BUKAN WANITA LEMAH

BUKAN WANITA LEMAH
44. Part 44


__ADS_3

Masuk ke dalam lift sambil menggendong Naomi, menuju mushola yang ada di perusahaan itu.


"Din sekarang jadi baby sitter", canda pak Harun, seorang karyawan kantor itu, yang baru saja keluar dari mushola.


"Bwahahaa, merangkak jadi apa saja pak kerja ini, yang penting halal bukan hehee".


"Iya Din, sikatt saja ya", hahaha tawa pak Harun dan Dinda bersamaan.


Pak Harun sangat ramah sama siapapun, manusia berumur 50 tahun itu sering sekali bercanda dengan Dinda dan Lusi.


"Dinda ya ampun ni anak baru nongol, kemana aja kamu?", Lusi bertanya dia baru saja selesai Shalat.


"Tar tar yaa jawabnya nanti aku kehabisan waktu ini".


"Yaudah iya aku tunggu di tempat biasa ya".


Dinda hanya mengangguk.


Naomi mengikuti apa yang Dinda lakukan.


"Hayooo", Dinda mengagetkan Lusi yang sedang bersandar dan memainkan ponselnya.


"Astagfirulloh kaget Din", hampir saja jantungku lompat ucap Lusi. Kamu dari mana? tadi siang aku dan mbak Tia cari cari gak ada. Ehh itu anaknya si bos ya Din?


"Iya ini aku habis nemenin Naomi".


"Beda deng yang udah dekat dengan bos mah", hahahaa tawa Lusi.


Heii anak cantik siapa nama mu?, cantik banget ya Din anaknya si bos.


"Aku Naomi kak, kakak siapa?".


"kakak namanya Lusi, temennya kakak Dinda".


Ohhh... Ucap Naomi sambil manggut manggut.


"11 12 ya Din sama bapaknya", hahahaaa tawa Lusi dan Dinda berbarengan.


Naomi bingung tidak tau artinya 11 12 yang di maksud Lusi.


"Udah udah ah, dia bingung tuh Lus, aku anterin dia ke bapaknya dulu ya, sebelum keluar taringnya hehee".


"Papa emang punya taring kak?", tanya Naomi dengan polos.


"Ehhhh nggg..nggak sayang, itu bercanda", duhh keceplosan deh ni anak kan bukan sembarang anak, batin Dinda.


"Yaudah yuk ke Papa kita".


Kali ini Naomi tidak minta di gendong, takut berat katanya, mereka bergandengan menuju ruangan Frans lagi.


Setelah mengetuk pintu dan di persilahkan untuk masuk. Dinda dan Naomi masuk ternyata di sana bukan hanya Frans doang, ada asisten Rio dan juga sekertaris Seni.


"Ehhh maaf mengganggu, kami akan keluar lagi", ucap Dinda tidak enak, sepertinya mereka sedang mengobrolkan hal penting.


"Jangan keluar, masuk kamar itu saja dulu", ucap Frans.


Dinda dan Naomi hanya menurut dengan ucapan Frans.


Mereka masuk ke kamar tanpa banyak kata lagi hanya mengangguk.


Setelah 5 menit percakapan Frans dengan sekertaris dan asistennya, Frans menyudahinya, takut Naomi dan Dinda menunggu terlalu lama, pikirnya.


Dasar bucin aja ente Frans, mangkanya jangan dingin dingin amat jadi manusia, bucin sendiri baru tau rasa kan.

__ADS_1


Seni langsung keluar dari ruangan Frans, berbeda dengan Rio yang masih duduk anteng, jam kerja sudah habis jadi dia bebas.


"Ngapain masih duduk santai di situ, sana pulang", usir Frans.


"Apasih bang, jam kerja sudah habis kan, bebas dong kaya biasa".


"Gak ada kaya gitu ya, sana keluar dari ruanganku".


"Bwahahaaa, tawa Rio pecah. Makanya bang jangan so soan ya, emang enak jadi bucin", ledek Rio.


"Adik durhaka kau", Frans menyenggol kaki Rio".


"Sakit bang", derama Rio meringgis seperti orang kesakitan. Kakak ipar bang Frans nih nendang kaki ku, teriaknya lagi.


"Ehhh jangan kurang ajar ya Iyo, geram Frans. Tidak sayang mana ada aku menendang kaki adikku sendiri", Frans takut Dinda mendengarnya lalu marah padanya, bisa bisa bahaya, belum juga Dinda membuka hati untuknya batin Frans.


Tawa Rio semakin pecah melihat muka panik kakak angkatnya itu, belum apa apa sudah sepanik itu dasar bucin. batin Rio.


Frans melirik Rio dengan sengit.


"Rio Raharja Wiguna", besok gue kirim lu ke antariksa.


"Ampun bang ampun untuk itu gue ampun maaf gue salah. Yesss akhirnya gue mau punya kakak ipar, siapa tau kakak ipar nanti selalu ngedukung gue heheheee, Rio cengengesan.


"Gak ada ya gak ada kaya gitu", Frans berjalan untuk membuka pintu kamar, mengajak Dinda dan Naomi pulang.


Trek....... tanda pintu terbuka, Frans tersenyum melihat Dua wanita yang ada di kamar peribadinya. "Sayang pulang yuk", ajak Frans.


Naomi dan Dinda keluar dari kamar itu.


"Pak saya pulang duluan ya", Dinda pamit.


"Sayang tunggu, bareng pulangnya".


"Ya ampun dekat pak saya dekat jalan kaki juga sampe", ucap Dinda lagi, tidak habis pikir dengan Frans yang berubah 180° itu.


"Siap bang", jangan lama lama ya takut jadi anak kalau terlalu lama, ucapan konyol Rio.


"Ayo ponakan om yang paling cantik tercantik di dunia, kita keluar dulu, biarin Papa dan Mama pacaran dulu di sini". Naomi hanya mengangguk.


Wajah Dinda sudah merah padam, marah bercampur malu.


Setelah Rio dan Naomi keluar, Frans ingin berbicara serius kepada Dinda.


"Sayang, peluk dikit ya boleh ya, lama lo sayang kita ketemunya sampe besok".


"Astagfirulloh Ya Allah", Dinda menghentakan kakinya dia memilih duduk di sopa. Frans mengekor di belakang seperti anak bebek saja ngepot mengikuti induknya.


"Jangan marah dong sayang, akhh desah Frans bingung sendiri. mangkanya ayo besok kita menikah supaya aku bisa bebas peluk dan cium kamu".


"Enteng banget sih pak, ucapan menikah menikah menikah terus, nikah tidak se enteng itu".


"Terus apa dong Dinda apa apa apaaaa, Frans menangkup wajahnya, tidak bisa berbuat apa apa, dia juga memukul kepalanya, percis seperti anak kecil yang kemauannya tidak di turuti.


"Jangan kenceng kencng nanti sakit, Dinda mengambil tangan Frans yang terus memukul kepalanya". Namun tenaga Dinda dan Frans sangat jauh beda, Dinda tidak bisa menghentikan itu.


Masss Frans, kamu dengar aku tidak sih, teriak Dinda, pusing dia juga ngadepin manusia seperti Frans itu.


Sontak membuat Frans berhenti memukul kepalanya.


"Yang kepalaku sakit", ucap Frans dengan lirih dia menjatuhkan kepalanya ke pangkuan Dinda tidak lama terdengar tangisnya.


Dinda juga aneh merasa tidak percaya kalau Frans menangis.

__ADS_1


"Mas kenapa menangis?".


Frans menggelengkan kepala, namu badanya bergetar, suara tangisnya memang tidak terdengar meraung.


*Sudah dua kali gagal bagi Frans dia sangat takut gagal lagi. Takut Dinda tidak menerimanya takut Dinda juga meninggalkannya.


Memang semua karena kelalaiannya menjadi lelaki yang kurang perhatian.


Mungkin dulu kalau saja dia tidak dingin, seperti seorang lelaki pada umumnya, kekasihnya tidak akan mencari yang lain.


Jika dulu dia secepatnya bisa menerima Mamanya Naomi, mungkin Mamanya Naomi itu tidak akan mencari lelaki lain atau tidak akan kembali ke pacarnya lagi.


Namun semuanya sudah terjadi, bahkan dengan tega Mamanya Naomi mengganti Naomi dengan uang dan pergi bersama kekasihnya*.


Sedikit lumayan tenang Frans mendongak menatap Dinda matanya masih ber air.


"Sayang berjanjilah padaku bahwa kamu tidak akan pernah meninggalkan aku, aku mohon, ucapnya lagi".


"Mas apa kamu sungguh sungguh, apa kamu serius, kamu tidak mempermainkan aku kan?", mata Dinda memicing mencari kebohongan di mata Frans.


"Tidak sayang, aku sangat serius, aku tidak mempermainkan kamu, aku dan Naomi butuh kamu".


"Apa kamu masih belum bisa mengikhlaskan masalalu mu", tanya Dinda lagi.


"Tidak sayang bukan aku tidak ikhlas, hanya saja aku merasa aku sangat bodoh tidak bisa mempertahankan apa yang aku miliki, aku ikhlas dengan takdir hidupku, aku merelakan mereka. Maka dari itu bertemu denganmu sekarang aku sangat taku, takut kehilangan lagi".


Dinda mengangguk ngangguk mendengarkan ucapan Frans.


"Jangan tinggalkan aku dan Naomi, aku sangat mencintaimu, ini memang terkesan aneh dan sangat terburu buru. Namun itulah kenyataaan nya, aku takut di tinggalkan lagi".


"Yaudah ayo pulang kasian Naomi sama pak Rio di bawah menunggu kamu mas".


"Jawab dulu sayang janji dulu", Frans mengenggam ymtangan Dinda.


"Iya aku tidak akan meninggalkan kalian".


Frans melompat dengan girang, lalu memeluk Dinda dengan erat, menciumi kepala Dinda bertubi tubi.


Ada rasa hangat, ada rasa yang tidak bisa Dinda ucapakn ketika berada dalam dekapan Frans.


"Udah ya peluknya, udah dosa banget ni kita", ucap Dinda lagi sambil mendongak menatap Frans.


Yang di tatap hanya cengengesan sambil menghujani kepala Dinda dengan ciuman lagi. Sebenarnya Frans tidak kuat untuk mencium bibir Dinda, namun takut Dinda murka padanya ini saja dia sudah meluk tanpa ijin lagi.


"Iya sayang iya, maaf ya", ucap Frans dengan lembut.


aku gak mau jauh dari kamu sayang, kapan kamu siap menikah denganku, aku juga belum tua tua amat lah sayang, masih kuat nanti memuaskan kamu?.


"Ngomong apasih", Dinda mencubit pinggang Frans.


Yang di cubit mengaduh dan ter kekeh.


"Sayang Naomi sama Rio sudah pulang lo, kita pacaran aja di sini ya, rasanya aku gak mau pulang".


"Jangan ngaco ingat anak di rumah pak, sudah tua banyak amat tingkahnya".


"Hahahaa yauda ayo pulang tuan putri, calon istiku yang paling cantik yang paling aku cintai".


Uwooo Dinda pura pura muntah. Baru saja tadi nangis nangis sekarang udah cengengesan seperti tidak ada apa apa, ucap Dinda.


Frans tidak menghiraukan itu, dia mengandeng tangan Dinda untuk pulang, lama lama berduaan di tempat sepi Frans takut tidak bisa mengontrol diri lagi.


❤❤❤

__ADS_1


Kali ini aku up panjang banget😂😂


jangan lupa like nya ya😊 Terimakasih🙏🙏🙏


__ADS_2