
Frans memeluk Dinda dengan erat.
"Lepas pak, jangan seperti ini, saya merasa seperti wanita murahan, pak Frans memperlakukan saya dengan sesuka hati anda", Dinda berusaha untuk menahan tangis nya.
"Sebentar saja, aku ingin seperti ini, kamu telah sukses membuatku seperti ini", Frans memejamkan matanya, merasakan degub jantung yang serasa meronta ingin keluar dari tempatnya, merasakan bagaimana hangatnya tubuh gadis itu.
Tangis Dinda mulai terdengar oleh Frans dan badannyapun mulai bergetar.
"Heii kenapa menangis?, maafkan aku ya, aku mengakui bahwa telah salah menilaimu, ku mohon berentilah menangis". Frans menangkup kedua pipi Dinda lalu menuntun nya menuju sopa yang ada di sana.
Mengambilkan botol minum kemasan yang ada di mejanya.
"Minum dulu ya biar tenang", Frans membukakan tutup botol itu lalu memberikan kepada Dinda.
Dinda mengambilnya lalu meminum setengah air yang ada di botol itu.
"Sudah sedikit tenang kan?", Dinda hanya mengangguk.
"Kenapa menangis hemmm, maafkan aku yang telah berperilaku kasar terhadapmu". Ucapnya dengan tulus.
"Apa maksud dan tujuan pak Frans memperlakukan saya seperti ini?", tanya Dinda.
"Berjanjilah jangan tinggalkan aku dan Naomi, mungkin ini menurutmu sangat terburu buru, tapi aku mohon jangan tinggalkan kami", Frans menunduk sedih, nyatanya di balik sikap tegas dan dinginnya menyimpan banyak luka.
"Apa saya tidak salah dengar pak?", Dinda hanya ingin memastikan yang biasanya bersikap semaunya, berwajah dingin, memiliki tatapan yang membuat orang menciut.
__ADS_1
"Tidak kamu tidak salah dengar, jadilah istriku, jadilah ibu untuk Naomi dan jadi ibu untuk anak anak kita nanti. Aku bukan lelaki yang sempurna aku juga bukan lelaki yang romantis, aku tidak tau cara menyampaikan atau cara mengungkapkan perasaan itu seperti apa", Frans menggenggam tangan Dinda.
"Beri saya waktu pak", ini sangat terlalu singkat, pak Frans juga tidak mengenal saya tidak tau aslinya saya seperti apa, tidak tau keluarga saya bagaimana.
Dinda Dinda tuh si Frans sudah tau apapun tentang keluargamu tentang bagaimana kamu, cek mencari info tentangmu tidak sulit sama sekali bagi orang kaya seperti mereka.
"Aku akan menunggunya, jangan pernah menghindariku, jangan menghindari Naomi, dia sangat membutuhkanmu, dia sangat menyayangimu, jadi aku mohon sama kamu jangan tinggalkan kami ya".
Dinda menganggukan kepalanya "Jangan bertindak lebih lagi ya, kita jaga batasan, kita bukan muhrim", Dinda menundukan wajahnya.
"Kalau begitu mari kita secepatnya menikah", ucap Frans dengan enteng.
"Pak Frans nyebelin", Dinda menoleh sesaat lalu mengalihkan arah penglihatannya.
"Bisa tidak sih, jika sedang berdua jangan jangan memanggilku dengan sebutan pak, saya merasa sudah tua".
"Gak ada kata itu sayang, ayolah panggil apa saja".
Aiss udah kepala 3 juga ni orang, Dalam hati Dinda
"Sayang peluk juga emangnya tidak boleh ya", seperti anak kecil yang minta jajan mukanya memelas.
"Ya tidaklah, jangan suka mengada ngada pak".
"Sayang besok saja kita menikah yuk", ajak Frans semakin konyol.
__ADS_1
"Ya Allah, pak Frans kesambet apa sih?".
"Kesambet cinta kamu". Sambil cengengesan.
"Buka pak pintunya, saya mau kerja saya tidak mau makan gaji buta".
"Tidak usah kerja lagi jadilah istriku, minggu depan kita menikah ya", ucap Frans dengan tegas.
"Kalau saya tidak kerja, mau siapa yang menanggung jawab keluarga saya, ayolah pak akhhh", geram sekali rasanya Dinda menjerit.
"Sayang pelankan suaramu Naomi sedang tidur, Rio dan Seni juga ada di ruangan sebelah nanti mereka orang kira kita lagi ngapa ngapain", sengaja menakut nakuiti Dinda yang padahal ruangannya kedap suara.
"Mangkanya buka pintunya pak Frans Wiguna", ingin sekali aku menampar muka ni orang, dalam hati Dinda.
"Jangan panggil pak terus aku sekarang bukan bosmu lagi tapi calon suami ingat CALON SUAMI", Frans menekan kata katanya.
"Hemm... dengan sedikit menekatkan giginya malas.... Mas Frans Wiguna bapaknya Naomi, buka ya pintunya saya mau kerja".
"Yesss sekarang kamu panggil aku mas ya titik pokonya panggil sayang juga gak apa apa itu lebih bagus", dalam hatinya bersorak gembira.
"Iyaaaaa... Udah buka dulu pintunya ya".
"Udah sore lo sayang 1 jam setengah lagi kita pulang kerja", Ucap Frans dengan enteng.
"Ya Allah, Dinda menangkupkan kedua tangannya menutup mukanya", pusing pikirnya.
__ADS_1
❤❤❤ selamat membaca, jangan lupa like ya😊 Terimakasih🙏🙏🙏