
Setelah 2 hari di rawat di rumah sakit, Dinda dan baby Ken pulang kerumah, Frans selama dua hari juga tidak ke kantor sama sekali semua pekerjaan iya serahkan ke Rio dirinya hanya mengerjakan yang penting pentingnya saja.
"Sayang pakai kursi roda aja ya", ucap Frans sebab dari tadi Dinda maunya jalan pelan aja.
"Gak usah mas aku bisa jalan pelan ko", tolak Dinda.
"Kejauhan jalannya pakai kursi roda aj", tidak mau di tolak perintahnya.
"Terserah deh", awalnya Dinda merasa Frans begitu memanjakannya, bukannya tidak mau di manjakan oleh suami tapi jika seperti ini terus dia merasa lebih ke melunjak mau minum saja Frans selalu membantunya.
Dinda menggendong baby Ken, duduk di kursi roda Frans yang mendorongnya, di belakang mereka ada Pak Herman dan mbak Anah yang membantu membereskan pakaian utusan Mama Sinta, huwhhh berasa seperti tuan putri yang di jaga oleh tiga bodyguard, kadang merasa lucu kadang merasa ini semua sangat berlebihan juga.
Masuk ke dalam mobil juga di bantu mbak Anah dan Frans padahal Dinda sudah menolak kalau dia bisa hanya masuk ke dalam mobil doang ini, lagi dan lagi perintah suaminya tidak bisa di tolak.
Selama dalam perjalannan rasanya Dinda sangat jengah dengan sikap suaminya.
Sampai rumah, ternyata di rumah sangat rame menyambut kedatangan baby embul, Ayah Ibu bersama Oma Rena juga ada di sana.
"Selamat datang anak mantu kesayangan Mama cucu Mama yang sangat tampan juga embul", mencium sang menantu dan cucu dengan sayang.
Dinda tersenyum, Ya Allah masih belum bisa menyangka masih terasa mimpi, "Terimakasih Ma", Dinda mencium tangan mertuanya berkali kali.
"Selamat ya nak Masya Allah ya sekarang sudah menjadi ibu dua anak, banyakin sabar istigfar ya jangan pilih kasih harus bisa membagi waktu sama si sulung", ucap bu Ratna.
"Terimakasih Ibu", dalam hatinya, Ya Allah hahaa umur 24 udah punya dua anak yang satu udah gadis lagi, Dinda terkekeh menertawakan dirinya sendiri.
"Benar kata ibu nak harus banyak banyak sabar tidak boleh kasar pada anak, selamat ya anak Ayah, do'a Ayah selalu menyertai rumahtangga kalian semoga sekalu sehat dan rukun".
"Terimakasih Ayah", senyum Dinda tidak luntur dari tadi.
Oma Rena hanya melihat dari samping dia ingin sekali mengucapkan selamat pada sang cucu, bahagia memiliki cicit juga.
__ADS_1
"Oma sini", panggil Dinda sebab dari tadi hanya melihatnya tanpa bicara juga.
Oma Rena tersenyum girang, "Emang boleh", pertanyaan nenek nenek umur 60 tahun itu sangat lucu menurut mereka yang ada di sana.
"Boleh dong katanya Ken mau di do'ain sama Oma buyut nya", Dinda tersenyum dan setelah Oma Rena mendekat padanya Dinda langsung mencium pipi Oma Rena.
Di cium pipi oleh cucu pertama kalinya membuat iya menangis haru, "Terimakasih sayang sudah menerima Oma dengan baik meskipun Oma sudah sangat jahat sama kamu", tangannya bergetar mengelus kepala sang cucu.
"Ini mau gendong Ken nya", ucap Dinda.
"Bukan gak mau tapi Oma takut jatoh kasian cicit Oma", sudah di terima dengan baik saja sudah bersyukur banget, bahagia di masa tua ada yang mengurus dan memperhatikannya itu saja sudah surga baginya.
"Lah kan Oma lagi duduk", Dinda mendekat dan menaruh sang anak di pangkuan Oma nya.
Girangnya Oma Rena menciumi badan baby Ken berkali kali, mencium pipi masih takut.
Dinda masuk ke dalam kamar, kamar mereka untuk satu bulan lebih ini pindah di bawah karena merasa kasihan sama Dinda untuk jangan naik turun tangga dulu.
Frans langsung memeluk istrinya "Udah sayang, Ken di luar?", tanya nya.
"Iya kayanya Ken jadi boneka deh di keluarga kita, Dinda terkekeh. Aku mau mandi bau acem jangan peluk peluk dulu".
"Kamu gak pernah bau sayang, bahkan bau keringat kamu candu bagiku".
"Gombal".
"Gombal sama istri pahala sayang, terimakasih sudah memberikan jagoan kecil di hidupku", menghujani istrinya dengan ciuman.
Hahaaa, "Terimakasih terus kamu itu sudah tak terhitung mengucapkan terimakasih mas, sudah kewajiban istri melayani dan menghadiahkan anak pada suami, jangan pernah bosan mencintaiku ya".
"Cintaku tidak akan pernah luntur malah setiap harinya semakin bertambah dan terus bertambah".
__ADS_1
"Aku merasakan itu semua mas, terus menjadi suami yang baik bertanggung jawab sayang sama aku sayang sama anak anak kita, jadilah Papa terbaik buat mereka ya dan suami terbaik untuk aku di sepanjang masa, aku mencintaimu suamiku sayang surgaku Papa dari anak anak ku".
"Tadi bilang sayang ya, aku mau dengar lagi dong soalnya langka dan baru kali ini kamu ngengucapkan cinta dan sayang sama aku".
"Sayangku kekasih halalku, cintaku?, duniaku, surgaku", cup Dinda mencium bibir suaminya.
"Ya Allah manis banget sayang, kamu istriku ibu dari anak anakku aku bahkan sangat sangat lebih mencintaimu", Frans mencium bibir Dinda lagi di sertai sesapan sesapan kecil yang penuh kelembutan juga ke nikmatan.
"Harus bisa nahan 40 hari ya", Dinda tersenyum sebab suaminya sudah tegang dan dia sudah tau jika seperti itu biasanya mereka akan menyatu tapi kali ini beda.
"Lama banget ya sayang", keluh Frans.
"Sabar ya harus lebih sabar anak nya sudah dua loh sekarang", mengusap sisi wajah sang suami.
"Aku akan terus sabar demi kalian", mencimu kening istrinya sangat lama.
"Terimkasih Papa".
"Sama sama Mama".
Mereka saling tatap dan tersenyum lalu menyatukan kening, entah siapa yang memulai duluan dari mereka menyatukan bibir lagi, saling ******* memberikan kenikmatan walau hanya dengan ciuman.
...TAMAT...
.
.
.
Terimakasih buat yang sudah memberikan dukungan, terimakasih buat pembaca setia karya pertama Author meskipun ceritanya acak acakan hehee.
__ADS_1
Love banyak banyak untuk kalian❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤