
Yang biasanya Naomi di bangunkan oleh Papa nya Oma nya atau pengasuh nya.
Anak itu pagi ini berbeda, jam 6 dia sudah rapih dengan seragam sekolah nya.
Naomi pagi ini bangun setengah 6 dia buru buru untuk mandi dan memakai seragam nya sendiri, ya meski memang biasanya Naomi mandi sendiri dan pake seragam sendiri, hanya bangun pagi nya saja dia yang sedikit susah.
Anak itu menuruni tangga langsung menengteng tas nya, Oma sinta yang baru saja keluar dari kamar nya untuk membuat sarapan sampai kaget dengan dengan pemandangan pagi ini.
"Sayang, sudah bangun sudah rapih", siapa yang bangunin hemmm, ucap Oma sinta.
"Bangun sendiri Oma, kan udah gede udah 5 tahun harus mandiri, ucap nya dengan cengiran khas nya".
"Ehhh iya cucu Oma udah mau Ulang Tahun ya", duhhh udah gede aja sambil mencium kepala Naomi.
Naomi memang tidak mau di cium di pipi, dia suka perotes.
"Yaudah tunggu di sini Oma bikin sarapan dulu ya".
"Iya Oma".
...*************...
Berbeda dengan Dinda.
__ADS_1
Dinda yang belum benar benar sehat, memaksakan diri untuk tetap bekerja, bahkan jam 6 dia sudah sampai di tempat pekerjaan nya, lalu sebelum masuk dia sarapan bubur dulu di depan kantor itu.
Mau tak mau harus makan agar punya tenaga, batin Dinda.
Sarapan kali ini hanya beberapa sendok, di rasa tidak enak semua makannan yang masuk ke mulutnya terasa pait.
Ya Allah kuatkan dan sehatkan hamba, Dinda mendongak mengatupkan kedua tangan lalu mengusap wajahnya.
Selesai membereskan ruangan CEO, rasanya Dinda mempunyai dunia sebelah, tadi dia sedikit buru buru takut Frans datang sebelum kerjaan nya selesai.
Alhamdulillah akhirnya beres juga ucap nya, Dinda baru saja mau masuk lift untuk turun karena kerjaan nya di ruangan itu selesai.
Deg, Ya Allah ucap Dinda terjengkat kaget.
Frans menyeret Dinda untuk masuk ke ruangan nya, dengan muka merah menahan amarah, entah karena apa entah sebab apa singa itu terlihat sangat marah.
"Apa yang kamu perbuat kepada anak ku?".
"Kenapa kamu meracuni otak anakku?".
"Apa yang kamu mau dariku?" cepat jawab cepattttt Frans sambil mencengkeram dagu Dinda.
"Ma maaksud bapak apa?", sumpah saya tidak tau apa apa pak", bicara Dinda semakin lirih, belum juga sembuh sakitnya dari kemaren, ini sudah di kejutkan lagi dengan tuduhan tuduhan yang menurut Dinda tidak masuk akal.
__ADS_1
"Cek jangan sok lugu dan jangan sok polos", wanita miskin sepertimu pasti hanya menginginkan hartaku bukan.
"Mau cek berapa kamu dariku sebutkan saja nominal nya".
"Tapi dengan satu syarat nya. Jauhi anakku, wanita miskin sepertimu tidak pantas untuk berdekatan denganku atawpun anak ku".
Jlebb bagai tertusuk seribu pisaw Dinda tidak mampu berkata kata lagi, hatinya sakit sangat sakit.
"Memang aku miskin harta pak, tapi tidak miskin tatak rama, tidak miskin sopan santun".
"Bahkan sampai saat ini, saya tidak tau sama sekali dengan ucapan dan maksud bapak".
"Saya tidak dekat dengan anak bapak bahkan dengan bapak, saya sadar saya hanya seorang pegawai OG, saya tau batasan pak, saya tau diri".
Anak bapak yang kemarin datang, bahkan saya awalnya tidak ingat siapa dia, karena pertemuan kami sangat singkat. Dia yang tersesat dan menangis di pojokan karena tidak tau jalan untuk ke ruangan ayah nya.
Apa saya salah membantu nya, menggendong nya, membawa dia untuk masuk ke ruangan ayah nya.
"Kurang ajar, kau bisa bisa nya melawanku", di dorongnya tubuh Dinda, sampai terbanting ke ujung sopa.
"Awwww pekik Dinda, setelah itu Dinda tidak sadarkan diri.
❤❤❤
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like nya ya. Terimakasih🙏🙏🙏