
Dinda yang merasa pusing nya sudah berkurang dia duduk bersandar.
Anak ini anak yang kemarin gak tau jalan kan, kenapa ada di sini, kenapa sama pak Frans juga. Kenapa ini ada apa, Dinda hanya bertanya tanya dalam hatinya saja.
Sampai di kagetkan dengan suara Frans, yang mengajak anaknya itu untuk kembali ke ruangan nya lagi.
"Naomi ayo kembali ke ruangan Papa lagi". Frans berbicara dengan tegas.
"Aku mau nemenin kaka cantik Pa boleh ya", anak itu memasang muka melas.
"Tidak, Papa lagi sibuk Naomi, nurut sama Papa atau kamu pulang lagi ke rumah", bicara Frans sedikit meninggi.
"Naomi langsung menangis namun tanpa suara", di usapnya tangan Dinda oleh Naomi, Naomi terus merentangkan tangan nya minta di peluk sama Dinda.
Dinda kelabakan, kurang paham sama keinginan anak kecil itu.
"Adek mau apa?", ucap Dinda dengan pelan.
"Peluk kak, peluk aku sekali aja, janji kali ini aja kak, takutnya besok besok kita tidak bisa ketemu lagi, Naomi berbicara dengan derai air mata, namun tetap saja tangisan nya itu tidak terdengar sesegukan seperti orang menangis pada umum nya.
__ADS_1
"Kenalin kak nama aku Naomi Atalia Wiguna, umur aku 4 tahun tapi sebentar lagi 5 tahun", semoga kita bisa ketemu lagi nanti ya kak kalau aku udah besar, ucap Naomi
"Dinda yang melihat anak kecil itu menangis namun tanpa suara tangisan nya", hatinya merasa tercubit, pedih sekali rasanya.
Di rengkuh nya anak itu kedalam pelukan sambil di kecup kepala nya dengan sayang
"Sekolah yang pintar ya, biar menjadi wanita sukses tidak seperti kakak", ucap Dinda sambil meng genggam bahu anak kecil itu.
"Iya kak, Terimakasih pelukan nya, aku tidak akan melupakan kakak", Naomi tersenyum namun air mata nya tetap mengalir.
"l love you kakak cantik". Bay Naomi melambaykan tangan dan melewati Papanya.
Frans hanya melirik dengan tatapan tajam ke arah Dinda, lalu meninggalkan Dinda tanpa sepatah katapun.
Andai bapak nya bukan pak Frans aku akan mengejar anak itu, akan ku peluk erat. Dinda menangis membayangkan anak yang baru saja di peluknya.
Dia hebat bisa menangis tanpa suara, padahal anak masih sekecil itu, pikir Dinda masih muter muter tentang anak itu terus.
Naomi berjalan tanpa menghiraukan Frans meski Frans memanggil nya beberapa kali, dia sudah mulai paham dan hapal dengan jalan di kantor Papa nya itu.
__ADS_1
Naomi masuk lift di susul Frans. Lalu Frans menggendong Naomi, namun naomi masih tetap diam tanpa kata.
Setelah pintu lift terbuka Naomi mengeliat minta di turunkan dari gendongan Papa nya, setelah turun dari gendongan Papanya Naomi berlari ke ruangan Rio.
"Om Rio, tolong antarkan aku pulang ya, pliss Om mau ya". Naomi mengatup kan kedua tangan nya memohon pada asisten Papanya.
"Belum makan kan, makan dulu ya", ucap Rio nanti setelah makan Om anterin Naomi pulang.
"Aku makan di rumah aja Om, pliss ya Om antar aku sekarang", dengan suara mulai menclleos Naomi membujuk asisten Rio.
"Pak", Rio menatap bos nya meminta pendapat, dari tadi bos nya itu ada di situ namun tidak bersuara.
"Antar lah dia sampai rumah dengan selamat".
Frans tidak membujuk sama sekali anak nya itu, Frans bingung, karena baru kali ini Naomi seperti ini mogok ngomong dengan dirinya.
"Kalau gitu saya permisi pak", ucap Rio.
"Pa Naomi pulang ya, maaf ya kalau Naomi mengganggu kerja Papa". Ucap anak itu tanpa melihat muka Papanya karena dia menahan tangis agar air mata nya tidak turun lagi.
__ADS_1
❤❤❤
Selamat membaca, mohon tinggalkan jejak ya teman teman. Mohon like nya, Terimakasih🙏🙏🙏