BUKAN WANITA LEMAH

BUKAN WANITA LEMAH
79. Part 79


__ADS_3

Mobil berenti tepat di hadapan Dinda dan Naomi, Frans keluar lebih dulu, Dinda langsung mengglayut manja pada suaminya.


Ayah dan Ibunya keluar dari mobil Dinda langsung menyalami dan memeluk kedua orangtuanya.


Berhubung sudah magrib mereka langsung masuk ke dalam rumah, Naomi langsung di pangku oleh kakek nya.


.


"Sayang", Frans memeluk istrinya.


"Mas capek ya, Maaf ngerepotin kamu terus",ucapnya sedih.


"Gak merasa di repotkan sayang, tugasku untuk membahagiakan kamu, selagi aku bisa akan aku lakukan semuanya".


"Terimakasih suamiku", Dinda mencium bibir suaminya sekilas.


"Jangan mancing ya kalau masih mau aman".


"Kamunya aja yang cepat terpancing", Dinda terkekeh.


"Terpancing sama istri sendiri bukan dosa malah jadi pahala lo sayang", senyum Frans lebar.


"Turun ke bawah makan yuk".

__ADS_1


"Makan kamu dulu bisa kan", Frans menaik turunkan alisnya.


"Nanti aja ya, aku laper tadi siang makan puding doang".


"Jangan suka di biasakan sayang, tadi siang aku tanya kamu katanya sudah makan".


"Ya emang udah kan udah makan puding".


"Ayo makan, mas gak mau gitu ya kamu harus makan teratur". Frans menggandeng istrinya keluar dari kamar, mereka menuruni tangga.


Sampai ruang tengah sudah rame, kalau ada Ayah dan Ibunya Dinda pasti rumah itu sangat rame dengan gelak tawa, 1 cucu yang membuat ke empat orang tua itu terus tertawa bahagia.


Dinda mengelus perutnya, batinnya berkata semoga segera hadir malaikat kecil dalam rahimnya.


"Sayang kalau kita banyak anak pasti tambah rame ini rumah", ucap Frans sambil tersenyum.


"Duhh rame banget ya", Dinda dan Frans bergabung di sana.


"Sayang sudah turun nak", perhatian Mama Sinta sungguh besar padanya apalagi semenjak kejadian kemarin.


"Iya Ma, udah laper katanya Ma", ucap Frans.


"Masss ih kamu mah", Dinda menyikut tangan Frans, malu kenapa harus jujur sih batinnya.

__ADS_1


"Laper nak, iya ayo makan sayang, kamu tadi siang gak mau makan cuma makan puding doang ya", segera Mama Sinta bangkit mengajak semuanya untuk makan.


Mereka makan dengan tenang, napsu makan Dinda kali ini sangat beda, mungkin karena seminggu kemarin dia kurang makan bahkan pernah sehari hanya masuk air putih doang kedalam tubuhnya.


Mama Sinta yang sangat cekatan mengambilkan lauk dan sayur untuk menantunya.


"Mama Terimakasih", senyum Dinda, matanya berkaca kaca, Masya Allah dapat mertua yang begitu baik Alhamdulillah, tidak bisa di ucapkan dengan kata kata.


"Sama sama sayang, ayo makan yang banyak ya, mau apa tinggal bilang, Mama sama Frans akan usahain apapun yang kamu mau nak", ucap Mama Sinta sambil tersenyum.


Mengetahui bagaimana Dinda dulu, dari laporan Rio. Batin Mama Sinta menjerit ikut hancur, anak yang seharusnya mendapatkan kasih sayang, perhatian dan perlakuan lembut, namun apalah Dinda yang mendapatkan siksaan yang begitu kejam, kalau dia tidak nyebut istigfar berkali kali mungkin sudah iya bunuh juga orang yang sudah membuat menantunya menderita di masa kecilnya.


Ibu Ranti juga sudah luruh airmatanya, Ya Allah anaknya begitu di sayangi dan di cintai oleh keluarga dan suaminya, Masya Allah penderitaan di masa lalu kini di bayar dengan kebahagiaan berkali kali lipat oleh Allah.


"Terimakasih sudah menyayangi dan mencintai anak kami dengan sepenuh hati kalian", tak kuasa menahan tangis Bu Ranti.


"Tugas kami mbak, kami sudah mengambil anak gadis embak yang embak sayangi dan cintai. Maka kami harus benar benar membahagiakannya", ucap Mama Sinta.


Naomi di situ hanya menjadi pendengar sejati dia duduk dengan anteng di pangkuan sang Mama. Frans terus mengelus punggung istrinya.



__ADS_1



❤❤❤ Happy reading😘😘😘


__ADS_2