BUKAN WANITA LEMAH

BUKAN WANITA LEMAH
90.


__ADS_3

Hari demi hari mereka lewati dengan penuh bahagia, perut Dinda sudah semakin membuncit karena ini sudah bulan ketujuh.


Tidak ada ngidam yang aneh aneh, tidak pernah minta yang aneh aneh juga tidak seperti wanita hamil pada umumnya, bahkan mual di pagi hari juga Dinda hanya merasakan dua kali mual saja itu juga mual biasa.


Frans yang selama 6 bulan ini selalu kerja dari rumah ke kantor juga paling hanya sebentar karena tidak bisa di wakilkan oleh Rio, paling Frans hanya meeting dengan client di luar 2 atau 3 jam doang setelah itu dia akan pulang lagi ke rumah demi menemani istrinya.


"Mas, besok ke rumah Ibu yuk, kangen sama mereka besok kan libur", ucap Dinda sebab sudah lumayan lama tidak bertemu dengan Ibunya.


Hahh Frans kaget sendiri dengan permintaan istrinya, bukan apa apa di sana ada Oma Rena yang sejak pulang dari rumah sakit beliau ikut dengan anak dan menantunya.


"Gak Ibu sama Ayah aja yang kesini sayang, nanti mas suruh Pak Marto jemput".


"Aku pengen ke sana kangen suasana desa janji dua hari doang di sana gak lama, kamu sama Naomi libur kan", muka Dinda melas sudah menahan tangis nya.


Huhhh mau di apa Frans tidak bisa menolak dengan permintaan istrinya sebab jarang sekali Dinda minta sesuatu padanya dalam hal bentuk apapun.


"Yaudah sore kita kesana ya", tidak tega melihat muka sang istri yang sudah merah menahan tangis.


Mendengar sore akan ke kampung halaman nya muka Dinda ceria lagi, "Terimakasih Papa", dengan senyum lebarnya di iringi setetes air mata.


"Yaudah kamu siap siap apa yang mau di bawa mas beresin kerjaan dulu ya", mengelus kepala istrinya.


Dinda langsung saja menuju lemari nya memilih beberapa baju yang akan dia bawa, setelah menikah tidak pernah pulang ke kampung halaman itu yang membuat Dinda rindu dengan kampung halamannya.


Sambil menunggu Naomi pulang sekolah Dinda membereskan apa saja yang akan mereka bawa, Naomi yang kasian sama Mamanya dia tidak mau di antar jemput lagi sekarang alasannya kasian takut adiknya jatuh katanya karena melihat perut Dinda sudah buncit.


Tak lama Naomi pulang dari sekolah setelah cuci cuci di kamarnya anak itu langsung masuk ke kamar Mama Papanya, "Assalamualaikum Mama Papa".


"Walaikum salam", ucap Frans dan Dinda serempak.


Naomi masuk langsung memeluk sang Ibu melabuhkan ciuman ke pipi kiri kanan dan perut, "Haii adek kakak udah pulang sekolah", sambil mengelus perut Mamanya menyapa sang adik.


"Iya kakak sayang, kakak pintar kan sekolahnya", Dinda menirukan suara anak kecil.

__ADS_1


"Pintar dong kan mau punya adik kata Miss juga harus semakin pintar biar bisa belajarin adiknya nanti!".


"Masya Allah anak Mama udah gede ya pintar amat sih sayang cantik banget lagi", Dinda mengecup kening Naomi.


"Hehee Terimakasih Mama bidadari yang baik dan cantik", Dinda terkekeh mendengar anaknya selalu menyebut dirinya itu bidadari, entahlah dapat darimana Naomi sebutan bidadari itu, pas di tanya katanya emang Dinda bidadari yang Allah kasih buat dia dan Papanya.


Pindah ke pangkuan Papanya karena Frans sedang duduk di kursi kerjanya yang berada di kamar itu, "Papa", sapa Naomi.


"Iya sayang", mengelus kepala anaknya.


"Papa sibuk ya?".


"Lumayan, Papa mau beresin kerjaan dulu ya nanti sore kita ke rumah nenek sama Mama".


"Beneran Pa, Ma beneran kita mau ke rumah nenek?", Naomi memastikan.


"Iya sayang, udah sini jangan gangguin Papa dulu ya, supaya kita liburan bareng di rumah nenek", Naomi langsung turun dari pangkuan Papanya tanpa menunggu lama lagi, jangankan Naomi Frans aja tunduk sama ibu hamil itu, Rio juga sering kena ulti.


Jam 4 sore mereka berangkat menuju kampung Dinda menggunakan sopir, Frans menikmati perjalannan itu dalam perjalannan sambil bercanda dengan anak istrinya, sang sopir yang sudah bekerja 10 tahun dengan keluarga Wiguna bahkan baru kali ini mendengar dengan jelas Frans tertawa begitu kencang, ikut senang melihat majikan senang, Frans orang baik hanya saja berwajah dingin tak ada senyuman dari bibir lelaki itu sebelum bertemu Dinda bahkan muka nya sangat kaku.


.


.


"Masya Allah bagus banget rumahnya mas lebih bagus dari potonya ternyata", kagum Dinda.


Frans tersenyum, "Mau bikin kaya gini lagi?", tanya Frans.


"Ehhh nggak buat apa banyak banyak rumah, yang di sana juga luas banget, jangan suka ngaco mas".


Turun dari mobil langsung mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tak lama pintu itu terbuka dan deg.......


Oma Rena juga kaget kalau yang datang itu Frans dan Dinda.

__ADS_1


Frans langsung menarik Dinda kedalam pelukannya, "Sayang gak apa apa kan", mengusap usap punggung Dinda.


Dinda menggeleng sedikit tersenyum walawpun dadanya bergemuruh badannya sedikit bergetar, melirik lagi ke arah wanita tua itu.


"Siapa Ma", ucap Bu Ratna dari dalam.


Oma Rena diam saja hanya terus memandang Dinda air matanya sudah lolos.


"Nak kesini gak bilang bilang".


"Iya Bu, Maaf", Frans menyalami Bu Ratna karena mendekat padanya.


"Nak kenapa? itu Oma Rena".


Dinda menelisik Oma Rena melihat dari ujung rambut sampai ujung kaki, kepalanya menggeleng.


"Ayo masuk yuk, cucu nenek sini", Bu Ratna menggendong Naomi.


Oma Rena langsung masuk ke kamarnya tidak mau memaksa Dinda untuk lebih dekat dengannya, sebab ini semua karena salahnya juga yang menyebabkan cucunya sendiri takut dekat padanya.


Bu Ratna menasehati Dinda memberikan penjelasan dan pengertian kepada sang anak, Dinda mengenal Oma Rena bukan karena Ibu dari Ayahnya tapi karena kejahatan yang Oma Rena perbuat di masa lalunya.


Ayah Hendra juga sudah ada di sana memberikan penjelasan bagaimana dari awal hubungan Ibu dan Ayahnya, hubungan antara anak dan Ibu juga.


Sedikit demi sedikit ketakutan Dinda berkurang walawpun bayang bayang di masa lalu masih terus melintas di dalam memorinya.


Sedangkan Oma Rena di kamar tidak berhenti menangis, iya sangat menyesal dengan segala perbuatan nya selama ini, andai dari dulu dia sadar mungkin hidup damai dengan anak menantu dan cucu akan begitu indah, penyesalan emang selalu datang di akhir.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading ❤❤❤


__ADS_2