
Waktu sudah semakin mendekat saja 1 minggu lagi acara pernikahan Frans dan Dinda. Frans sudah tidak sabar menunggu hari itu, dia yang paling bawel tentang ini itu, Mama Sinta dan Frans yang paling antusias, Naomi juga tak kalah antusias.
Mereka semua sama sama sibuk, Frans sibuk menyelesaikan semua pekerjaannya, Dinda sibuk merawat Naomi dan sesekali menemani Mama Sinta yang menyiapkan pernikahannya.
Tidak pernah terbayang, bahkan bermimpi pun tidak untuk menikah di gedung yang sangat mewah, sungguh rasanya ini hanyalah mimpi, persiapan baru 70% sudah semegah ini, akhhh
entah lah Dinda tidak bisa berkata kata akan semegah apa acara pernikahannya nanti.
Naomi yang semakin lengket saja dengan Dinda bahkan hanya di tinggal ke supermarket saja sudah nangis kejer.
"Mbak Wina, Mama mana?", tanya Naomi.
"Mama lagi ke supermarket dulu non".
Huwaaaa, Naomi langsung nangis kejer, memanggil manggil Dinda. para ART di sana dibuat gelagapan tidak pernah Naomi menangis sampai seperti ini, mbak Winta merasa bersalah karena dia yang memberi tau.
Sudah hampir setengah jam anak itu masih belum berenti menangis, Mama Sinta juga sudah capek membujuknya, tidak ada cara lain selain menlpon Dinda untuk cepat pulang.
"Dinda masih dimana?", tanya Mama Sinta dalam tlpon nya.
"Ini baru beres Ma, udah mau pulang".
"Iya cepet pulang Din, Naomi lagi ngamuk dari tadi tidak berenti menangis".
"Iya Ma, ini Dinda pulang", duhh anak itu kenapa lagi sih gerutu Dinda, dia dengan bi Ida buru buru untuk pulang.
Frans yang baru habis meeting dari luar, menyempatkan untuk mampir dulu ke rumah, niat untuk makan siang di rumah hari ini, sudah 1 minggu dia sangat sibuk tidak ada waktu untuk bersama Dinda dan Naomi.
Baru juga sampai ke rumah dan turun dari mobilnya di buat bingung dengan suara tangisan anaknya yang menggelegar memenuhi ruangan tengah sampai terdengar ke luar.
Baru membuka pintu, dia melongo melihat Naomi yang nangis kejer duduk di lantai, sedangkan Mama Sinta mbak Wina dan Bi Anah ada di situ tapi hanya pada berdiri saja.
"Kenapa Ma?", tanya Frans, bingung dia melihat Naomi seperti itu.
"Duh Mama sudah pusing Frans, anak mu itu ngamuk dari tadi, gara gara di tinggal Dinda ke supermarket sama Bi Ida".
__ADS_1
"Ko bisa, tidak biasanya kan dia menangis seperti ini", ucap Frans lagi.
"Mama juga gak tau, berusaha kita bujuk malah tambah kenceng nangisnya, coba kamu bujuk siapa tau mau di bujuk kamu".
Frans melangkah mendekati Naomi, namun Naomi seolah tidak melihat Papanya di sana.
"Heiii sayang kenapa nangis", tanya Frans.
"Mama gak ada Mama ninggalin Naomi", dengan suara terbata bata makin kenceng lagi nangisnya, di pangku Frans juga gak mau terus saja memanggil Mama.
Naomi takut kehilangan lagi, baru saja dia merasakan kasih sayang dari seorang ibu meski itu bukan ibu kandungnya sendiri, rasa takutnya mengalahkan segalanya, bahkan rasanya orang orang yang membujuknya di sana tidak ada artinya, dia hanya ingin Mama Dinda, mau di peluk Mama Dinda.
Tangisnya masih terus meski suaranya sudah mulai habis.
Dinda yang buru buru turun dari mobil sambil berlari, pintu luar terbuka jelas tergengar tangisan Naomi belum berenti.
"Kenapa nangis sayang", tanya Dinda dia juga panik melihat Naomi yang sudah kusut acak acakan nangis duduk di lantai. Buru buru cuci tangan langsung lari lagi menggendong Naomi. "Kenapa nangis, udah ya nangisnya Mama bentar doang tadi beli ikan buat makan Naomi".
"Mama tinggalin Naomi Mama jahat", dengan tangisnya yang masih sesegukan.
Memeluk Naomi dengan erat dan terus menciumi kepala anak itu menyalurkan rasa sedih dan sayangnya. Ya Allah baru di tinggal 2 jam aja udah sekejer ini nangis batin Dinda.
Tidak butuh waktu lama tangis Naomi juga berenti karena sudah di pangku dan di peluk Dinda, namun masih sesegukan.
Dinda yang masih belum menyadari kalau Frans terus menatapnya, dia terus saja mendekap dan menciumi kepala Naomi. Mama Sinta sudah masuk ke kamarnya karena cucunya sudah berenti menangis udah ada pawangnya, mbak Wina dan yang lainnya juga sudah bubar membiarkan calon keluarga kecil itu duduk di sopa ruang tengah.
"Sayang kamu mendiamkan aku terus begini", akhirnya Frans buka suara, gemas sekali rasanya, ada di situ tapi seolah tak ada dan tak di anggap.
"Ehhh, kaget Dinda menoleh ke arah Frans, Ko udah pulang masih siang?", untuk sekarang bingung sekali bagi Dinda, panggilannya ke Frans harus apa. Kalau lagi ngobol sama Naomi panggilnya Papa, jika mereka berdua yang berinteraksi, ahhh geli rasanya harus panggil Frans dengan sebutan mas.
"Sebelum kamu datang aku duluan lo yang datang ke sini", Frans menekuk wajahnya.
"Ko aku gak liat hehee", cengir Dinda.
"Iyalah sibuk sama anak nya terus bapak nya gak di lirik lirik", sebal sangat sebal dalam hati Frans, namun dia juga merasa bahagia, sebegitu sayangnya Naomi sama Dinda begitupun Dinda sangat menyayangi Naomi.
__ADS_1
"Ckk udah bapak bapak juga merajuk, jelek tau, udah makan belum?", tanya Dinda.
"Belum, niatnya mau makan siang di rumah, sampe rumah ada yang ngamuk di tinggalin Mama nya".
"Iya tadi dia lagi asik menggambar, aku sama bi Ida buru buru gak ijin dulu sama dia, Maaf ya udah bikin Naomi nangis kaya tadi", bukan hanya merasa bersalah pada Naomi saja, bahkan merasa bersalah pada Frans, Mama Sinta dan Papa Wira juga, merasa tidak bisa menjadi calon ibu yang baik untuk Naomi.
"Iya gak apa apa. Kapan kapan ijin dulu sama dia Sayang, ngeri banget anaknya ngamuk kaya gitu", ucap Frans lagi.
"Iya Maaf ya", ucap Dinda lagi.
"Mama aku laper", rengek anak itu.
"Capek abis nangis ya", tanya Dinda, setelah itu Frans dan Dinda tertawa melihat muka Naomi yang malu malu.
"Mama masak dulu ya bantuin bi Anah, Nomi sama Papa dulu di sini tar Mama ambilin puding nya".
"Iya Ma, patuh anak itu pindah ke pangkuan bapaknya".
"Tadi aja gak mau sama Papa", goda Frans.
"Jangan suka di ledekin anak nya", kesal Dinda.
"Iya iya, Maaf".
Dinda mengambilkan puding untuk pengganjal laper Naomi dan Frans sebelum masakan makan siang nya matang.
•
•
•
❤❤❤
Selamat membaca, jangan lupa like😘 Terimakasih🙏🙏🙏
__ADS_1