BUKAN WANITA LEMAH

BUKAN WANITA LEMAH
50. Part 50


__ADS_3

Pagi ini Frans dan Dinda berangkat kerja bersama, tadi pagi Dinda niatnya mau berangkat jam 6 tapi Mama Sinta tidak mengijinkannya.


jadilah dia berangkat kesiangan.


Semalam Dinda sudah menlpon keluarganya bahwa dia sabtu besok akan pulang bersama calon suami dan keluarganya. Dinda juga menjelaskan bahwa calon suaminya itu seorang duda anak 1, namun tidak menjelaskan kalau mereka orang kaya dan itu bos nya sendiri.


Ayah dan Ibunya sangat kaget, percaya tidak percaya, namun sangat bersyukur anaknya sudah ada yang mau melamar.


"Yah Ibu sangat bersyukur Dinda sudah bisa melupakan Romi". Ya Allah yah kita mau punya mantu orang kota kita mau punya besan orang kota juga, girang bu Ranti.


"Iya bu semoga inilah jodoh Dinda yang sesungguhnya, semoga dia bisa membahagiakan Dinda ya bu, sudah cukup anak kita merasakan kepedihan dalam hidupnya, jika mengingat 11 tahun silam rasanya Ayah tidak sanggup bu".


"Sudahlah yah tidak usah mengingat masa itu, Dinda sudah selamat Dinda juga sudah sehat.


Harusnya kita bahagia aja sekarang bakal punya mantu orang kota langsung punya cucu lagi hahaha.


"Iya bu, Gak sabar Ayah juga bu seperti apa wajah calon mantu kita itu, kata Dinda sangat tampan walawpun duda sudah punya anak 1.


"Ibu harus tlpon Salma dan Wahyu ini, supaya mereka datang lebih pagi dan membantu kita menyiapkan semuanya", Ayah hanya mengangguk bukan hanya istrinya yang girang dia juga sangat girang.


...****************...


Di Kantor


Frans masih kekeuh Dinda harus ikut pulang bareng bersamanya. Dinda juga kekeuh mau pulang ke kontrakan saja.


"Papanya Naomi aku mau pulang ke kontrakan saja", kekeuh Dinda.


"Mamanya Naomi mau ikut pulang ke rumah sana atau aku yang menginap di kontrakanmu itu?"


" Ya Allah", kesal Dinda.


"Ayo pulang, ajak Frans lagi".

__ADS_1


"Duluan sana, aku nanti nyusul, tidak enak di liatin karyawan kaya tadi pagi".


Meskipun tidak setuju dengan ucapan Dinda namun Frans hanya menurut saja.


Setelah 10 menit menunggu, Dinda masuk ke dalam mobilnya dengan muka di tekuk.


"Ke kontrakanku dulu, mau ambil baju", ucap Dinda. Frans hanya mengangguk tanda setuju.


Sampai di kediaman Wiguna sudah jam 6 sore. Anak kecil masih setia menunggu di depan teras kali ini.


"Mamaaa Papaa, teriak Naomi sambil berlari ke arah mobil yang Frans dan Dinda tumpangi". Frans tersenyum, sebahagia ini rasanya pulang kerja di sambut dengan teriakan anak batinnya.


"Haiii cantik", sambil tersenyum hangat Dinda menyapa Naomi. Jangan gendong dulu ya Mama kotor habis pulang kerja.


Walawpun sambil manyun Naomi sambil mengangguk.


Masuk ke dalam rumah, membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya, setelah itu Dinda mencari Naomi, bukan apa apa anak itu tadi mau di tinggal mandi saja muka nya sudah di tekuk dan berkaca kaca.


"Nyari apa Dinda?", tanya Mama Sinta.


Malam Ma, Dinda lagi nyari Naomi tadi dia sudah mau nangis pas mau Dinda tinggal mandi.


"Maafkan Naomi ya nak, pasti kamu juga kurang nyaman dengan sikap Naomi", ucap Mama Sinta dengan sedih.


"Tidak apa apa Ma, Dinda senang ko, Mama tidak usah merasa bersalah seperti itu".


Mama Sinta memeluk Dinda sambil mengucapkan Maaf dan Terimakasih. Maaf membuatmu tidak nyaman dengan sikap Naomi dan Frans, mereka sangat posesif terhadapmu. Terimakasih sudah mau menerima Frans Terimakasih sudah mau menerima Naomi sayang, Mama merasa senang anak dan cucu Mama sudah mempunyai arah tujuan hidupnya sekarang, Mama percaya padamu kamu bisa membawa hidup mereka lebih berwarna. Ucapan Mama Sinta sangat tulus sambil menitihkan air matanya.


"Mama jangan seperti ini, Dinda yang harus berterimakasih, Terimakasih sudah mau menerima Dinda perempuan kampung, udik sangat jauh dari kata sempurna ini".


Mama Sinta tersenyum mengelus kepala Dinda, "Semua manusia sama di mata Allah sayang, Mama tidak berhak menentang takdir Allah. Justru Mama sangat bahagia akan mendapatkan menantu yang hatinya lembut sepertimu".


"Mamaaaaa, Oma itu Mamanya Naomi", sambil menengteng buku gambarnya Naomi berlari ke arah Dinda dan Mama Sinta.

__ADS_1


Mama Sinta terkekeuh melihat cucunya yang posesif.


"Iya deh iya ini Mamanya Naomi, udah punya Mama jadi lupa sama Oma ya", candanya.


"Oma udah setiap hari sama Mama baru dari kemaren", ucap Naomi.


"Sabar Ma, sambil mengelus punggung sang istri Papa Wira tertawa". Bukan apa apa tadi Papa Wira melihat Naomi yang sedang menggambar di ruang keluarga, kesusahan untuk menyerut pensilnya, niat ingin membantu namun mendapat penolakan dari cucunya itu.


Mama Sinta dan Papa Wira tidak tersinggung dengan sikap cucunya, mereka memaklumi bahkan mereka bahagia melihatnya, sejak bayi belum pernah di rawat oleh seorang ibu, mungkin itulah yang membuat Naomi se posesif itu terhadap Dinda.


"Naomi tidak boleh begitu ya", ucap Dinda sambil menggendongnya.


"Iya Ma, Mama marah ya?", tanya Naomi sambil menunduk.


"Ehh tidak sayang Mama bukan marah, tapi Mama cuma mau bilangin Naomi, harus bersikap ramah terhadap orang tua, apalagi itu Oma dan Opa yang sudah sejak dulu nemenin Naomi", ucap Dinda sangat hati hati karena sudah terlihat gendangan air dari pelupuk mata Naomi.


"Iya Ma", ucap Naomi, sambil menelusupkan kepala kedalam kedudung Dinda.


Dinda tertawa geli.


"Kenapa di gendong?", tanya Frans yang baru menuruni anak tangga.


Dinda hanya menggeleng sambil tersenyum.


"Gendong Papa aja yuk, kasian Mama baru pulang kerja capek".


duhhh berasa udah jadi suami istri beneran deh, batin Dinda geli sendiri.


"Gak apa apa Pa, ucap Dinda. Naominya juga menggeleng tidak mau".


"Yaudah ayo duduk sayang, berat Naomi udah gede, kamu jangan terlalu memanjakannya juga", sambil bicara Frans menuntun Dinda ke meja makan.


Makan malam kali ini dengan penuh derama.

__ADS_1


❤❤❤


Jangan lupa like ya😊 Terimakasih🙏🙏🙏


__ADS_2