
Semuanya sudah kumpul di meja makan, sudah waktunya makan malam.
"Duhh mbak Ranti, mungkin kalau dari dulu kami punya mantunya Dinda, pasti badannya pada ngembang semua", ucap Mama Sinta.
"Haha, bu Sinta kalau tau gimana dia aslinya dulu pasti mikir 10x buat jadiin anak ini menantu, paling malas kalau di suruh di dapur", kekeh Bu Ranti.
"Ibu jangan buka kartu juga dong", Dinda merasa malu, bisa bisanya Ibunya itu buka kartu gimana dia dulu.
"Gak apa apa dong, namanya juga dulu mah belum punya suami dan anak jadi wajar saja", ucap Papa Wira. Ayah Hendra, hanya tersenyum saja menanggapi obrolan mereka di meja makan, bahagia seorang Ayah ketika melihat gadis kecilnya yang sekarang sudah dewasa bahkan punya suami dan anak.
"Malas dulu gak apa apa, saya mah sampe sekarang belum bisa masak mbak, haha", Mama Sinta tertawa, dia bukan tidak bisa masak hanya saja tidak begitu mahir, terlahir dari keluarga kaya dan punya suami pun ke orang kaya jadinya dia di manja.
"Gak apa apa gak bisa masak juga bisa gaji orang bu Sinta mah, gak repot". Semua orang tertawa di sana, kecuali Naomi yang sudah manyun.
"Kita kapan makan nya?", tanya Naomi, dia sudah laper Omanya terlalu asik ngobrol.
"Ehh sayang ayo ini makan", Dinda sudah mengambilkan makan untuk Naomi sebenarnya, Naomi belum mau makan kalau yang lain juga belum makan.
"Aduhh sayang maafkan Oma ya, Oma terlalu senang rumah kita jadi rame soalnya ada nenek dan kakek".
"Maafin nenek juga ya, duh cucu nenek udah laper ternyata".
"Yaudah ayo kita makan semuanya", ucap Papa Wira.
"Mas mau makan apa?", tanya Dinda pada suaminya.
"Semuanya sayang, aku suka masakan kamu".
Dinda mengambilkan makan untuk suaminya terlebih dahulu, setelah itu barulah dia makan.
Selesai makan mereka menyempatkan waktu untuk ngobrol lagi di ruang keluarga, mumpung belum pada sibuk lagi mumpung Ayah dan Ibu Dinda juga masih ada di rumah itu.
Melihat cucunya sudah nguap Mama Sinta mengajak cucunya untuk tidur bersamanya.
"Naomi bobo sama Oma aja ya sayang di kamar Oma".
__ADS_1
"Gak mau Oma, mau sama Mama sama Papa aja", gawat batin Frans sudah merasakan tidak enak.
"Sama nenek lagi aja yuk, nenek kan gak lama di sini pasti bakalan kangen nanti sama cucu yang paling cantik ini", Mama Sinta mengacungkan jempol pada besan nya itu, masa iya pengantin baru mau tidur bareng anak, duh giman jadinya nanti.
"Malam ini aja ya nek, besok malam Nomi mau bobo sama Mama sama Papa", ucap Naomi.
Yess gue kasih bonus Haji deh mertua gue, batin Frans, bersorak ria. Masa iya baru merasakan sekali sudah mau gagal lagi, tadi sore aja dia merasa pening banget kepalanya.
Ibu Ranti memangku cucunya pamit pada semua orang di ikuti ayah Hendra.
"Duh Mama juga sudah ngantuk, ayo Pa kita juga tidur", ajak Mama Sinta.
Semua orang yang ada di dalam ruangan keluarga itu sudah bubar. Frans langsung menggendong istrinya menaiki tangga.
"Mas turunkan aku mas", Dinda kaget tiba tiba badannya melayang.
"Jangan kenceng kenceng suaranya sayang ini bukan di kamar kita, takutnya Naomi gagal tidur sama Ayah Ibu", bisik Frans.
"Yaudah turunkan aku mas, aku bisa jalan".
"Malam ini waktunya kita sayang, siap kan?", Frans tersenyum.
"Mas aku gosok gigi dulu", ucap Dinda.
"Gak usah sayang nanti saja kita bersih bersihnya ya", Frans langsung mencium bibir istrinya, tapi sebelum itu dia mengunci pintu dulu memastikan aman atau tidak, merasa semuanya sudah aman barulah dia memulainya.
Mereka berciuman sangat panas, Dinda juga membalas ciuman suaminya walawpun masih tetap kaku, Frans ******* terus bibir istinya, tangannya dia gunakan untuk meremas dua gundukan Dinda yang masih menggemaskan.
"Ughhh masssh", leguhan Dinda, merasakan sentuhan sentuhan manja suaminya.
Frans yang mendengar ******* dan leguhan istrinya semakin gencar mencari titik titik kenikmatan.
"Sayang ini sangat enak, kamu milik ku, dan semuanya ini milikku".
"Akhh, uwhh", Dinda merasa geli juga nikmat.
__ADS_1
"Sayang aku masuk ya", Frans langsung menancapkan senjatanya.
"Akhhh mas, pelan pelan", Dinda berpegangan pada tangan suaminya, rasanya masih sama masih sakit inti tubuhnya itu.
"Maaf sayang aku terlalu bersemangat", Frans mencium bibir Dinda lagi beberapa saat terus turun ke leher memberikan banyak stempel di sana. Frans mulai memaju mundurkan senjatanya, rasanya tidak bisa Frans jelaskan, ini benar benar nikmati surga dunia yang baru Frans rasakan.
Tidak cukup di kasur Frans membawa Dinda ke sopa, berbagai gaya Frans coba rasanya tetap sama nikmat bahkan sangat nikmat . Sampai dua jam mereka melakukan penyatuan itu Frans akhirnya menyudahinya.
Kalau saja istrinya tidak terlihat kelelahan Frans ingin terus mengulangnya lagi dan lagi.
"Capek ya sayang?", tanya Frans sambil mengecup lama kening istrinya.
"Lelah", ucap Dinda, dadanya naik turun ter engah engah saking capeknya, badan Dinda sudah lelah, benar benar tenaga suaminya itu membuat lututnya juga bergetar.
"Terimakasih sayang, aku mencintaimu istriku".
"Sama sama mas, sudah kewajibanku sebagai istri melayani suami", Dinda tersenyum.
Frans mengulingkan badanya memeluk sang istri, menghujani kepala Dinda dengan ciuman nya.
Percaya gak percaya Frans juga, sekarang dia sudah benar benar mencintai perempuan yang sedikit mungil ini badannya. Mengingat percintaan nya tadi Frans senyum senyum sendiri. Cek ternyata senjataku masih ampuh juga di bawa perang ber jam jam, gue kira sudah tidak ada gunanya, Frans tertawa dalam hatinya. Karena dulu dia selalu merasa malas kalau di ajak istrinya menyatu, bahkan selama hampir 2 tahun pernikahan bisa di hitung mereka melakukan penyatuan, itupun karena paksaan.
"Sayang sebelum tidur kita bersih bersih dulu yuk", ajak Frans.
"Capek mas", Dinda malah memejamkan matanya.
Frans membawa Dinda ke kamar mandi, membersihkan sisa sisa percintaan nya tadi, Dinda membiarkan saja apa yang Frans lakukan, dia sudah lelah matanya ngantuk berat.
•
•
•
Duhhh gak tau deh ini ngetik apa hahaa sebenarnya rada takut takut sih ngetik ini tuh🙈
__ADS_1
❤❤❤
Happy reading.