
Tak terasa hari menjelang petang. Meeza masih enggan melepaskan pelukan. Gadis kecil itu bahkan merengek agar Malya membujuk sang ayah sehingga memberinya waktu hingga esok pagi.
"Sekarang atau nanti, sama saja. Justru Meeza harus patuh agar ketika ingin bertemu bunda, mudah diloloskan dan kita dapat leluasa berjumpa," bujuk sang bunda lembut, membelai rambut lebat yang kian panjang.
Tak ada jawaban dari bibir mungil yang dia dekap. Meeza kian mengetatkan pelukan.
"Nenek Beatrice berpesan apa pada Meeza?" tanya Malya lagi.
"Oma bilang aku harus patuh, menjaga sikap, gak boleh drama kalau tiba waktu pulang," cicit Meeza dengan suara parau.
Isakan kecil terdengar oleh Malya. Dia pun masih ingin dengan malaikat mungil tapi apa daya, inilah keputusan yang pada akhirnya Malya sesali.
"Andai aku menepis ego dan tetap bertahan," batin Malya.
Roby sudah mengetuk pintu apartemen yang di huni oleh Malya, tanda bahwa perpisahan di ambang mata.
"Bersikap baik, pandailah mengambil hati oma di sana. Jaga salat dan ngaji ya, Nak," pesan Malya sembari membuka sedikit celah pintu.
Meeza mengangguk. "Meeza ingat pesan bunda," jawab si kecil.
Asisten Brandon yang ada di sebalik panel itu mendengar samar suara wanita di dalam ruangan. Bibirnya mengulas senyum, baru mendengar suaranya saja setelah sekian lama, dia merasa bahagia.
"Nona kecil, come on. Pulang dulu yuk, nanti bakal ketemu bunda lagi kok," bujuk Roby masih berdiri menyandar pada dinding.
Tak lama, Meeza muncul dengan membawa boneka Minnie dalam dekapan. Juga koper kecil yang tidak dapat di tutup sehingga Malya mengikatnya dengan pashmina dan di bentuk pita.
Malya melambaikan tangan dari celah pintu kala gadisnya menoleh. Dengan wajah sembab Meeza membalas sang ibu.
"I'm gonna miss you, bunda," isak Meeza kembali datang.
Terlihat uluran tangan Roby mengusap butir bening dari wajah mungil. Malya trenyuh, pria di balik pintu begitu peka akan perasaan putrinya.
"Jangan nangis baby, doakan bunda, oke? nanti Meeza bisa main lagi lain waktu, say bye to your Mom. l'll promise to be a good girl, Mom," kata Roby menuntun Meeza mengucapkan kata perpisahan sementara.
"Bye bunda, Meeza janji," cicit sang bocah. Dia memeluk Roby dan meminta gendong pada pria dibalik pintu.
"Nyonya, saya akan antar nona kecil kembali ke Mansion sekarang, terima kasih," kata Roby memunggungi Malya.
Tiada sahutan, hanya anggukan halus dan senyuman manis untuk putrinya saat dia perlahan menjauh. Malya memberikan banyak ki-ss bye untuk mengantar kepergian Meeza.
__ADS_1
Wanita ayu kembali rapuh, setelah menutup pintu, tubuhnya luruh ke lantai. Malya menangisi keputusan bodohnya.
"Kalau mau kembali ke Bian, masih bisa. Iddahmu belum selesai, Al. Bian menjatuhkan talak satu padamu kan?" ujar sang Ayah kala melihat putrinya terlihat menyesal.
"Aku tak dianggap sebagai aku, Yah. Dia akan melihat Malya jika mempunyai hajat. Aku hanya bayangan di sana. Meeza membutuhkan jiwa ibu yang sehat agar dia dapat mencontoh semua hal baik dari keluarga ayahnya," tutur Malya sesak.
"Apakah berpisah juga contoh baik? hubungan mu dengan Bian apa terjalin bagus?" sambung sang ibu.
Malya merenung. Memang ini pun bukan keputusan bijak sebab Meeza pasti akan bingung dengan kondisi kedua orang tuanya yang tinggal terpisah.
"Bukankah ibu yang bahagia akan tercermin dari sikap dan perilaku? Meeza melihatku tertekan di sana, meski aku sekuat tenaga tak menunjukkan itu. Tapi mereka, mereka kerap melayangkan kalimat sarkas di depan Meeza," ucap Malya membela diri, dia kini lebih sesak dari sebelumnya.
Haji Syakur hanya diam, dia melihat putrinya sudah bagai tulang terbungkus kulit. Burung dalam sangkar pun, jika majikannya berlaku lemah lembut tentu dia lambat laun akan nyaman dan lupa pada keinginan untuk bebas.
Mardiah tahu bahwa putri sulung mereka tertekan. Hidup di bawah bayang memang bukan impian, akan tetapi dia menilai Malya, seharusnya sabar.
"Kamu kurang sabar. Banyak wanita jaman dulu yang di jodohkan tapi gak ada cerai dan sebagainya. Sekarang menyesal juga percuma, Al, mungkin Bian sudah memilih calon istri baru. Dia pria kaya, tampan, tentu sangat mudah mendapatkan gadis yang bersedia berpura-pura cinta demi kemapanan," ulas sang ibu.
"Kamu ini gak punya hati atau gimana? justru karena Bian begitu, anakmu yang cuma bayangan bisa jadi makin di jadikan pajangan. Sudah tertekan di tambah selingkuh atau poligami. Mau jadi apa jiwa anakku," tukas Haji Syakur, lelaki itu bahkan memaksa tubuhnya agar dapat bicara tegas dan panjang.
Perdebatan antara ibu dan ayah membuat Malya kian dilanda gamang. Keduanya bahkan mengungkit masa lalu mereka.
"Al, banyak istighfar dan mohon petunjuk sama Allah. Bilamana keputusanmu benar mintalah agar di mudahkan segala urusanmu," kata Haji Syakur lembut.
Malya mengangguk. Dia bangkit dari duduk di lantai lalu menyeka jejak kesedihan di wajahnya. Langkah gontai pun perlahan menapak hingga hilang di balik pintu kamar.
...***...
Roby mengantarkan Meeza kembali, sepanjang perjalanan gadis cilik itu hanya diam. Dia mengeluarkan sebuah kalung dari balik bajunya, berinisial M dan S, persis namanya.
"Cantik sekali, dari bunda ya?" pancing Roby agar Meeza bicara.
"Hem, bunda, Meeza sudah kangen lagi," suara serak khas anak kecil menahan tangis mulai hadir lagi.
Roby lalu memutar mobilnya menuju mini market, mengajak Meeza turun sejenak untuk menikmati es krim.
"Bayangkan bunda seperti es krim. Lembut, manis dan dingin, kalau kangen bunda selain melihat bunga, Meeza bisa makan es krim jadi punya dua cara bukan? menikmati bayang bunda lewat bunga dan merasakan cinta bunda dengan es krim, gimana?" tawar Roby.
"Uncle tahu arti nama Bunda?" tanya Meeza berbinar, merasa memiliki kawan yang mengerti rasa hatinya.
__ADS_1
"Enggak. Oh, artinya bunga ya? pantas Meeza suka lihat bunga di greenhouse kalau uncle perhatikan," sahut Roby, sembari menyendok es krim ke dalam mulutnya.
Meeza antusias. "Emm! kata bunda, kalau rindu lihat saja bunga."
Kini hatinya lebih ringan untuk pulang, dia telah menemukan sahabat berbagi rasa. Perjalanan pun dilanjutkan kembali.
Kala mobil Roby menyentuh halaman teras depan, mereka berpapasan dengan Bian. Pria tampan pun terlihat membawa sebuah koper.
"Daddy!" seru Meeza menyongsong ayahnya. "Mau pergi?" tanya putri kecil Cakra.
"Iya. Mau bawa bunda kembali, semoga mau ya," ujar Bian, mengecup pipi Meeza.
"Bunda? ke sini?" sahut Meeza berseri.
"Iya, doakan daddy, oke?" balas Bian seraya menurunkan putrinya setelah anggukan cepat dia dapatkan.
Sari dan Nanny datang menyambut nona kecil mereka, lalu membawanya masuk meninggalkan sang ayah dan asisten Roby.
"Anda akan menjemput nyonya muda atau Nona Maria, Tuan," tanya Roby dengan wajah datar.
"Bukan urusanmu, kan?" tandas Bian seraya berlalu.
"Akan menjadi urusan saya apabila Anda menyakiti nyonya muda lagi, terlebih membohongi nona kecil. Mereka prioritas saya saat ini," tegas asisten mendiang Brandon.
Bian mendekati sang pria di belakangnya. "Jangan melewati batas, Rob! kau hanya berkewajiban menjaga bukan mencampuri urusan Malya," sergah Bian seraya menepuk lengan Roby.
"Status nyonya muda telah bebas dari Anda. Pun dengan kehidupan pribadinya. Sosok beliau diamanahkan pada saya include semuanya bukan?"
Bian menatap geram pada sang asisten. Roby berani mengancam seakan dia memberikan signal bahwa Malya adalah miliknya.
"Selamat jalan, hati-hati, tuan muda. Semoga nona Maria bersedia menjadi ibu pengganti," ucap Roby lagi.
"Aku peringatkan kau, Roby!" balas Bian saat akan masuk ke mobilnya.
.
.
...__________________...
__ADS_1
...Balikan gak? 🥴...