
Selama 1 jam menunggu kelahiran sang anak Frans selalu berdiri di samping Dinda menggenggam erat tangan sang istri dan terus menghujaninya dengan ciuman memberikan semangat, Dinda tidak mengaduh atau mengeluh sama sekali hanya sesekali meringis, Frans sudah bingung melihat istrinya yang berkeringat padahal menurutnya ruangan itu lumayan dingin.
"Sayang gak mau caesar aja?", tanya nya sebab takut istrinya kelamaan merasakan sakit.
Dinda tersenyum menggeleng, merasa aneh sama suaminya yang muka nya itu lebih panik dan tegang dari dirinya, "Nggak mas tenang aja, asal kamu terus di samping aku adek sebentar lagi juga keluar ko", ucapnya mengelus tangan sang suami.
"Bilang kalau gak kuat ya, aku tidak bisa merasakan apa yang kamu rasakan sayang, aku sangat khawatir", dengan mata mengembun mengelus kepala istrinya.
Tak lama Dinda merasakan sakit yang luar biasa sampai mengeratkan giginya. Ya Allah kuatkan hamba, batin Dinda. Dokter dan suster dari tadi sudah ada di sana menunggu waktunya Dinda melahirkan, mau pergipun tak akan bisa karena pasti Frans mengobrak abrik rumah sakit itu.
"Bu siap ya, Bismillah dan tenang, ikuti intruksi dari saya", dokter itu tersenyum.
"Iya dok", Dinda semakin meringis.
Masya Allah tak banyak derama dan menunggu terlalu lama juga hanya beberapa kali mengejan anak bayi itu keluar dengan tangisan melengkingnya.
Mendengar tangisan sang anak yang baru saja datang ke dunia Frans juga meneteskan air mata sambil terus mengucapkan Terimakasih pada istrinya.
Ini kali pertama Frans menangis yang dia ingat selama hidupnya, lahir seorang anak dari wanita yang sangat iya cintai nyatanya bisa membuat manusia dingin itu mengeluarkan air mata.
Bayik sudah di bersihkan dan Dinda juga sudah di pindahkan ke ruang perawatan, Mama Sinta menangis haru meliat cucu keduanya.
__ADS_1
"Ya Allah, Masya Allah nak cakep banget cucu Oma embul lagi haha", ucap Oma Sinta.
"Kaya siapa dia ya Ma?", ucap Opa Wira yang tak kalah bahagia menyambut cucu kedua.
"Kayanya lebih cakep dari Papanya ini Opa", ucapan Mama Sinta sukses membuat Frans mendelik, apa apaan mamanya itu, namun dia juga sangat bahagia melihat orang tuanya yang sangat antusias pada anak keduanya.
"Namanya siapa mas?", tanya Dinda.
"KENZO ALARICO WIGUNA", ucap Frans tersenyum pada sang istrinya.
"Bagus banget namanya Masya Allah, mau Ken apa Al panggilannya".
"Apa aja boleh dua duanya bagus terserah Mamanya", Frans mencium pipi Dinda membuat sang empunya salting malu malu karena di sana ada mertuanya juga, mereka jarang mengumbar kemesraan di depan umum.
"Ken apa Al ya dua duannya bagus soalnya bingung", ucap Dinda.
"Hari ini Ken besok Al kalau gitu sayang", ucap Frans terkekeh.
"Ih kamu mah ngaco deh, ya gak gitu juga".
"Gak apa apa biar dia gak bosan di panggil itu itu aja, udah istirahat aja sayang kamu habis banyak mengeluarkan tenaga, adek ada aku mama sama papa yang jagain".
__ADS_1
Baru saja Dinda tertidur, memang lumayan lelah yang Dinda rasakan.
Tak lama terdengar teriakan anak perempuan kecil yang langsung membuka pintu.
"Mamaaaaa adekkk".
Frans hanya bisa menggeleng kenapa anaknya berubah menjadi cerewet seperti ini sih, batin Frans. "Husttt jangan berisik sayang kasian Mama lagi istirahat adek juga lagi tidur takut nangis", langsung menggendong anaknya.
Oma Opanya juga hanya bisa menggeleng padahal sebelum ada Dinda anak itu sangat susah di ajak bicara tak peduli dengan sekitar, sekarang setiap hari selalu mendengar ocehan teriakan dan ketawanya dengan lepas.
"Papa adeknya cewek apa cowok?", penasaran karena sudah menjadi kakak.
"Cowok kan Naomi mintanya cowok biar gak ada yang nyaingin katanya".
"Heheheee papa tau aja".
.
.
.
__ADS_1
Happy reading❤❤❤