
Pagi ini Dinda bangun lebih awal, dia mencoba untuk membuatkan sarapan, kemarin kemarin merasa belum berani karena bukan siapa siapa dan juga masih kerja berangkat lebih pagi.
Hari ini dia sudah tidak di perbolehkan kerja lagi, bukan hanya Frans yang tidak memperbolehkan Mama Sinta da Papa Wira juga tidak memperbolehkan untuk bekerja lagi.
Semalm sudah debat dengan Frans karena Dinda mau bekerja, apalah daya 1 lawan 5 mana bisa, Rio sama Naomi juga ikut ikutan tidak memperbolehkan. Sekarang tugasnya Dinda hanya menemani dan antar jemput sekolah Naomi.
"Pagi Bi, mau bikin sarapan apa?", tanya Dinda pada bibi yang sedang menyiapakan bahan untuk membuat sarapan.
"Ehhh Non sudah bangun?", tanya bi Anah.
"Jangan panggil non dong bi panggil nama aja ya", pinta Dinda.
"Mana bisa begitu, non ini ada ada saja", bi Anah terkekeh.
"Bi aku itu gak biasa di panggil seperti itu, gak nyaman juga, panggil nama aja ya, kalau gak apa aja deh sesuka bibi asal jangan panggil non".
"Gak bisa gitu non, dikira kami di sini tidak sopan mau bagaimanapun non kan sekarang sudah bagian dari keluarga ini", ucap mbak Wina sesama ART di situ. Bi Asih hanya mengangguk ngangguk membenarkan ucapan mbak Wina.
"Sebenarnya masih gak nyaman sih, tapi yaudah deh gak apa apa", Dinda pasrah. Ini mau bikin apa bi nasi goreng?.
"Iya non, mas Frans suka sama nasi goreng seafood".
"Yaudah bi aku mau coba bikin ya, boleh kan?", tanya Dinda takut menyinggung perasaan ART di sana.
"Memangnya tidak apa apa non, non kan di sini majikan kami juga, ini sudah tugas kami takut pak Frans marah ke kami", jelas bi Anah.
"Gak apa apa bi, aku juga sudah gak kerja lagi sekarang, bibi juga dengar kan tadi malam".
"Yaudah gimana non Dinda aja kalau gitu, bibi bantu bantu ya".
"Okey, mari kita masak, takut nanti keburu pada turun mau sarapan hahaaaa", tawa Dinda pecah di ruang dapur.
Yang mendengar juga ikutan tertawa, senang sekali mereka akan mendapatkan majikan yang baik lagi. Yang kerja di situ sudah lama, sudah pada tau kelakuan mantan istri Frans, kalau di depan mertua dan suaminya saja pura pura baik kalau gak ada siapa siapa dia akan menjadi manusia yang demen sekali memerintah dan banyak maunya.
Setelah selesai membuat sarapan Dinda naik ke lantai dua niat mau membangunkan Naomi, namun anak itu sudah bangun dan sedang mandi. Menunggu 10 menit Naomi keluar dari kamar mandi,
Anak itu sedikit kaget namun juga bahagia, dia sekarang merasakan begini rasanya punya Mama sangat sangat menyenangkan. Batinnya.
"Maaa", ucap Naomi.
"Heii sayang, kirain Mama belum bangun", Dinda mengelap seluruh badan Naomi dengan handuknya. Yang mana bajunya sayang?.
"Yang ini Ma, kalau hari senin pakai baju yang ini, selasa ini, rabu bebas, kamis batik bebas, juma't olahraga", Naomi menjelaskan, Dinda mengangguk tanda paham.
"Yaudah yuk pakai bajunya, Mama udah buatkan sarapan, kata bibi Naomi jarang makan, kenapa jarang makan?", tanya Dinda.
"Gak enak Ma pagi pagi makan itu gak enak".
__ADS_1
"Biasakan sarapan sayang, biar sekolahnya semangat juga pintar, mulai sekarang biasakan sarapan ya, biar Mama nanti yang siapkan", jelas Dinda.
"Iya Ma nanti Naomi coba", jadi patuh anak satu ini, yang biasanya hanya minum susu hangat dan roti atau cemilan kering lainnya, kadang itu juga tidak di makan, sangat susah pemilih makan nya.
"Anak baik", Dinda tersenyum, beres memakaikan baju dia menguncir Naomi.
Naomi sangat bahagia, ternyata seperti ini memiliki ibu, pantas saja Sisil selalu membanggakan Mamanya selalu di bikinin makan sama Mama nya.
"Thank you Ma and love you", Naomi mengecup pipi Dinda.
Dinda tersenyum, matanya berkaca kaca apakah seperti ini rasanya punya anak, apa sebahagia ini, bertanya tanya pada diri sendiri.
"Sudah selesai turun yuk, nanti Mama suapin makan nya ya, Naomi harus makan sebelum sekolah tar Mama antar sekolah juga kalau makan nya abis".
Mereka bergandengan tangan menuruni anak tangga. Frans yang baru keluar dari kamarnya juga, melihat pemandangan indah dan manis pagi ini.
Sebahagia ini apa mempunyai anak dan istri, 2 minggu itu sangat lama sekali, batin Frans menggeritu, sudah tidak sabar menunggu hari itu.
Sampai meja makan Naomi terus mengembangkan senyum nya.
"Selamat pagi Oma pagi Opa", sapa Naomi dengan ceria.
"Bahagia amat ya Opa ada yang punya Mama", canda Mama Sinta.
"Iya nih jadi tersingkirkan kita ya Oma", timpal Papa Wira lagi.
"Nggak dong tetap Oma sama Opa nomer 3", ucap Naomi sambil memamerkan tiga jarinya.
"1 Mama 2 nya Papa", Naomi menyengir.
"Curang amat jadi Papa yang kedua", ucap Frans yang baru saja menggeser bangku untuk duduk.
"Hehehe, kan sekarang udah ada Mama Dinda".
Dinda hanya dibuat melongo dengan jawaban jawaban Naomi, hatinya nahagia namun merasa takut juga, taku Mama Sinta dan Papa Wira marah, karena Naomi sudah berpihak padanya.
Gak bisa begini dia nanti harus ngobrol sama Mama Sinta dan Papa Wira tidak enak hati dengan situasi dan keadaan yang begini.
"Iya deh iya yang udah ada Mama", ucap Mama Sinta, sambil tertawa. Yaudah makan yuk, Namoni mau makan?. Aneh karena di depannya anak itu ada piring berisi nasi goreng.
Frans menyuapkan nasi goreng itu ke mulutnya, kok rasanya beda ya, ini lebih enak gurih, ahhh enak banget, dalam batin Frans.
Mama Sinta sama Papa Wira juga merasakan beda dari biasanya.
Dinda sudah was was takut tidak enak, dia diam saja sesekali memejamkan mata mengusir rasa takutnya.
Kebetulan ada bi Anah lewat situ.
__ADS_1
"Bi siapa yang masak, tumben beda?", tanya Mama Sinta.
"Enak ya bu", ucap bi Anah sambil tersenyum.
"Iya ini beda dari biasanya".
"Hebat Ibu punya mantu pinter masak, haha itu non Dinda yang masak Bu".
Mama Sinta melihat Dinda yang sudah menunduk.
"Gak enak ya masakan nya, besok gak masak lagi Maaf ya", mengucapkan Maaf karena takut.
"Ehhh siapa yang bilang tidak enak, justru ini sangat enak sayang, Mama aja sampai sekarang gak bisa bisa masak".
"Nih Papa aja nambah karena enak, yang di piring Frans tuh udah habis udah nambah lagi", ucap Papa Wira, dia memahami raut wajah ketakutan Dinda.
"Iya sayang benar kata Papa, Frans mana pernah makan nambah, itu dia udah nambah", tunjuk Mama Sinta lagi. Ini tuh enak banget, besok besok Mama harus belajar masak ni sama kamu Din.
Frans diam anteng menghabiskan makan nya, hatinya mah sudah kelojotan saking senangnya. Akhhh gak salah gue pilih istri batin Frans.
Naomi juga makan, ini adalah momen langka melihat Naomi makan berbentuk nasi pagi pagi.
Selesai sarapan Dinda mengantar Naomi ke sekolah, anak itu sangat girang. Mau cepet cepet datang ke sekolah mau bilang pada temen temennya kalau dia di antar Mama juga sama kaya mereka.
Sebelum masuk mobil Frans mendekat pada Dinda, kalau saja tidak ada meeting pagi ini Frans yang akan mengantar mereka ke sekolah, sekolah Naomi dan kantor Frans beda arah itu yang membuatnya sulit juga.
"Pagi sayang, hehee lupa tadi mau ucapin cengir Frans, Terimakasih buat sarapannya enak banget, makin cinta deh, mengusap kepala Dinda lalu mengecup kepala itu. Kalau yang lain Frans tidak berani taukt ngamuk.
"Iya pagi juga, sama sama, Dinda tersenyum".
"Aku berangkat ya, kamu sama Naomi hati hati, ada apa apa hubungi aku langsung ya, aku pulangnya malam sayang, hari ini lagi banyak agenda", pamit Frans pada Dinda.
"Iya hati hati, jangan lupa makan ya", sedikit perhatian Dinda membuat Frans tambah semangat.
"Bay sayang, kalau aku tlpon angkat ya".
"Iya bawel amat ni bapak bapak", males Dinda.
"Tapi udah mulai cinta kan sayang", goda Frans langsung masuk ke dalam mobilnya.
Dinda melihat Frans seperti bocah hanya menggelengkan kepala.
•
•
•
__ADS_1
❤❤❤
Selamat membaca, jangan lupa like ya😘 Terimakasih semua🙏🙏😍😍