BUKAN WANITA LEMAH

BUKAN WANITA LEMAH
93.


__ADS_3

Dinda yang dari tadi pagi merasakan panas pinggang dan sedikit ada rasa sakitnya juga, padahal perkiraan dokter lahirannya akan seminggu lagi.


Hari ini Frans sedang meeting penting di luar sebenarnya dari pagi perasaan lelaki itu sudah was was dan rasanya sangat malas kalau saja meeting ini bisa di gantikan oleh Rio pasti Rio yang akan menghadiri meeting.


Mau buang air kecil bukan mau bab juga bukan ini kenapa ya, Dinda mondar mandir terus di dalam kamar, masa iya mau lahiran kata dokter kan minggu kemarin waktu lahirannya 2 minggu lagi berarti minggu depan dong, ini mules sakit perut juga nggak kenapa ya, gumam Dinda.


Keluar dari kamar menuruni tangga perutnya semakin gak enak, "Mbak mama mana?", tanya Dinda pada art yang lewat.


"Ibu baru aja masuk ke kamar nya non, ada apa ada yang bisa saya bantu?", melihat Dinda meringis.


"Mbak tolong panggilkan mama cepat ya", Dinda semakin meringis sakit pinggang nya bertambah.


Art itu langsung lari ke arah kamar mama Sinta, "Ibu permisi bu", sambil mengetuk pintu.


"Ada apa mbak anah", tunben artnya mengetuk pintu sambil tergesa gesa.


"Ibu itu non Dinda bu non Dinda aduhhh", menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Itu bu ituuu mau melahirkan sepertinya".


"Hahh dimana menantuku sekarang", berjalan dengan cepat mama Sinta sangat panik.


"Di ruang tenggah bu".

__ADS_1


"Sayang nak kenapa?".


"Pinggang Dinda sakit ma, perut juga gak enak gak tau kenapa", meeingis menahan panas dan sakit pinggangnya.


"Ayo ke ruhmah sakit sayang, Ya Allah mbak tolong panggilkan pak Herman suruh siapain mobil buat ke rumah sakit".


Semuanya berpencar yang satu mengambil koper di kamar satunya memanggil sopir yang lainnya mengambilkan sandal san segalanya, setelah masuk ke dalam mobil mama Sinta langsung menlpon Frans.


Untung saja Frans meeting dengan Rio juga, mendapat tlpon dari ibunya alis Frans menyengit heran.


"**Iya halo ma".


"Iya ma Frans ke sana sekarang tolong jagain istriku ma", panik nya**.


"Semuanya maaf ya saya hanya bisa sampai di sini, istri saya mau melahirkan", ucap Frans dan langsung berlalu dari sana tanpa mendengar jawaban yang ada di ruang meeting itu.


Rio juga ikut bangkit berlari mengikuti Frans setelah pamit sama semua orang.


Baru juga mobil masuk ke halaman rumah sakit itu Frans langsung turun dan berlari mencari dimana tempat istrinya, setelah menemukan dimana istrinya Frans berjalan cepat lagi, semua orang yang melihatnya merasa aneh dengan lelaki itu, sebagian orang ada yang mengenalnya merasa heran ada apa dengan Frans mukanya terlihat panik.


"Ma Dinda gimana?", mukanya tegang dan panik, dulu pas Naomi lahir dirinya sedang berada di luar kota dan karena Selena juga sudah pergi pergian terus dari rumah.

__ADS_1


"Iya Dinda mau lahiran nak, kata dokter selain suaminya tidak bisa ikut masuk ke sana", mama Sinta sudah menangis saking bingungnya, sangat kasihan melihat menantunya tapi dia gak bisa nemenin.


"Aku masuk ma", Frans langsung masuk ke ruangan bersalin, Ya Allah tidak tega melihat istrinya meringis kesakitan, "Sayang aku di sini", mencium kening istrinya lama.


Dinda mendongak, "Mas", suaranya pelan di iringi senyuman manis, rasa yang lumayan sakit dari tadi Dinda tahan sekuat tenaga, menenangkan diri sendiri dengan selalu mengucap Bismillah.


"Sakit ya sayang", Frans meneteskan air mata melihat Dinda terus terusan meringis.


Dinda sangat tenang tidak teriak teriak tidak mengaduh juga walawpun raut mukanya sangat terlihat kalau sedang kesakitan, "Ngga mas", bohongnya tersenyum kecil karena tidak mau melihat muka panik sang suami.


"Mas maafin Dinda ya kalau slama ini banyak salah", Dinda menggenggam erat tangan suaminya dan bicara dengan pelan.


"Iya sayang, kamu belum pernah membuat kesalahan selama kita menikah, kamu istri yang baik juga selalu nurut apa kata suami, Bismillah sebentar lagi kita ketemu adek", Frans mencium kening Dinda lagi sangat lama..


.


.


.


❤❤❤ Happy reading 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2