
Dinda sangat menikamti mandinya, kamar mandi suaminya ini sangat membuatnya nyaman.
Frans yang menunggu Dinda mandi hampir setengah jam, takut istrinya kenapa napa dia mengetuk pintu kamar mandi itu.
"Sayang, Dindaa, kamu gak kenapa napa kan?", tanya Frans.
"Iya mas tunggu sebentar", lupa deh kalau di tungguin suami, habisnya kamar mandi ini luas bersih bikin nyaman banget berasa bukan di kamar mandi, Dinda tertawa sendiri.
Frans menunggu istrinya di depan pintu kamar mandi itu tak lama Dinda keluar dia sudah mengganti bajunya di sana menggulung rambutnya yang basah dengan handuk.
Pamandangan yang menyejukan mata bagi Frans.
"Sayang ko lama banget sih di kamar mandinya?", tanya Frans.
"Kamar mandi kamu bikin nyaman mas, berasa bukan di kamar mandi aku tadi sambil tiduran hehee".
"Bikin mas panik aja kamu ini", Frans mengangkat istrinya membawa ke kasur, mencium Dinda bertubi tubi, terakhir mencium bibir istrinya yang sudah candu bagi Frans, sangat lama mereka berciuman kali ini Dinda langsung membalas serangan suaminya meski masih sangat kaku.
"Makin pintar istriku", Frans tersenyum lalu menyatukan bibirnya lagi, tangan nya tak tinggal diam langsung mencari dua gunduk kesukaan nya, meremas dengan gemas.
Dinda dibuat melayang dengan sentuhan sentuhan suaminya.
Frans menyibakan baju yang di pakai Dinda dia langsung memposisikan gungukan itu ke mulutnya menyesap habis, tangan satunya masih dia gunakan untuk meremas satunya lagi. Seperti bayi yang sedang kehausan.
Baru saja satu tangan Frans mau turun ke bawa. Sudah mendengar teriakan anak nya.
Huwhhh Frans membuang napas dengan kasar, hasratnya sudah naik. Dinda terkekeh melihat muka masam suaminya, jujur saja dia juga sudah melayang, yamau gimana lagi udah punya anak ya begitu.
__ADS_1
"Iya sayang tunggu sebentar", teriak Dinda pada Naomi.
Dinda mengelus pipi suaminya sambil tersenyum, sebenarnya dia juga merasa kasihan pada suaminya itu "Sabar ya, masih banyak waktu buat kita berdua, Naomi tidak akan kecil terus, besar sedikit juga bakalan sibuk dengan kesenangan nya sendiri", ucap Dinda.
"Mau marah tapi anak sendiri", Frans membantingkan badan nya ke kasur menelusupkan muka di antara bantal dan guling.
Dinda terkekeh melihat muka berantakan suaminya.
"Maaf sayang Mama habis mandi bohong Dinda", mau gimana kalau jujur juga gak mungkin kan.
"Lama amat Mama mandinya", Naomi masuk ke kamar itu, langsung lompat ke kasur naik ke badan Papnya.
"Papa bangun", Naomi menggoyang goyangkan badan Papanya.
Duhh kalau bukan anak udah gue karungin buang ke laut, bisa bisanya menggagalkan kesenangan baruku, batin Frans.
"Iya sayang Papa udah bangun", Frans memeluk Naomi.
"Pada mau makan apa, Mama mau masak ya".
"Apa aja yang Mama masak pasti enak", ucap Naomi si anak doyan makan sekarang.
"Iya sayang Naomi benar, buktinya pipi dia sekarang sudah mengembang, perut aku juga lumayan buncit".
"Orang yang sering masak bibi, aku cuman bantuin doang, yaudah mas aku turun ya, sayang Mama turun dulu ya Nomi sama Papa dulu di sini".
Setelah mendapatkan ijin dari suami dan anak nya Dinda menuruni tangga, ini sudah jam 4 sore pasti yang lain sibuk masak, pikir Dinda.
__ADS_1
Ternyata mertua dan juga orangtuanya Dinda sedang asik mengobrol di ruang tengah.
"Sayang mau masak?", tanya Mama Sinta.
"Iya Ma mau bantuin bibi", ucap Dinda.
"Gak usah kamu istirahat saja sana di kamar, biarkan bibi saja yang masak untuk hari ini".
"Gak Ma, badan juga pegel rebahan terus".
"Yaudah Mama gak bisa paksa", sebenarnya Mama Sinta juga sudah berpaling ke rasa masakan Dinda, menantunya itu sangat pintar mengolah makannan.
Dinda masuk ke dapur benar saja bibi di sana sedang menyiapkan bahan masakan.
"Ehh ada si non", ucap bi Ida.
"Iya bi, mau masak apa ini, Bibi siapin bahannya aja ya biar Dinda yang masak".
"Siap bu bos", ucap bi Anah.
"Bi Anah suka kebiasaan deh", mereka tertawa bersama Dinda yang masak yang lainnya hanya bantuin dan cuci piring siapin mangkuk atau apalah.
•
•
•
__ADS_1
❤❤❤
Happy reading. Jangan lupa like ya😊 Terimakasih.