
Ketidakhadiran salah seorang pemegang saham menjadi pertanyaan anggota rapat. Jika demikian, posisi Bian hanya unggul dari poin saja. Survei karyawan menjadi nilai plus Biantara saat ini.
"Aku mewakili nyonya Sya, dalam rapat kali ini. Dokumen kuasa juga persyaratan lainnya telah di penuhi beliau, maka suara klien saya adalah sah," ujar lawyer yang sedari tadi hanya diam.
Tetua direksi menilik data dalam map yang di sodorkan kuasa hukum tersebut dan mengangguk tanda suaranya di terima.
Andreas gusar, ini di luar prediksinya. Sosok yang sulit di temui menjadi penolong Biantara.
"Beliau juga mengatakan akan memberikan dukungan pada tuan muda Biantara Cakra secara kepemilikan saham," imbuh sang lawyer lagi.
Dengan demikian, suara Bian unggul untuk dua kategori. Andreas pun kian panas, dia meluncurkan kondisi Beatrice yang ternyata sakit sejak empat bulan lalu dan ditutupi dari publik.
"Meskipun nyonya besar sedang dalam kondisi tidak fit. Performa justru melonjak tajam. Bukankah ini tidak berpengaruh banyak?" tegas Roby sebagai wakil resmi Brandon.
Kolega yang dijaga Roby, menyatakan tetap memilih Biantara, semua alasan mereka tertuang salam sebuah petisi. Roby, menyerahkan semua bukti ke hadapan para anggota direksi.
Lagi, pamor Andreas turun. Chris menunjukkan kondisi Malya yang terbaring sakit sebab kejahatan Maria. Dia menyodorkan bukti pada Roby.
Asisten Brandon terkejut, dia lalu menunjukkan hal ini pada Bian yang kini duduk di sebelahnya.
"Tuan muda. Nyonya," bisik Roby.
Biantara terhenyak, emosinya mulai muncul tapi dia teringat pesan Malya.
"Yakinlah aku menjaga tetua dan Meeza di sini, lakukan yang terbaik."
Bian memilih cara elegan, tak ingin menunjukkan kekesalan. Dia lalu mengirim foto Malya yang terbaring sakit ke ponsel Andre.
["Apa ini harus aku tunjukkan pada mereka?"] tulis Bian.
Roby menilai Biantara memang mumpuni sebagai pimpinan. Langkahnya tak pernah terburu. Dia yang meminta menjaga kolega Brandon, menunjukkan performa secara personal ke setiap anggota direksi lainnya. Memperhatikan kondisi keluarga para pendukung perusahaan Cakra juga lainnya. Membuat mereka tak merasa di perhatikan secara bisnis akan tetapi tersentuh secara emosional.
Aturan baru sejak tiga bulan lalu, telah mengubah Citra Bian kian menuju lebih baik. Sedekah dan agenda mengaji setiap Jumat pagi. Penyediaan kebutuhan pribadi wanita di toilet karyawan seperti pembalut, alat kesehatan juga klinik darurat. Mushola karyawan di perbesar. Ruang istirahat yang nyaman, juga tambahan cuti ibu hamil menyusui, bilik untuk pumping asi bahkan libur awal menstruasi selama dua hari setiap bulan bagi wanita yang menderita kram, Bian luncurkan.
Karyawan wanita Cakrawala kian di manjakan, tak heran elektabilitas Bian melonjak tajam sebab pimpinannya bagai meratukan kaum hawa.
Andreas menggeram mendapati Bian mengancam dirinya. Dia menatap tajam sang sepupu akan tetapi hanya ditanggapi santai oleh putra Briandana.
Ketuk palu pimpinan rapat menggema. Beliau menyatakan bahwa pimpinan Cakrawala tetap di pegang oleh Biantara hingga masa baktinya habis. Peninjauan kembali akan tetap di lakukan demi keberlangsungan Cakrawala di masa depan.
Tuk. Tuk. Tuk.
__ADS_1
"Rups selesai. Terima kasih atas atensi para direksi. Selamat siang."
Biantara menghela nafas. Ucapan selamat dia terima secara global dengan menangkupkan tangan di depan dada.
Setelah mengantar para petinggi dan direksi keluar ruangan hingga lobby. Bian mendekati Andreas yang masih ada di kantor sengaja menunggunya.
Pewaris Cakrawala kembali ke atas menemui sang sepupu dengan Chris.
"Bagaimana pemanasannya? seru kan?" cibir Andreas.
"Aku bisa saja mendesakmu, tapi untuk apa jika ku lakukan semuanya?" ujar Bian, dia menahan marah.
"Kau yakin?" tantang Andreas.
Bian tak lagi sabar, Malya terluka. Dia meraih jas Andreas, mencekalnya hingga pria itu terangkat dari kursi.
"Sudah ku bilang, jangan sentuh Malya-ku atau kau akan kehilangan sesuatu yang kau sayang. Nenek telah memberikan bagianmu, sah secara hukum. Itu!" ujar Bian menghempas kasar Andreas.
Map berisi keabsahan hak Anne dan Andreas di kukuhkan Beatrice. Dia akan melepas Mansion dan tinggal dengan Biantara.
"Mansion, cabang yang kau incar. Itu milikmu. Tante menginginkan Mansion sebab kenangan masa kecilnya di sana, kelinci, serta binatang kesayangan yang pernah tante pelihara masih utuh," imbuh Bian.
"Ambil jika kau mampu! aku pun sudah sangat panas duduk di sana," tegas Bian, menyiratkan bahwa dia tak takut kehilangan apapun.
Andreas keluar ruangan Bian dengan tertawa terbahak, entah apa yang dia anggap lucu.
Setelah Andreas pergi, Chris menjelaskan semua kondisi sang nyonya muda. Dia pun minta maaf menutupi ini sebab pesan dari Malya.
"Aku tahu. Dia peduli meski dalam diam, aku saja yang tidak peka. Chris, aku meminta sesuatu, tolong uruskan ya, waktu libur Meeza hanya dua Minggu. Aku Ingin ke sana menemani putriku sebab nenek masih belum boleh pulang hingga enam bulan lagi," ujar Bian, diangguki Chris.
Asisten itu lalu mendengar seksama instruksi dari majikannya lalu pergi melakukan apa yang dia minta.
Tuut. Tuut.
"Assalamualaikum, Bulan. Bunda mana?" tanya Bian saat panggilannya tersambung.
"Wa 'alaikumsalam, Daddy, bunda menangis tapi matanya menutup. Kata mbak Sari, dokter bunda demam tapi suntiknya sakit bunda," kata Meeza meracau sambil menangis.
Bian mencerna kalimat anaknya. Tidak biasanya Meeza kacau dalam menyusun kata kecuali dia sangat sedih.
"Oke pelan-pelan. Kata mbak Sari, bunda demam? dan dokter sudah beri obat untuk bunda lalu sekarang bunda kesakitan sampai mengeluarkan air mata meski tertidur? begitu, maksud kamu, Za?" ucap Bian merunut kalimat Meeza.
__ADS_1
"Iya. Bunda kasihan. Oma bilang bunda bobok tapi kenapa nangis?" imbuh Meeza lagi.
Bian menghela nafas, lukanya dalam sehingga memicu reaksi demam. Mungkin sangat sakit sehingga tanpa sadar Malya mengeluarkan air mata.
"Maria! awas kamu!" geram Bian, mengepal.
"Daddy ke sana ya. Jangan bilang bunda dulu," ucap Bian.
Dia lalu meminta sekretarisnya memesan tiket ke London sore ini juga. Tak lupa mengirimkan foto Malya ke seseorang.
"Bini gue luka. Dia gak bisa balik cepat. Lu alihkan kerjaan bini gue, pokoknya gak mau tahu," ujar Bian saat panggilan tersambung.
"Hetdah, mantan! lu pikir perusahaan emak lu, seenak jidat! ... tapi buat inceran gue sih, tenang lah bisa di atur," goda sang kawan.
"Inceran, inceran. Bini gue itu! awas aja, lu! gue mau nyusul, thanks," ucap Bian menutup panggilan untuk sahabatnya.
Satu persatu urusan selesai. Dia kini hanya fokus untuk satu hal lagi. Hubungannya dengan Malya.
...***...
Anne begitu gembira kala mengetahui Mansion menjadi miliknya. Bayangan halaman luas di belakang bangunan itu akan dia gunakan untuk bermain bersama putri bungsunya Andriana dan kedua cucu Valencia.
"Kapan Mami pindah. Andriana bisa memimpin perusahaan aku yang di Indo, sementara aku ingin tetap di England saja," ujar Andreas pada Anne.
"Secepatnya bila nenek bersedia pindah," ujarnya lagi.
"Mami kabarkan ini pada beliau saja di sana. Tugasku selesai, aku akan kembali ke Indonesia saat rapat rups berikutnya," ucap Andreas lagi.
"Mau apa lagi?" tanya sang bunda.
"Bagianku atas posisi sebagai CEO utama Cakra, belum terwujud," tukas Andre menutup panggilan.
.
.
..._________________...
Mommy bikin even berhadiah mug custom loh. selengkapnya ada di Grup Chat.. Join ya, klik gambar Oren bertuliskan grup chat di bagian depan sampul novel.
__ADS_1