BUKAN WANITA LEMAH

BUKAN WANITA LEMAH
82. Part 82


__ADS_3

Pagi ini mereka sarapan seperti biasanya, di temani suara Naomi yang sudah seperti burung terus berkicau di pagi hari.


Setelah sarapan Frans langsung memerintah Dinda dan Naomi ke mobil terlebih dahulu dia tau ada yang mau di bicarakan, melihat gelagat kedua mertuanya.


"Sayang masuk ke mobil duluan ya tunggu di mobil, aku ada yang ketinggalan di kamar", ucap Frans.


"Iya mas, aku sama Naomi tunggu di mobil ya", Dinda dan Naomi pamit pada semuanya. Setelah mereka keluar, Frans mendekat pada mertuanya.


"Ayah sama Ibu ada apa, ada yang ingin di bicarakan sama Frans?", tanya Frans.


"Nak maafkan kami yang selalu merepotkan kamu, kami ingin mengunjungi Oma Rena dan Om Bima, apa kamu tidak keberatan".


"Tidak sama sekali, nanti siang Frans akan pulang ya, tunggu Frans pagi ini ada meeting dulu".


"Terimakasih nak, Maaf kami selalu merepotkan kamu", ucap Ibu Ranti, airmatanya sudah turun.


"Sudah Ibu jangan menangis, saya tidak mau menjadi menantu yang durhaka pada mertua, Frans terkekeh. Apapun yang Ibu dan Ayah inginkan bicara langsung sama saya".


"Iya nak Terimakasih", ucap mereka berdua.


"Ya sudah Frans berangkat kerja dulu ya, nanti akan Frans jemput siang".


"Iya nak hati hati".

__ADS_1


Frans berangkat ke kantornya, Dinda dan Naomi juga berangkat ke skolah.


Sedangkan para orang tua yang sedang menikmati masa tuanya, mereka menunggu di rumah, Papa Wira juga sekarang di rumah terus hanya sesekali beliau sambil kerja di rumah.


.


.


Jam 11 siang Frans sudah pulang lagi, menjemput mertuanya, nyatanya Mama Sinta dan Papa Wira juga keluar, sudah bilang ke Dinda bahwa mereka sedang pergi bersama agar Dinda tidak curiga, nanti akan mereka sampaikan dengan pelan pelan ke Dinda tapi tidak dengan sekarang, karena takut trauma lagi.


Papa Wira dan Mama Sinta mereka pergi belanja sedangkan Frans dan mertuanya menjenguk Oma Rena dan Om Bima.


Sampai sana mereka di beri waktu 1 jam untuk bisa ngobrol.


"Ma bicara dengan pelan", ucap Ayah Hendra.


"Ma maafkan Ratna, Maaf Ratna tidak bisa menjadi menantu yang Mama inginkan", tangis Bu Ratna sudah tidak terbendung lagi.


"Keluargaku hancur gara gara kau, wanita miskin wanita sial".


"Ma stop menghina istriku, aku keluar dari rumah juga karena tidak tahan dengan paksaan Mama dan kak Bima, aku mencari kebahagiaan ku di luar dan bertemu dengannya dia memberikan kenyamannan padaku, jadi stop salahkan istriku dia tidak salah apa apa".


"Ya kau juga sama durhaka pada orang tuamu sendiri tidak pernah mau menurut apa kata orang tua".

__ADS_1


"Mama dari dulu sampai sekarang tidak pernah sadar dan tidak pernah berubah, aku heran apa yang akan membuat Mama sadar dan berubah, ingat Ma mau bagaimanapun DINDA CUCU MAMA DAN RATNA ISTRIKU sampai matipun aku tidak akan meninggalkan mereka, mereka hidupku duniaku, pantas Papa dulu lebih memilih mati daripada melanjutkan hidup dengan wanita yang keras kepala pemaksa dan tidak tau berterimakasih", kesabaran Ayah Hendra sudah habis, selama ini dia selalu diam karena merasa itu ibunya.


"Anak kurang ajar kau Hendra, menyesal aku mengasihimu menyayangimu dari semenjak bayi, kau dan Bima memang beda Bima yang selalu menjaga dan merawat Ibunya dengan baik, kau apa yang kau kasih pada Ibumu ini".


"Mama dan kak Bima sama, sama sama manuaia jahat manusia kejam, hidup pun menjadi tidak tenang walau banyak harta banyak duit".


"Setidaknya kami tidak kelaparan kami bisa membeli makan kami bisa membeli apa yang yang kami mau, tidak seperti hidupmu yang serba kekurangan dengan wanita miskin ini".


"Maaf Ma, Maaf karena kami telah menentang Mama", ucap Bu Ratna.


"Stop kau memanggilku Mama, kau bukan anakku bukan menantuku, kau hanya wanita miskin dekil dan sudah menghancurkan keluargaku".


"Cukup Ma, aku rasa memang menantuku benar menempatkan Mama dan kak Bima di sini, aku dan istriku pergi, Maaf aku tidak bisa menjadi anak yang seperti Mama inginkan, terimakasih buat pengorbannan Mama yang telah membesarkan aku, aku pamit", Ayah Hendra langsung menarik Bu Ratna untuk keluar dari sana.


Frans menunggu di luar karena tidak di perbolehkan masuk lebih dari dua orang. Bu Ratna keluar masih dengan tangisnya.


Frans tau akan seperti ini karena watak Oma Rena memang seperti itu, keras walawpun sudah tua mulutnya juga sudah seperti toa dan omongan tetangga yang selalu kencang dan pedas, jika tidak menyukai kita.


.


.


.

__ADS_1


❤❤❤ Happy reading 😘😘😘


__ADS_2