BUKAN WANITA LEMAH

BUKAN WANITA LEMAH
48. Part 48


__ADS_3

1 Minggu telah berlalu, Frans dengan sikap semakin posesif nya, membuat Dinda kadang kadang jengah juga.


Bahkan Dinda sudah pernah di bawa oleh Frans ke rumahnya, dengan terang terangan Frans memperkenalkan Dinda kepada kedua orang tuanya bahwa Dinda adalah pacarnya, Mama dan Papa Frans tidak keberatan bagai mana latar belakang keluarga Dinda.


Seperti hari ini Frans dengan enteng menarik Dinda masuk ke dalam mobilnya.


"Bisa tidak sih jangan langsung di tarik, bicara terlebih dahulu kan bisa", tutur Dinda.


"Kamu kalau di ajak suka ada saja alasannya", timpal Frans lagi.


"Ya tapikan gak gini juga, main tarik tarik aja udah kaya ke barang aja sesuka hati", keluh Dinda lagi.


"Iya maaf sayang, maaf ya", ucap Frans dengan tulus, dia juga merasa kalau perlakuan nya itu tidak benar, namun ya mau gimana lagi, kalau di ajak suka ada saja alasannya.


"Mau kemana?", tanya Dinda dengan bingung sebab ini sudah sore.


Iya tadi Dinda di tarik pas baru saja dia mau keluar gerbang untuk pulang, kali ini Dinda berjalan sendiri karena Lusi sudah 2 hari ijin pulang kampung karena orang tuanya ada yang sedang sakit.


"Makan malam bareng Papa Mama sama Naomi mau kan sayang, mereka menyuruhku untuk membawa kamu".


"Belum mandi, pakaian juga kotor", keluh Dinda menunduk, sebenarnya bukan hanya itu saja, Dinda merasa dia tidak pantas berada di keluarga Frans yang nyaris sempurna dari segi apapun.

__ADS_1


"Mandi di rumah sana aja, di sana Mama juga sudah sediain baju buat kamu, tadi juga udah bilang kita makannya hanya di rumah tidak keluar sayang.


"Sebenarnya aku merasa tidak pantas berada di keluarga kalian, aku bukan siapa siapa, jauh dari kata sempurna".


"Heii aku sudah beberapa kali bilang, bahkan Mama sama Papa pu tidak pernah mempermasalahkan bagaimana kamu, berentilah berpikiran seperti itu, kamu pantas dan kamu layak di cintai".


Setelah berbicara seperti itu, mereka berdua terdiam dengan pikirannya masing masing.


Frans bingung harus bagaimana lagi untuk meyakinkan Dinda.


Dinda yang masih belum percaya, takut dia sangat takut di permainkan, baginya cukup sekali saja di permainkan dan itu sangatlah sakit.


Gadis kecil dari tadi sudah menunggu di depan pintu. Oma Sinta tadi mengatakan pada Naomi bahwa Dinda akan ikut bersama Papanya.


Terlihat di ujung, mobil Papanya masuk ke pintu gerbang, Naomi langsung berlari dia tak sabar menunggu Dinda.


Baru Dinda membuka pintu mobil, Naomi langsung mendekat padanya.


"Mamaaaaa", teriak Naomi.


Gelagapan sendiri di panggil Mama sambil di peluk. Sedikit mematung hatinya tergelitik dengan ucapan Naomi tadi.

__ADS_1


Frans juga mendengar ucapan anaknya itu, dia semakin tersenyum bahagia.


"Nak cepat masuk sini sudah sore", ucap Mama Sinta.


"Iya Ma, ayo masuk sayang", ucap Frans.


"Sayang mandi dulu saja bersih bersih, Mama sudah siapin baju kamu di kamar tamu ya", ucap Mama Sinta dengan lembut.


"Iya Ma Terimakasih ya", ucap Dinda, langsung menuju kamar tamu yang di tunjukan untuknya.


Melihat cucunya sangat antusias dan senang dengan kehadiran Dinda, Mama sinta sangat terharu, tidak ada alasan baginya mau bagaimanapun keluarga Dinda, yang terpenting Anak dan cucunya bahagia.


Makan malam sudah siap, tinggal menunggu semuanya kumpul, Naomi dari tadi sudah sangat lengket dengan Dinda.


Frans merasa sangat bahagia melihat anaknya bahagia, meski hatinya meronta dia juga sangat ingin berdekatan dengan Dinda.


Makan malam dengan tenang, Naomi yang manja selalu minta di suapin jika sedang bersama Dinda.


❤❤❤


Selamat membaca❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2