
Sudah hampir 2 jam Dinda masih tidak sadarkan diri.
Karena badan nya dari kemarin masih belum sembuh total dari demam, Dinda harus tanggung jawab dengan pekerjaan nya, memaksakan diri untuk terus bekerja.
Frans membiarkan saja Dinda yang sedang pingsan, bahkan demam nya semakin tinggi sampai Dinda mengigo,
Ampun pak ampun, saya tidak tau apa apa, saya gak ada maksud gak ada tujuan buat ngedeketin bapak, saya tidak pernah mengincar harta bapak.
Rancuan Dinda dengan lirih namun kata demi kata nya sangat jelas.
Frans yang awalnya menyangka Dinda sudah sadar dari pingsan nya, niat hati Frans bangkit dari kursinya untuk memaki Dinda lagi.
Frans membangunkan Dinda dengan kasar, cek wanita ini merepotkanku saja, lalu menarik tangan Dinda sampai jatoh ke lantai.
Dinda yang di antara sadar dan tidak sadar, mendengar dan merasakan bagaimana perlakuan Frans.
"Bangunnn bodoh", apa kau pikir aku akan mengasihanimu, ohh tentu tidak jangan ngarep ucap Frans berbisik di kupingnya Dinda.
Frans hari ini benar benar marah besar, melihat putrinya yang sangat berubah setelah bertemu dengan Dinda, ya putrinya pagi ini sarapan dan berangkat lebih awal.
Tidak pamitan terlebih dahulu sama Frans, bahkan tadi pas Frans turun untuk sarapan putrinya itu sudah berangkat sekolah. Itu yang membuat Frans murka.
Tidak biasanya Naomi seperti itu.
__ADS_1
Padahal kesalahan ada pada dirinya sendiri, yang tidak memberikan ruang tidak memberikan kebebasan seperti anak kecil pada umumnya.
Dan pagi ini sebenarnya di sekolah Naomi ada acara kelas nya, jam 7 sudah harus sampai sekolah.
Frans yang sibuk dengan dunia kerja, tidak membaca pesan dari gurunya Naomi, kalau anak anak khusus untuk hari ini harus datang lebih pagi dari biasanya.
Naomi yang masih kesal sama Papanya dia pun lupa untuk memberi tau itu tadi malam.
Oma dan Opanya yang tadi setelah membuatkan sarapan dan menemani Naomi untuk sarapan, pamit untuk joging mengelilingi komplek.
Naomi yang menunggu Papanya turun sarapan namun tak kunjung turun alhasil dia terburu buru untuk berangkat sekolah sampai lupa pamit pada sang Papa.
...-------------...
Dinda berusaha untuk membuka mata nya.
"Maaf pak", ucap Dinda sangat lirih, berusaha untuk bangun dan menggapai apapun yang ada di sebelah nya untuk membantu menopang tubuhnya.
Dinda berusaha keluar dari ruangan Frans, berpegangan pada dingding dengan tertatih karena badan nya sangat lemas.
Ya Allah kuatkan aku, batin Dinda. Matanya sudah mengembun, mengingat perlakuan dan ucapan demin ucapan yang keluar dengan kasar dari mulut Frans.
Sampai lift, Dinda duduk di dalam lift untuk mengumpulkan tenaganya, keluar dari lift bertemu dengan Lusi.
__ADS_1
"Dindaaaaa", teriak Lusi yang melihat Dinda ambruk di depan lift.
Dinda masih sadar namun karena lemas dia tidak kuat untuk menopang tubuh nya.
Dindang yang langsung di bawa ke kelinik kantor. Ya di kelinik kantor itu ada dokter, dan juga ada pasilitas untuk berjaga jaga jika karyawan ada yang sakit pas berada di kantor. Bahkan dokternya pun dokter ternama, pak Wira mempasilitasi karyawan nya dengan baik.
Di tangani langsung oleh dokter Dinda mulai mempunyai kesadaran sepenuhnya.
"Ya Allah Din, aku kira kamu tidak masuk kerja", kenapa kamu itu memaksakan diri banget sih Dinda, sudah tau lagi sakit.
"Kamu ini kaya emak emak ngomel mulu Dinda memberengut", namun jauh dari lubuk hati yang paling dalam, Dinda sangat sangat bersyukur karena Lusi menyayangi nya.
"Biarin kaya emak emak, habis nya kamu itu tidak perhatian sama badan sendiri".
Udah istirahatin ya tidurin dulu, biar kamu cepet sembuh. Aku kembali kerja dulu nanti pas jam istirahat aku temenin kamu lagi.
Gak bisa nemenin kamu lama lama karena ini masih jam kerja, yang ada bos murka sama aku.
Lusi sebenarnya tidak tega untuk meninggalkan Dinda, namun mau bagaimana lagi nanti kena ocehan kena teguran dan ancaman nya di pecat.
❤❤❤
Selamat membaca, jangan lupa like nya hehe Terimakasih🙏🙏🙏
__ADS_1