
Selesai makan, mereka mengobrol di ruang keluarga.
Naomi masih dalam pangkuan Dinda, tidak mau lepas dari Dinda meski Mama Sinta sudah membujuknya.
"Jadi kapan kalian akan menikah?", tanya Papa Wira.
Deg.. Kaget bukan main Dinda.
"Aku sih ingin secepatnya Pa, tapi terserah Dinda saja aku tidak mau memaksanya".
"Lebih baik secepatnya menikah, tidak baik pacaran terlalu lama apalagi orang seperti kamu Frans, Papa tidak yakin dengan kamu yang bisa mengontrol diri kamu sendiri". Bagaimana Dinda, kamu sudah siap menikah, umur kamu juga sudah cukup untuk menikah bukan?.
"Horeeee Mama Naomi Mama Dinda, Naomi udah punya Mama, Naomi mau tunjukin ke Sisil kalau udah punya Mama cantiiikkk banget", antusias Naomi melompat dari pangkuan Dinda berjingkrak jingkrak.
Sedangkan Dinda berperang dengan hatinya sendiri, di sisi lain masih belum sepenuhnya percaya, namun jika melihat kebahagiaan Naomi diapun merasa bahagia, tidak menampik dia juga sudah mulai menyukai Frans, namun ragu dan takut. Pikir Dinda, Romi saja yang belum jadi apa apa bisa setega itu dengan dia, apalagi Frans yang sudah punya semuanya nyaris sempuran, bahkan banyak sekali yang menyukai Frans walawpun duda anak 1, karyawan kantornya saja banyak yang menyukai.
"Aaa...aku ikut saja Pa, apapun demi Naomi", ahhh entahlah padahal dia tadi bukan mau ngomong seperti itu, kenapa mulutnya bisa mengucapkan kata kata itu.
"Jangan demi Naomi sayang, bagaimana perasaan kamu terhadap Frans, Mama tau mungkin ini terkesan buru buru buat kamu, tapi benar kata Papa, Mama juga tidak yakin Frans bisa mengontrol dirinya".
"Kesannya kalian menyudutkan aku", kesal Frans, namun dalam hatinya, dia juga tidak yakin dengan dirinya sendiri kalau saja Dinda seperti wanita pada umumnya mungkin Dinda sudah ternoda olehnya.
Untung saja Dinda sangat bisa menjaga dirinya sendiri, batin Frans.
"Papa tau bagaimana kamu Frans, jangan membela diri, hanya karena tlpon tidak di angkat saja sampai meninggalkan semua pekerjaan, uring uringan seperti cacing kepanasan", ucap Papa sedikit meledek. Mama Sinta hanya terkekeh mendengar itu.
Frans menghela napas dengan kasar, darimana Papanya tau itu semua, batinnya.
Beda dengan Dinda dibuat melongo, masa iya sampai segitunya, pikir Dinda.
"Jadi bagaimana dengan kamu nak?", tanya Papa lagi ingin memastikan.
"Ikut saja Pa bagaimana baiknya", ya bingung sendiri Dinda, berhadapan dengan Papa Wira dia tidak bisa berkutik.
"Yaudah minggu ini juga kita ke rumahmu nak, Papa sendiri yang akan meminta kamu kepada kedua orang tuamu, Papa tidak yakin dengan Frans jika tanpa bantuan Papa, dia bisanya hanya kerja tidak mungkin bisa meminta anak gadis orang".
"Pa demen banget sih ngejatuhin anak nya sendiri", meskipun Frans membenarkan kata kata Papanya, tapikan tidak usah di depan Dinda juga ngomongnya, berasa di jatohin se jatoh jatohnya.
"Yaudah Papa tunggu saja di sini, bagaimana kamu bisa kan", ucap Papa lagi, dengan sedikit menyeringhai.
"Tolonglah Pa, iya aku ngaku kalah".
mana bisa baru dekat dengan wanita saja hanya 2 x itupun sekali di selingkuhin, sekalinya lagi di jodohin di selingkuhin lagi.
__ADS_1
Kemarin kemarin rasanya dia tidak mau kenal dengan seorang wanita lagi selain Mama dan anaknya, manun entah kenapa hatinya terjatuh lagi pada sosok gadis kampung yang baru saja merantau ke jakarta 1 bulan ini.
"Gimana sayang kamu setuju?", tanya Mama Sinta lagi ke Dinda.
"Iya Ma gimana baiknya aja", Dinda menunduk, ingin menolak tapi hatinya meng iyakan, mau ngomong yang lain entah kenapa yang keluar dari mulutnya itu, Dinda menjerit dalam hatinya.
"Kalau begitu Mama yang akan siapkan semuanya", ucap Mama Sinta dengan Senyum mengembang.
"Kamu serius sayang, benar kan kamu tidak bohong kan yessss, girang Frans bersorak", sudah ancang ancang Frans mau memuluk Dinda, Namun Dinda langsung melotot.
"Iya sayang Maaf, hampir kelepasan", ucap Frans.
Papa dan Mama yang melihat itu sangat puas menertawan anaknya, yang takut pada Dinda.
"Ma kemana sikap anakmu yang dingin dan irit bicara itu?, tanya Papa Wira.
"Sudah ada pawangnya Pa, jangan heran, kan baru di poltotin juga sudah kaya kerupuk ke ciprat air", ucap Mama lagi sambil tertawa.
"Puas puaslah Ma Pa tertawa jika bahagia kalian itu hanya melihat anaknya tertindas", meski sebal karena di tertawakan oleh kedua orang tuanya namun bahagia Frans bisa menyingkirkan ke sebalan itu semua.
"Mamaaa", teriak Naomi sambil membawa gelas susunya, ya tadi dia setelah jingkrak jingkrak Mama Sinta menyuruhnya untuk membuat susu, sebenarnya untuk mengalihkan Naomi karena akan berbicara serius, untung anak itu mau.
Dinda menoleh, hatinya terasa hangat namun rasanya geli juga belum menikah tapi sudah di panggil Mama. Ini sudah kali ke berapa Naomi memanggilnya Mama sejak tadi sore mungkin sudah ada 100 kali dia di panggil Mama
"Hehe mau di pangku lagi Ma", Naomi cengengesan.
"Manja amat sih", Dinda memangku Naomi sambil meminumkan susunya.
3 Orang manusia di sana menyaksikan bagaimana Dinda memperlakukan Naomi, semakin yakin jika Dinda bisa menjadi ibu sambung yang baik untuk Naomi.
"Sini pangku Papa aja, Mamanya keberatan Naomi", ucap Frans.
"Gak mau sama Papa udah sering maunya sama Mama aja", ucap anak itu lagi, membuat 3 orang di sana melongo dengan ucapan Naomi.
"Cucu Oma ini sudah malam, mending bobo sama Oma yuk besok sekolah", ajak Mama Sinta.
"Mau bobo sama Mama, Oma".
"Mama nya juga mau istirahat sayang, kasian Mama capek habis kerja besok juga harus kerja lagi", bujuknya.
"Yaudah deh, Mama aku mau bobo dulu ya", Naomi turun dari pangkuan Dinda.
"Iya bobo yang nyenyak ya", ucap Dinda sambil mengelus kepala Naomi.
__ADS_1
Bayyy Ma Naomi mencium pipi Dinda, langsung berlalu dari sana.
"Papa nggak nih", tanya Frans.
"Papa kan udah tiap Malam", ucap anak itu lagi sambil keluar dari ruang keluarga.
Semuanya tertawa menertawakan Frans. "Emang enak di tolak mentah mentah sama anak sendiri", sindir Papa Wira sambil bangkit dari duduknya. Yaudah Papa juga mau istirahat ucapnya lagi, sambil berlalu.
"Kalian ngobrolah dulu di sini, Mama mau temenin Naomi, ingat Frans tidak boleh macam macam", ucap Mama Sinta lagi.
Bagaimana mau macam macam Ma mau satu macam juga sudah di pelototin batin Frans. Namun tetap saja lah suka maksa sekedar meluk doang mah, hahahaaa.
untuk malam ini Dinda di suruh menginap di kamar tamu yang sudah Mama Sinta siapkan.
"Sayang Terimakasih, Terimakasih buat semuanya", Frans menggenggam tangan Dinda.
"Perasaan gak ngasih apa apa deh", ucap Dinda dengan polos.
"Sayang kamu suka merusak suasana deh", kesal Frans lagi.
"Ngantuk, aku mau istirahat dulu ya", ucap Dinda lagi.
Frans menatap Dinda dengan tatapan tidak bisa di artikan
"Baru juga mau berduaan Dinda, ampun deh", keluh Frans.
Dinda tertawa, sebenarnya dia bukan ngantuk, tapi menghindari waktu berduaan dengan Frans, bukan tidak nyama bukan tidak mau, hanya untuk menghindari saja, karena Frans suka aneh aneh kalau mereka hanya berdua doang.
"Istirahat, Papanya Naomi besok kerja", ucap Dinda.
"Iya deh iya Mamanya Naomi, gemes banget sih sayang, istriku Frans mencuri, mencium pipi Dinda, langsung berlalu takut di amuk.
"Pak Fransssssss", teriak Dinda menggema di ruangan keluarga. Frans ngiprit menaiki tangga sambil tertawa.
"Franssss, Mama sudah bilang tadi apa kamu pasti membuat ulah", geram Mama Sinta yang baru keluar dari kamar Naomi.
"Dikit doang Ma, habisnya menantu Mama gemesin Hahahaaa". Frans buru buru masuk ke kamarnya.
Seperti bukan Frans, dari dulu belum pernah melihat Frans tertawa sampai menggema dalam rumah, Ya Allah anakku. Batin Mama Sinta tidak terasa air matanya luruh, bahagia melihat anak nya bahagia.
β€β€β€
Selamat membaca, Terimakasih buat yang sudah setia membaca karya Utor yang masih aur auran ini. Salam sayang dari Utorπππ
__ADS_1