
Seharian bersama Naomi, nyatanya sangat menyenangkan. Anak itu sangat aktif apa saja menjadi bahan candaan, apa yang dia temukan selalu menjadi pertanyaan. Anak yang baru masuk TK tapi sudah pinternya kaya anak SD, kadang yang di tanyakan Naomi membuat Dinda bingung juga.
"Naomi mandi yuk ini sudah sore", ajak Dinda, namun anak itu masih sibuk dengan dunia gambarnya.
"Sebentar Ma", sudah di beri tahu Mama Sinta kalau Naomi paling susah untuk di ajak mandi sore.
"Naomi Mama gak mau ngomong 10 atau 100 kali ya, waktunya mandi ya mandi kan bisa di lanjutin lagi nanti kalau sudah mandi". Sedikit kesal dari tadi di ajak mandi susah banget, padahal waktu sudah semakin sore.
"Iya Ma Maaf ya", turun dari meja belajarnya, masuk ke kamar mandi.
Penasaran Dinda dengan apa yang di gambar anak itu, dari tadi pokus banget sama gambarnya heran deh, gerutu Dinda.
Melihat kertas yang tadi Naomi gambar Dinda melongo, ko bisa anak umur 5 tahun menggambar seapik ini, pikir Dinda, gambar baju gambar rumah gambar pemandangan. Mau jadi apa gedenya ni anak yah udah pinter banget masih bocil juga.
Takut ketauan kalau dia melihat gambarannya tanpa se ijin Naomi, terburu buru Dinda menyiapkan baju Naomi. Tak lama pintu kamar mandipun terbuka.
"Sayang sudah mandinya, sini Mama pakein bajunya", sambil tersenyum Dinda memakaikan baju Naomi.
"Thank you Mama ter cantik aku", mulai sekarang Naomi sering mengucapkan terimakasih dan tolong, tadi siang mendapatkan ceramahan dari Dinda, sebab pas pulang sekolah langsung turun saja dari mobil tanpa mengucapkan Terimakasih dan minta bantuan pada mbak Wina tanpa meminta tolong terlebih dahulu.
"Iya sayang", dengerin Mama ya, Naomi harus tau waktu ya sayang, waktunya Shalat, Shalat 5 waktu ya, wktunya mandi ya mandi, waktu makan, main, belajar. jangan di tunda tunda Naomi harus mempunyai waktu sendiri harus di siplin ya sayang, bukan Mama mau mengatur kamu ini itu, tapi Mama liat seharian ini kamu pulang sekolah menggambar, main terus menggambar lagi, hobi boleh tapi jangan membiarkan hobi kita itu menyita semua waktu kita.
"Oke Ma, Naomi paham", dalam hatinya sangat bahagia dia sekarang ada yang memperhatikan, ada yang menasehati, punya Mama sangat menyenangkan, senyum Naomi sangat mengembang, tersenyum pada Dinda lalu mencium pipi Dinda.
"Pintar anak Mama, kita siap siap Shalat yuk". Naomi mengangguk, mereka melaksanakan Shalat Magrib bersama, bisa di hitung juga berapa kali Naomi belajar Shalat dan iqro.
Jam 7 malam mereka turun untuk makan malam. Mama Sinta tersenyum melihat calon menantu dan cucunya menuruni tangga, tadi dia sempat mau memanggil Naomi dan Dinda ke kamarnya ternyata Naomi sedang belajar Iqro.
"Oma denger denger ada yang udah pintar Iqro nih", canda Oma.
"Iya Oma Mama yang ajarin aku", iya kan Ma, aku udah pintar kan Ma?, tanya Naomi.
"Iya Naomi udah pintar", ucap Dinda mengelus kepala Naomi.
__ADS_1
"Mantu Mama emang pintar, bisa ngeluluhin singa dan anaknya", ucap Mama Sinta sambil tertawa, Papa Wira juga ikutan tertawa.
"Din, Frans lembur malam ini, tadi dia tlpon kamu gak di angkat angkat katanya".
"Hahh iya Ma, aku lupa naro ponselku dimana Ma", Dinda menyengir.
"Yaudah gak apa apa, ayo kita makan saja jangan tungguin Frans". Mereka makan dengan tenang tanpa ada obrolan pas lagi makan.
•
•
Jam 11 malam Frans baru saja pulang, Dinda tidak bisa tidur malam ini, tadi dia hanya menemani Naomi tidur. Seperti seorang istri yang menunggu suami pulang kerja.
"Ehhh belum tidur?", Frans sedikit kaget dia baru saja mau mengambil minum ke dapur setelah mandi.
"Belum, baru habis mandi baru pulang?", tanya Dinda lagi, melihat rambut Frans masih basah. Dia tadi berada di dalam kamar Naomi jadi tidak mendengar kalau Frans pulang.
"Iya sayang aku haus", Frans membuka kulkas mengambil minumnya.
Bukan marah karena di omelin Frans malah tersenyum dan dia menurut saja padahal baru seteguk minum air dingin itu, menaruhnya lagi ke dalam kulkas lalu mengambil gelas menuju dispenser.
"Iya sayang, nih minum air biasa", menunjukan gelas yang sudah di isi air lalu mau meminumnya sambil berdiri.
"Minumnya sambil duduk", ucap Dinda lagi, lagi dan lagi Frans menurut dia duduk di kursi yang ada di meja makan.
"Bawel juga ya ternyata", ucap Frans setelah habis air yang ada di gelasnya itu. Tapi gak apa apa enak juga di bawelin istri.
"Belum menikah ya", Dinda sedikit sewot.
"Iya sayang iya, calon istri, kamu selalu benar deh, Frans mengalah". Kamu knapa belum tidur hem?, tanya Frans sambil mendekat pada Dinda.
"Jangan dekat dekat ya".
__ADS_1
"Iya iya, aku tanya kenapa belum tidur?".
"Entah lah gak bisa tidur, tadi pas tidurin Naomi sempat tidur sebentar, jadinya sekarang susah untuk tidur lagi", jelas Dinda.
"Mau di tidurin itu, hahaa tawa Frans".
"Bercandanya, gak jelas", Dinda mencleos berjalan menuju kamar tamu.
"Sayang tunggu sebentar".
"Apalagi, Dinda membalikan badannya", greb Frans memeluknya, Dinda gelagapan takut ada yang liat, ini ruang tengah, mau marah tapi merasa nyaman juga. Akhirnya setelah beberapa menit Dinda sadar, jangan lama lama peluknya takut ada yang liat dikira kita ngapa ngapain, ucap Dinda sedikit berbisik.
"Nyaman banget seperti ini sayang, kamu wangi banget, rasanya rasa capek aku hilang seketika jika seperti ini", ucap Frans.
"Tapi jangan lama lama juga, takutnya khilap".
"Iya sayang", Frans mencium kepala Dinda lumayan lama, hanya itu tidak bisa yang lain. Tidur ya kamu juga pasti bisa tidur kalau udah aku peluk dan cium, Frans mengelus pipi Dinda yang sudah merona.
Mleyotttt di perlakukan seperti ini, merasa sangat di cintai, namun sekelebat rasa takut masih ada dalam diri Dinda.
"Kamu juga tidur, udah malam jangan begadang terus kerja nya besok lagi", Dinda mengusap tangan Frans, Frans tersenyum bahagia.
"Siap Nyonya Frans", lalu Frans terkekeh gemas banget ngeliat senyum manis yang di hiasi lesung pipit. Cantik banget sih sayang pengen cepet halalin pengen gigit, Frans menjawel hidung Dinda yang sedikit mancung ke dalam.
"Udah aku tidur ya", Dinda melangkahkan kakinya.
"Sayang, Frans memanggil Dinda lagi", Dinda menoleh seolah bertanya apa. Emuwahhh Frans memonyongkan bibirnya kiss jarak jauh. "Selamat tidur calon istriku", ucapnya lagi, Dinda hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Kemana mukanya yang garang dan dingin itu kemana sorot mata tajam nya, sekarang terganti dengan muka tengil dan tatapan mata dengan penuh cinta.
Membayangkan Frans membuat Dinda senyum senyum sendiri, tidak pernah di sangka sangka akan di cintai oleh seorang Frans Wiguna, si muka dingin si garang seperti singa, si sorot mata yang menyeramkan. Aku seberuntung ini ternyata, Masya Allah. Dinda memejamkan mata lalu tertidur
•
•
__ADS_1
❤❤❤
Selamat membaca jangan lupa like ya😘 Terimakasih🙏🙏🙏