
Pewaris Cakrawala tiba di gedung milik sang sepupu. Biantara lantas langsung menuju kantor pribadi saudara dari pihak ibunya ini.
"Hai, sudah makan siang belum? kita makan bareng di sini. Aku punya chef pribadi agar menyajikan makanan sehat," ujar pria tampan yang menyambut saudaranya itu.
"Belum. Gak mood juga, tapi jika cemilan sehat, boleh lah. Aku sedang penat," jawab Bian sambil duduk di sofa panjang ruangan itu.
Sang sepupu pimpinan perusahaan tambang lalu menekan interkom, meminta pada sekretarisnya agar memesankan menu sehat pada chef pribadi, untuk dua porsi.
Setelah itu.
"Kenapa sih, ada masalah apalagi? bukankah Cakrawala sedang dalam posisi stabil bahkan profit meningkat signifikan dari tahun lalu sejak berada dalam pimpinanmu?" tanya pria yang duduk di seberang Bian.
"Istriku. Aku seperti memiliki perasaan yang aneh padanya?" jujur Bian.
"Maria?"
"Ehm. Dia bukan sosok yang kebanyakan orang duga. Dia hanya ku jadikan kamuflase saja. Dan sekarang, mungkin aku kena batunya," beber Bian lagi.
"Maksud kamu? Maria itu bukan Maria?" desak sang sepupu.
Bian tak menjawab. Lelaki keturunan Cakwa menekan pangkal alisnya seraya menyugar rambut. Dia kesal.
"Aku bodoh. Perasaan itu jelas terasa," ucap sang pewaris Cakra.
"Apa yang ingin kau katakan sebenarnya? kau menyesal telah berpisah dengan Maria?" desak sang sepupu.
Degh. Bian tertegun. Perceraiannya dengan Malya hanya di ketahui oleh segelintir orang. Bahkan pelayan hanya tahu bahwa Malya pergi ke suatu tempat.
"Darimana kau tahu, itu hal yang sangat rahasia!" ucap Bian, curiga pada lelaki di hadapan.
Pria tampan dalam balutan jas sedikit terperangah atas kalimatnya. Dia kelepasan. Namun, segera di tepis dengan halus.
"Nenek Beatrice menyiratkan sesuatu yang mengarah ke sana. Aku hanya menduga bahwa kau menyesali keputusan penting. Jika ditilik dari sikap, kamu tengah dilanda galau, Bian. Dan itu pasti karena cinta," tutur sang pria.
Bian hanya diam, setia menatap ke dalam manik mata hitam bagai miliknya.
"Come on. Jatuh cinta pada sosok yang sama itu lumrah. Bukan kebodohan. Kau hanya harus menunjukkan bahwa dia sebenar-benarnya tambatan hati," terangnya lagi.
__ADS_1
"Tapi tebakanmu menohok," kata Bian lagi.
"Aku pria dewasa yang pernah jatuh cinta dan patah hati. Itu bukan sebuah kemampuan khusus. Hanya tebakan, dan kau mengiyakan secara tak langsung," elak sang sepupu.
Bian kembali merebahkan punggungnya di sofa. Benar-benar merasa limbung, seakan banyak hal berkurang dalam hidupnya.
Tak lama makan siang mereka telah siap. Kedua pria sejenak melupakan kisruh masalah di antara mereka.
"Kau kapan menikah?" tanya Bian.
"Wanitaku mencintai pria lain yang ku kenal baik. Aku saat ini sedang mengulur waktu, membiarkan dirinya meraih kebahagiaan semu. Jika dia lelah, aku akan masuk kembali," ujarnya.
"Buang waktu. Tak ku kira, kau rela menunggu dan melakukan itu semua," sahut Bian.
"Itulah cinta sejati. Rela terluka meski tak dapat memiliki raga. Melihat dia bahagia memang tak mudah tapi menyaksikan terluka sebab lelaki yang dia cinta tak membalas, itu bisa dikatakan seperti kau sedang main dokter-dokteran. Perlahan hadir sebagai penawar sakit, bukankah setiap pahlawan akan datang di saat akhir?" kekehnya.
"Emang agak lain sih, ya, kamu ini," seloroh Bian sama tertawa.
"Gimana turunan sih ini tuh, mama kan begitu dulu. Mencintai pria yang bukan pribumi bahkan melanggar aturan keluarga besar. Kau pasti paham kisah ini bukan?"' ujarnya lagi.
"Tahu sedikit. Aku gak begitu ingin mencampuri urusan orang lain apalagi tetua di masa lalu. Cukup hubungan horizontal antara kami saat ini harus terjalin baik. Setuju?" Bian menimpali. Dia menghindar dari pancingan komentar negatif.
Dirinya bukan hamba yang taat, bahkan Beatrice. Tapi paham aturan dasar yang tidak dapat dilanggar. Bukankah ajaran ada agar kita tak tersesat. Cinta tapi menggadaikan prinsip, bagi Bian tak masuk akal.
"Hubungan baik pun mempunyai akar. Sebab didikan, informasi masa lalu, habbit, membentuk apa yang disebut sebagai benang merah suatu peristiwa," ujar saudara Bian lagi.
"Maksudmu kau menuduhku hanya berpura untuk menjalin hubungan baik dengan sepupu? atau kau ingin mengatakan bahwa nenek Beatrice tak adil tentang tante Anne?" cecar Bian, tak suka bila dia ikut menjadi bagian dari masa lalu keluarga.
"Bukan begitu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa masa kini dan masa lalu itu bersambung. Tiada saat ini bila tak melewati kisah lalu bukan?" imbuhnya.
"Tapi kau harus memilah. Mana yang patut dan tidak. Bukan melibas rata bahwa semua anggota Cakrawala turut andil dalam masalah Tante Anne dulu," ujar Biantara. Ayahnya Briandana, tak terlibat apapun mengenai pengusiran dan pencoretan Anne dari ahli waris.
"Tentu. Aku pria berbudi dan bermoral baik, buktinya kita damai kan?" kekeh putra Anne.
Bian merasa obrolan sudah tak sejalan. Dia pun pamit undur diri.
"Thanks ya Andreas. Sudah menghibur dan menjamuku, aku akui chef mu memang handal," ujar Bian bangkit berdiri.
__ADS_1
Andreas tersenyum samar sekaligus mengangguk. Dia pun berdiri, menghormati tamunya pergi.
"Bian. Tetap saja, akibat kesalahan mama aku terabaikan. Briandana mengapa hanya diam ketika ibunya hanya melihatmu."
Dia menatap jendela di sampingnya. Melempar kebencian pada tetua Beatrice.
...***...
Greenland paradise.
Roby memikirkan pertemuannya dengan Bian di pintu lift tadi. Hatinya mulai risau apakah Malya akan kembali pada mantan suaminya itu.
Baru kali ini dia amat sangat tidak sabar menanti waktu. Desakan orang tua agar secepatnya menikah membuat Roby kian stres.
"Al, Al. Jangan balikan ya," gumam Roby. Dia memilih membasahi bagian tubuh dengan berwudhu. Lalu memohon ketenangan hati di dalam setiap panjatan doa.
Sementara di hunian sebelah.
Haji Syakur mohon izin bicara berdua dengan Malya di kamarnya. Lelaki sepuh itu meminta sang putri agar meminta ampun seraya banyak berdzikir agar hatinya tenang.
"Al, sebelum masa iddah selesai. Jika kamu ingin kembali, maka pikirkan baik-baik. Namun, apabila enggan, juga harus pertimbangkan dengan matang. Bian terlihat menyesal meski dia belum teguh pada perasaannya," tutur sang ayah.
"Tiga tahun, Yah. Tiga tahun, bukan waktu sebentar, dia tahu kebiasaan aku tapi mengapa tak sedikitpun membuka diri dan melakukan tanggung jawab suami dengan benar?" ucap Malya, tak melihat ayahanda.
Dia tak akan kuat menatap iris teduh milik pria sepuh di belakang tubuhnya. Malya lemah jika beliau sudah meminta.
"Enggak. Ayah gak maksa, tidak meminta, hanya mohon kamu mempertimbangkan kembali. Jika pada akhirnya berakhir, ya sudah, itu pilihanmu. Semoga di kisah baru nanti kamu menemukan bahagia. Sebab kadang, rasa kosong itu hadir saat dia tak lagi berwujud di depan mata," terang Haji Syakur, mengerti kemelut hati Malya juga status anaknya yang menyandang single parents.
Malya berbalik badan, menatap sendu ayahnya. "Aku mungkin mencintainya juga."
"Yah, a-aku...."
.
.
...________________...
__ADS_1