
Ke esokan harinya sebelum Frans ke kantor iya menyempatkan waktu untuk ke rumah sakit terlebih dahulu, tadi sempet tlpon ke mertuanya menanyakan bagaimana kabar Oma Rena dan katanya sudah semakin membaik.
Frans masuk ke ruangan itu menyengit heran karena melihat mertuanya sedang menyuapi Oma Rena sarapan pagi.
"Assalamualaikum".
"Walaikum salam, ehh nak", Bu Ratna langsung mendekat pada menantunya.
"Sehat Ibu? Ayah kemana?".
"Alhamdulillah sehat nak sangat sehat, Ayah tadi kedepan mau membeli kopi katanya", senyum Bu Ratna sangat mengembang, Frans juga menampilkan senyumannya.
Oma Rena melihat Frans langsung menangis, mungkin kalau bukan karena cucu mantunya memasukan dia ke penjara dan sampai dia sakit, di penjara tidak ada makannan enak tidak ada buah segar tidak ada sayur sehat apalagi vitamin, sebulan lebih berada di sana akhirnya membuat dia sadar atas segala kesalahan selama hidupnya.
"Mama kenapa nangis?", Bu Ratna langsung mendekat lagi.
"Mama merasa tidak pantas dengan ini, Mama tidak pantas mendapat kebaikan dari kalian", Oma Rena menangis sesegukan.
"Ya Allah Ma jangan seperti ini", memeluk dengan erat.
__ADS_1
"Pagi Oma", sapa Frans.
Mendengar suara Frans menyapanya Oma Rena semakin hiteris, beberapa saat Bu Ratna hanya bisa memeluk dan Frans sesekali mengelus punggung yang masih sesegukan itu.
"Oma saya memang terkenal kejam dan sangat sulit bagi saya memaafkan orang yang sudah membuat kesalahan, namun berkat cucu Oma Dinda saya seperti sekarang dan berkat mertua yang begitu baik selalu menasehati saya, Maaf jika saya tidak berperasaan dengan tega memasukan Oma ke dalam penjara".
"Tidak kamu tidak salah memang semua ini kesalahan Oma dan Oma pantas mendapatkan hukuman sampai matipun kesalahan Oma tidak akan pernah bisa di tebus", meski dengan terbata bata ucapan Oma Rena.
"Sekarang jadilah orang yang baik dan selalu bersyukur".
"Oma mau bertemu cucu Oma, mau minta maaf padanya kesalahan Oma begitu banyak".
"Maaf Oma untuk itu saya tidak bisa mengijinkan langsung ketemu dengan Dinda, saya masih takut dia terauma lagi".
"Mama sabar ya kita pelan pelan ketemu Dinda nya", ucap Bu Ratna.
Dan Oma Rena hanya bisa menurut walawpun dia ingin sekali bertemu dengan Dinda namun apalah daya memang semua ini karena kesalahannya karena perbuatannya, bahkan kata maaf saja tidak bisa menembus kesalahan yang begitu besar pada anak cucu dan menantunya.
"Maafkan Oma Frans maaf", Oma Rena memegang tangan Frans sambil bergetar.
__ADS_1
"Oma tidak ada salah, saya hanya tidak mau siapapun orang yang sudah membuat hati istri saya hancur hidup dengan tenang".
"Assalamualaikum, oh sudah ada Frans", ucap Ayah Hendra.
"Iya Ayah, sehat?", tanya Frans sambil menyalami mertuanya.
"Ayah sehat nak bahkan sangat sehat, senyum Aya Hendra. Mau sakit apalagi semua kebutuhan di tanggung sama menantu tinggal menikmati hidup".
Frans terkekeh, nyatanya hidupnya yang sekarang lebih menyenangkan dan sangat berwarna, bahkan semenjak menikah dengan Dinda tidak pernah badannya merasa lelah berlarut larut, tidak pernah merasa sulit, bisnis juga lancar dan semakin maju.
Dinda selalu mengajarkannya untuk bersyukur berdo'a dan ikhlas, jiwa dan raganya tidak merasa hampa dan kekurangan lagi.
Memuliakan orang tua istri, anak dan mertua semakin membuatnya jaya, bisa di bilang Frans menghidupi dan mencukupi tiga keluarga, harta nya bukan semakin berkurang malah semakin bertambah.
Lelah pulang kerja di sambut dengan senyuman dan pelukan dari istri mendengar teriakan girang sang anak menyambutnya, nyatanya lelah itu akan hilang seketika terganti dengan kebahagiaan yang tidak bisa Frans jelaskan dengan kata kata.
.
.
__ADS_1
.
❤❤❤ Happy reading 😘😘😘 Jangan lupa like ya hehe Terimakasih🙏