BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 35. MURKA IBU SULAIMAN


__ADS_3

Sudah satu pekan mamah muda menjalankan aktivitas baru sebagai staff keuangan. Kesibukan Malya terkadang di tangkap oleh Roby. Pria itu acap kali diam-diam mengetuk pintu unit sang nyonya setelah isya. Entah meninggalkan minuman sehat atau kudapan kekinian yang digandrungi wanita.


Seperti malam ini, Malya membawa satu jus mixed buah dan sayur serta salad Vietnam, baru saja di ambil dari rak yang Roby buat guna menaruh makanan.


"Enak kayaknya, Al?" tanya Mardiah saat Malya membuka paper bag di atas meja, bersisian dengan laptopnya.


"Kalau dia yang ngasih, gak ada yang tak enak. Semua sesuai selera," puji Malya untuk sosok lelaki bayangan.


"Roby perhatian banget ke kamu, jangan-jangan ada rasa, Al," ujar sang bunda, ikut mencicipi snack di atas meja.


"Enggak lah. Mana sepadan aku sama dia. Perfeksionis banget orangnya, sedangkan aku? ... lagian Roby itu pasti sudah punya pacar, gak pantes sama mahmud macam aku ini, Bu," kekeh Malya masih berkutat di depan laptop.


"Ya kali aja. Lagipula gak akan ada yang mengira kalau kamu sudah punya Meeza. Oh, iya, jadi ke keluarga Sulaiman? kapan?" sambung Mardiah.


"Aku lupa, tanya dulu deh," ucap Malya bangkit menuju kamar guna mengirim pesan pada Bian.


["Assalamualaikum. Maaf mengganggu malam-malam. Aku ingin menjelaskan semua yang terjadi selama tiga tahun ke belakang pada keluarga mas Sulaiman. Apakah Anda bersedia menemani untuk menjadi saksi atas segala apa yang menimpaku sejak awal hingga akhir?"]


Malya menuliskan pesan panjang untuk pertama kalinya pada Bian. Dia menunggu di kamar beberapa menit sebelum pesan tadi terbalas.


["Wa 'alaikumsalam. Gak usah bersusah payah, toh keluarga mereka akan tetap menyalahkanmu. Tapi jika kamu memaksa, kapan mau ke sana? baiknya dalam dua hari ini sebab aku akan pergi ke luar kota dan kembali awal bulan depan."] Balas Bian.


["Oke. Syukron."]


Malya kembali meletakkan gawai khusus komunikasi antara dirinya dan Bian di meja. Dia pun keluar kamar guna menyelesaikan pekerjaan yang belum tuntas.


"Gimana, Al?" tanya Mardiah.


"Katanya lusa. Bu, ayah ikut kan?" imbuh Malya, dia ingin kesalahpahaman ini berakhir.


"Ikut, biar kami juga menjelaskan dari sudut pandang orang tua. Coba tanya Roby, menurut dia bagaimana baiknya?" sahut sang ibu.


Malya mengikuti arahan ibunya. Menanyakan pada asisten Brandon tentang hal ini.


"Kata Roby, dia akan ikut menemani," ujar Malya kemudian.


Dua hari setelahnya.


Roby melakukan panggilan ke ponsel Malya tepat jam pulang kantor. Mengatakan bahwa ayah ibunya telah berada bersamanya.


"Nyonya, saya menunggu di parkiran depan lobby sebelah kanan," kata Roby.


Sementara di lantai atas.


Malya baru saja selesai melakukan pekerjaan akhir hari itu kala ponselnya berdering.


"Oke, tunggu sebentar, aku turun," ujar Malya bergegas.


Dia mengabaikan panggilan Michael kala baru tiba di lobby, sebab Bian juga mengatakan sudah menunggunya di parkiran.


"Malya!" seru sang pimpinan.


"Malya!" panggilnya lagi.


Wanita ayu menoleh sejenak, membungkukkan badan kala CEO itu menghampiri.


"Jangan lari-lari, kamu tergesa sekali, mau kemana?" tanya Michael.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Ada urusan keluarga, ada perlu dengan saya?" ucap Malya tak enak hati menjadi pusat perhatian.


"Enggak. Cuma mau bilang hati-hati saja," balasnya sembari tersenyum manis.


"Al," sebut suara seorang pria.


Malya menoleh, dia mendapati Roby menyusulnya. "Ehm, iya maaf, ayo," ajak Malya berbalik badan setelah mencondongkan badan sedikit untuk pamit pada Michael.


"Nanti kemalaman," sahut Roby sangat lembut. Dia lalu menatap pria di hadapannya, menganggukkan kepala lalu berbalik badan, menyetarakan langkah dengan Malya.


"Siapa? genit amat," tanya Roby lirih.


"Pimpinan aku," jawab Malya lugas.


Saat keduanya mencapai parkiran, Bian turun menyambangi keduanya.


"Al, aku call gak diangkat sih, ayo ke mobilku," titah Bian, dia terkesima melihat keseluruhan penampilan Malya kini.


"Beliau menunggu di mobil saya, Nyonya," kata Roby agar Malya masuk ke mobilnya.


Malya sejenak menimbang. Jika ikut Bian, dia bukanlah mahram dan tak ada wanita lain di dalam mobilnya. Maka, bunda Meeza memilih Roby.


"Maaf, Pak Roby lebih dulu sampai. Ibu dan ayah juga bersama beliau," sahut Malya menuju ke arah mobil Roby.


"Al," panggil Bian lagi tapi tak di gubris Malya. Dia pun kembali ke mobilnya dengan perasaan kecewa.


Pemandangan ini tak luput dari perhatian Michael, dia kian bingung melihat incarannya di perebutkan banyak pria. Tak lama, kedua mobil meninggalkan pelataran gedung.


...***...


Tiga puluh menit kemudian, kediaman Sulaiman, Jakarta timur.


"Assalamualaikum," sapa Haji Syakur mengucap salam.


"Wa 'alaikumsalam ... ka-kalian? Bu, ibu ada tamu," serunya memanggil sang istri seraya meminta mereka masuk.


Malya tak berani duduk, dia memilih berdiri di belakang kursi roda ayahnya.


"Al, duduk," pinta Bian, menggeser posisi di kursi three seat dengan Mardiah.


Entah mengapa, Malya justru melihat ke arah Roby. Pria peka itu mengangguk samar, menyilakan majikannya duduk di sana sementara dia tetap berdiri.


Sontak, ibu Sulaiman histeris ingin menyerang Malya kala melihat menantunya itu masih hidup.


"Malya! kamu Malya? kurang ajar!" teriak ibu Sulaiman, berlari menuju ke arah Malya.


"Bu, sabar!" teriak sang suami, tapi tidak di hiraukan.


Roby yang melihat ini, sigap menahan langkah mantan mertua majikannya itu. "Nyonya, jika Anda melakukan penyerangan terhadap beliau maka saya bisa menuntut Anda ke jalur hukum," tegas Roby mencekal kedua tangan ibu Sulaiman.


Malya menciut, hal yang dia takutkan terjadi. Dia pun beringsut ke belakang tubuh ibunya.


"Sabar, sabar," ujar ayah Sulaiman, menarik duduk istrinya.


"Langsung saja. Jelaskan duduk perkara. Kemana Malya selama ini? muncul tiba-tiba dalam keadaan sangat sehat lagi ayu dengan beberapa pria," tandas ayah Sulaiman.


Bian mengambil alih di masa ini, dia menjelaskan kronologis kejadian secara rinci hingga berujung perpisahan mereka.

__ADS_1


"Ya tetap saja. Anakku meninggal dan dia enak-enakan kawin sama dia. Menyesal pun gak guna," sergah ibu Sulaiman murka.


"Pokoknya aku gak terima. Nyawa di balas nyawa, kalian bakalan dapat karma! orang kaya kan harusnya bisa mencari tahu, mengembalikan Malya pada kami," sentak sang besan.


Haji Syakur menegaskan bahwa keduanya juga adalah korban seseorang.


"Mengembalikan apa? Iman gak bisa bangkit dari kubur! ... kan Nak Bian menjelaskan bahwa identitas itu diketahui setelah beberapa bulan. Beliau merasa bertanggungjawab terhadap Malya maka melanjutkan dengan menikahi putriku. Kamu bodoh atau gimana sih?" tutur Mardiah tersulut emosi.


"Tidak ada yang menghendaki peristiwa semacam ini. Malya baru saja bangkit dari keterpurukannya. Mungkin dalam hati dia pun sakit tidak dapat melihat wajah Iman terakhir kali," terang Haji Syakur.


"Heleh, alasan. Buktinya dia punya anak, keenakan kali ya, hidup mewah tinggal ongkang kaki. Emang matre, gak punya hati. Iblis kamu ya, Malya!" maki ibu Sulaiman.


Malya sudah terisak, tuduhan iblis tepat menohok hatinya. Hanya permohonan maaf yang keluar dari mulut sang mantan menantu. Sementara Bian mendengus kesal. Entah kenapa dia tak terima dengan segala ucapan kasar mertua Malya.


"KALIAN SEKONGKOL, PERGI! SAMPAH, MATRE SEMUA!" teriak tuan rumah mengusir mereka.


"Untung Iman belum sentuh kamu saat itu, dia bilang masih lelah saat kakaknya menggoda. Aku gak rela, ada benih putraku nan Soleh mampir di rahimnya, cuh!" sambung ibu Iman lagi.


"Astaghfirullah. Innalilahi, sudah berkali di tegaskan ini bukan salah mereka. Andaipun Malya bahagia dengan Bian, tentu tak terjadi perceraian," bela Haji Syakur lagi.


Roby mengepal geram, dia melihat wanitanya terpukul atas umpatan kasar. Malya hanya diam menunduk, terisak jua tak membalas semua itu.


Mereka pun keluar dari sana. Makian ibu Sulaiman terus bergulir untuk keluarga Malya. Dan tanpa di duga, saat melewati pintu, sementara perhatian Roby teralihkan sebab mendorong kursi roda Haji Syakur, mantan mertua wanita itu menarik hijab Malya hingga dia mendongak lalu menghempas kasar.


"Al!" pekik Roby, dia segera berbalik badan, berhasil menahan tubuh Malya agar tak tersungkur.


Sementara Bian melakukan hal sama pada ibu Sulaiman, menarik lengan dan menghempas kasar. "Kami sudah meminta maaf. Jangan sakiti Malya," geramnya.


"Lepaskan istriku!" giliran ayah Sulaiman turut andil mencekal Bian.


"Kurang ajar, lawan aku saja!" seru Mardiah, membalas perlakuan besan wanitanya.


Kisruh, ricuh hingga mengundang Chris turun dari mobil melerai pertikaian. Roby menarik lengan Malya dari sana seraya mendorong kursi roda Haji Syakur.


Bian menghalau tubuh Mardiah agar tak kena sasaran pukulan dari mantan besannya. Sementara Chris mengintimidasi keluarga bar-bar dengan ancaman.


"Stop atau masuk bui. Bukti yang kami miliki valid, mereka korban. Dan Anda melakukan penyerangan terhadap keluarga Nyonya padahal mereka berikad baik," tegas asisten Bian, membungkam kericuhan.


Tak lama, aksi tegang bubar. Bian membantu Mardiah yang lemas masuk ke mobil Roby, juga membopong mantan ayah mertuanya duduk dengan nyaman di sana.


"Dada ibu sakit gak?" tanya Bian khawatir penyakit jantung Mardiah kumat. Namun, wanita itu menggeleng pelan.


Sementara di sisi mobil lainnya.


"Ada yang sakit? ... silakan di pakai, Nyonya," kata Roby lembut, di sisi pintu kiri sedang membantu Malya membersihkan sepatu yang terlepas.


Deg!


"Al," sebut Bian. Dia melihat Roby sangat lembut memperlakukan Malya.


"Ya?"


.


.


...__________________...

__ADS_1


...Sulaiman, done. Los dol kata ini 😅...


__ADS_2