BUKAN WANITA LEMAH

BUKAN WANITA LEMAH
52. Part 52


__ADS_3

Keluarga Dinda terkejut mendengar semua yang tadi pak Wira ucapkan. Terharu dan Bahagia nya juga tidak bisa di ucapkan dengan kata kata.


Bersyukur karena Dinda di pertemukan dengan orang orang baik dan akan mendapatkan jodoh orang baik kaya raya juga.


Dalam hati kak Salma bangga pada adiknya sendiri, membuang kerikil mendapatkan Diamond, ingin sekali rasanya dia ngomong secara langsung ke muka Reni MAKAN TUH KERIKIL DAH ADIK GUE MAH DAPET DIAMOND. Heuhhh geram bukan main, dulu adiknya di ejek karena di tinggalkan dan Romi lebih memilihnya.


Meskipun terlahir dari beda Ayah namun masih 1 rahim mereka saling menyayangi dan juga Ayah Hendra sangat baik juga menyayanginya sedari masih kecil, bahkan lebih memilih mereka walawpun harus meninggalkan keluarganya. Maka dari itu sudah seperti Ayah kandung sendiri.


Rencana pernikahan mereka juga akan di laksanakan 2 minggu lagi, mepet memang waktunya tapi itulah maunya Frans, asal ada uang apapun bisa lancar lancar saja.


Setelah banyak berbincang bincang, mereka semua makan siang, sebenarnya waktu makan siang itu sudah terlewat.


Mereka semua makan dengan lahap walawpun makan dengan lauk seadanya saja sayur sayuran juga dapat di petik dari kebunnya langsung. Mama Sinta makan dengan kalap baru kali ini dia menemukan makannan se enak ini katanya, ini enak nya melebihi lestoran bintang lima. Papa Wira pun tak kalah kalap dengan makannan yang di suguhkan keluarga Dinda.

__ADS_1


Tiba tiba rumah Dinda seperti hajatan kecil kecilan di penuhi dengan tetangga tetangganya di sana. Bahkan mereka mengadakan acara masak memasak.


"Ma walawpun enak makan tapi harus di kontrol juga", ucap Frans mengingatkan sang ibu.


"Duhhh Frans ini tuh enak banget semuanya gak tau mulut Mama gak bisa berenti ini", ucap Mama Sinta, mulutnya masih mengunyah rebusan pepaya muda yang di coel pakai sambal, aneh baru nemu makannan kaya gini enak banget.


Papa Wira juga bahkan keringatnya sudah bercucuran, makan dengan tumisan bunga pepaya, ikan bakar nila, sambal, lalapan rebusan pepaya muda, daun melinjo dan daun singkong. Chef ala ala warga kampung, bukan main rasanya. (Mungkin karena banyak micin nya kali ya hahaha).


Frans juga bukan tidak menikmati, namun dia rasanya kenyang karena melihat semua orang di depannya makan dengan lahap.


Naomi masih setia di suapin oleh Dinda.


"Udah makannya, gak enak ya?", tanya Dinda sedikit berbisik karena mereka duduk bersebelahan.

__ADS_1


"Enak kok enak, entah lah aku merasa kenyang sendiri melihat mereka semua makan seperti belum makan 3 hari", Frans menggelengkan kepala.


Dinda hanya mengangguk sambil terkekeh.


"Kamu sambil makan yang benar, jangan menyuapi Naomi terus, sejak kapan tu anak doyan makan?", aneh porsi makan Naomi sekarang beda, biasanya nasi cukup 5 atau 6 sendok, itupun jarang di makan, paling mau makan roti puding cemilan cemilan sehat lainnya.


"Ya syukur dong dia sekarang mau makan, biar berisi badannya", ucap Dinda lagi. Frans mengangguk saja sambil terus memperhatikan sekitar yang masih pada lahap makan.


Suara berisik warga di sana seolah alunan musik bagi mereka yang sedang menikmati makan.


❤❤❤


Selamat membaca, jangan lupa like ya😍 Terimakasih😘🙏

__ADS_1


__ADS_2