BUKAN WANITA LEMAH

BUKAN WANITA LEMAH
35. Part 35


__ADS_3

Oma Sinta menaiki anak tangga sampai ke lantai 2 langsung mengetuk pintu kamar cucunya.


"Tok tok, Sayang Oma boleh masuk gak".


"Masuk saja Oma".


Oma Sinta membuka pintu melihat cucu nya sedang menggambar, anak itu hoby banget menggambar.


"Gambar apa sayang?", tanya Oma Sinta.


"Gambar ini Oma", Naomi menunjukan gambarnya, bagus kan gambarku Oma?.


"Wahhh cucu Oma emang pinter banget".


"Kedapur yuk temenin Oma bikin kue, Naomi mau gak?", Oma sinta sengaja tidak langsung memberitahu Naomi kalau ada Dinda di bawah, tadi dia berbohong kalau Dinda tidak bisa kesini karena sibuk.


"Yaudah ayo Oma", dengan tidak semangat Naomi turun dari kursinya.


Oma yang melihat cucunya menampakan muka cemberut dan jalan tidak semangat. Rasanya ingin tertawa.


Coba liat deh kalau udah ketemu sama tuh orang yang sering dia sebut sebut seperti apa mukanya, batin Oma sambil berjalan di belakang Naomi.


"Ehhh kok kedapur sayang sini dulu ke ruangan tv. Oma mau nonton dulu sebentar saja".


"Oma katanya mau bikin kue, ahhh Oma gak asik", semakin di tekuk saja mukanya. Oma Sinta hanya menggelengkan kepala sambil menahan tawa.


Naomi berjalan dengan gontai karena malas. Jalan seperti tidak makan tiga hari tiga malam, muka cemberut sambil nunduk.


Setelah sampai keruang tamu, Naomi masih nunduk saja sambil memainkan gantungan kunci berbentuk kelinci yang dia bawa tadi dari kamarnya.


"Kamu gak mau ngeliat kedepan sayang, siapa tau di depan ada pemandangan bagus", ucap Oma.


Dinda hanya diam saja memperhatikan anak itu.


"Ahhh Oma sama saja kan ini ruangan gak ada yang..... Ucapannya menggantung", Naomi berkali kali mengucek matanya.


"Oma kakak cantik?", Naomi bertanya memastikan, dan di jawab dengan anggukan oleh Oma.


Anak itu langsung berlari melompat ke pangkuan Dinda.

__ADS_1


Dinda dengan sigap menangkap anak itu.


"Heii kan sudah di bilangin jangan lari lari takut jatoh", ucap Dinda sedikit khawatir karena tadi Naomi hampir saja menyenggol meja kaca yang ada di ruangan itu.


"Hehee maaf kak, aku terlalu bersemangat, aku merindukan kakak Dinda", Naomi memeluk Dinda seakan tidak mau di pisahkan.


Oma yang melihat itu sangat terharu sudut matanya langsung mengeluarkan air, benar cucunya itu sangat membutuhkan figur seorang ibu, tapi bagaimana dia tidak bisa memaksakan kehendak anak nya.


Naomi dan Dinda, bermain dan bercanda. Tawa mereka memenuhi ruangan itu, bahkan tawa Naomi yang tidak pernah sebegitu kencang nya kali ini terdengar sampai lantai 2.


Frans yang baru keluar dari ruangan kerja nya di iringi asisten Rio, dia menggelengkan kepala dan sedikit menyunggingkan senyum nya, mendengar tawa dari Naomi seperti itu rasanya mendapat angin segar.


"Dengar kan gimana bahagianya Naomi, mulailah berdamai dengan masa lalumu, lupakan kenangan yang menyakitkan itu", Rio menepuk pundak sang kakak angkatnya itu.


Jika di luar pekerjaan atau di luar kantor mereka layaknya adik kakak namu tetap Frans dengan mode dingin nya.


"Entah lah yoo, gue akan berusaha".


"Gue akan selalu dukung, lu abang gue, carilah kebahagiaan yang sesungguhnya".


"Ya thanks". Singkat padat jelas, mana ada Frans bicara panjang lebar, selain menjelaskan tentang pekerjaan.


Mereka menuruni anak tangga, menuju dapur untuk makan siang.


"Dengar dan lihatlah nak, bagaimana anakmu itu tertawa dan bahagia", Mama sangat enggan untuk mengganggunya.


Frans hanya diam saja, dia juga tidak menyagkal, ini sudah keduakalinya mendengar Naomi tertawa bahagia seperti itu.


"Rio selidiki bagaimana latar belakang gadis itu, Papa percaya padamu, kamu pasti bisa melakukan nya kan?".


"Masalah itu hal gampang Pa, serahkan padaku".


"Terimakasih nak, ucap Papa Wira".


"Mama panggil Naomi sama Dinda dulu ya, mau bagaimanapun ini sudah waktunya makan siang".


Papa sama Rio mengangguk beda dengan Frans dia tetap saja tak bergeming dengan muka lempengnya.


Sampai meja makan Naomi Dinda sama Oma Sinta. Dinda sangat merasa canggung tidak enak hati, tadi juga dia sudah sangat menolak untuk ikut makan bareng namun paksaan dari Naomi sama Oma Sinta, akhirnya dia ikut dan Dinda kira hanya akan ada mereka doang bertiga.

__ADS_1


Ternyata sudah ada banyak orang di meja makan itu, membuatnya semakin canggung.


"Selamat siang Pak", Dinda membungkuk hormat, menyapa pak Wira terlebih dahulu.


"Iya siang Dinda, tidak usah terlalu pormal dan canggung seperti itu Din, duduklah makan bersama kita".


"Siang pak Frans pak Rio", Dinda menyapa dua mahluk itu.


"Iya siang Din", ucap Rio.


Frans tetap teguh dengan sedikit anggukan tanpa mau membuka mulutnya atawpun melirik orang yang menyapanya itu.


"Mari kita mulai makan semuanya, Dinda jangan sungkan ya makan saja apa yang mau dan yang kamu suka", ucap Mama Sinta.


"Ayo kak kita makan, suapin boleh", ucap Naomi, dengan raut wajah meminta di kasihani.


Oma Opa dan juga Rio dibuat melongo dengan permintaan anak itu.


Biasanya Oma mau menyuapi nya makan juga sering tidak mau karena alasan sudah gede. Lah ini terang terangan dia yang memeinta, sangat langka pikir mereka bertiga.


Namun bagi Frans ini yang kedua kali anaknya itu minta di suapin makan sama Dinda.


"Makan sendiri Naomi sudah gede", ucap Frans.


Naomi langsung menunduk sedih.


Dinda mengangguk tanda setuju.


"Tidak apa apa pak, sesekali boleh", ucap Dinda tidak tega melihat muka sedih Naomi.


Dinda menarik kursi berwarna emas sangat berat baginya.


*Ya Allah ini kursi berat banget terbuat dari apa ya, warna emas lagi, aku dulu hanya melihat dari tv, tapi sekarang merasakan seperti apa duduk di kursih ini.


Ya Allah piring gelas sendok garpu juga bagus semua.


Jiwa miskin ku meronta, batin Dinda*.


Setelah semua mengambil nasi barulah Dinda mengambilkan nasi untuk Naomi, dengan sedikit bergetar tangannya, rasanya seperti mimpi makan di meja makan seperti ini dengan lauk yang seperti mau hajatan, pikir Dinda.

__ADS_1


❤❤❤


Selamat membaca, jangan lupa like ya. Terimakasih🙏🙏🙏


__ADS_2