Saya masih bekerja di perusahaan juga keluarga Cakra sekaligus menjadi asisten pribadi Anda. Jika ada hal yang tak nyaman dilakukan, sampaikan pada saya, Nyonya," tutur Roby panjang lebar.
Malya membola. Dia tak mengira, Brandon sangat sayang padanya hingga menyiapkan segala kebutuhan tanpa ada yang menyadari.
__ADS_1
"Sekarang, tolong kemasi semua barang Anda. Kita pindah dari sini setelah breakfast. Ada taksi online di luar dengan driver wanita, jangan khawatir Nyonya. Saya akan membantu menjaga marwah Anda dalam menjalani fase ini hingga selesai masanya nanti," ujar Roby, menundukkan pandangan.
"Malya. Tegarlah. Ada aku di sisimu. Tuhan, mahluk-Mu yang ini, cantik sekali. Sejujurnya aku nervous sedekat ini dengannya," batin Roby.
Mantan istri Biantara lalu meninggalkan hotel yang semalam dia sewa, mengikuti mobil KIA Carnival di depannya. Tak lama, taksi yang membawa Malya memasuki kawasan elite apartemen.
"Greenland paradise."
Roby berjalan di ikuti Malya, lelaki itu meminta satu orang security wanita untuk menemani mereka saat di dalam lift kala menuju lantai sepuluh.
"Lantai sepuluh unit 3A. Keyword Romal," kata Roby saat menekan tuts pada panel pintu.
Malya hanya memperhatikan tak berniat menanggapi. Hingga pintu apartemen itu terbuka, wanita ayu masih belum menyadari siapa saja penghuni di dalamnya.
Malya perlahan masuk ke dalam, mengagumi interior luxury. Saat akan menuju kamar, sebuah suara memanggil namanya, membuat langkah terhenti.
"Malya? Malya kan?"
Degh.
Suara familiar yang dia rindukan. Tubuhnya mendadak kaku, takut sekedar untuk membalikkan badan dan mengira ini hanya mimpi. Mantan istri Biantara susah payah mengatur nafas agar tetap stabil.
"Al."
"Nyonya, ini bukan mimpi. Silakan, unit saya di sebelah Anda. Jika perlu sesuatu, ketuk atau masuk saja. Keywordnya sama dengan milik Anda, permisi," kata Roby, meninggalkan suasana kaku di sana.
Kepergian Roby memberikan Malya keberanian untuk menoleh ke belakang tubuhnya. Seketika bayang sosok itu tertangkap ekor mata. Malya mulai terisak. Kedua telapak tangan kurus pun menutup sebagian wajah, nyaris tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Al," panggilnya lagi.
.
.
__ADS_1
..._________________...