BUKAN WANITA LEMAH

BUKAN WANITA LEMAH
86.


__ADS_3

Setelah dari rumah sakit Frans langsung ke kantornya, baru saja mau membuka laptopnya namun sudah mendapatkan tlpon dari Mama Sinta.


"Frans nak pulang nak pulang", panik Mama Sinta.


"Ada apa Ma kenapa?", Frans juga tak kalah panik mendengar Mama Sinta bicara.


"Dinda pingsan di sekolah Naomi Frans, ini Mama mau kesana menjemputnya sekarang".


"Ya Allah Ma istriku kenapa lagi", tidak menghiraukan sekertarisnya yang baru saja masuk Frans langsung menyambar kunci mobil yang baru saja iya taro dan berlari keluar.


"Bang mau kemana?", tanya Rio bingung.


"Iyo Dinda pingsan di skolah Naomi", dengan terus melangkah cepat Frans.


"Gue ikut, lu lagi panik kaya gini gak bisa bawa mobil yang ada malah bahaya".


Tanpa banyak kata lagi Frans langsung masuk ke mobilnya membiarkan Rio yang mengendarai mobilnya.


"Cepet Iyo lama amat lu bawa mobil".


"Iya bang", tidak bisa banyak kata yang Rio keluarkan sebab iya tau kalau Frans sedang panik.


Mama Sinta menlpon Frans lagi kalau mereka langsung ke rumah sakit, Ya Allah semakin membuat Frans panik dan takut, Dinda baru juga ceria lagi seminggu ini setelah kejadian bulan lalu.


Rio menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi juga, sebenarnya dia juga panik takut Dinda kenapa napa sudah cukup melihat Dinda berbaring lemah sebulan yang lalu, kakak iparnya itu cerewet namun cerewet dengan kebaikan juga dan Rio tau bagaimana nanti kalau Dinda sampai kenapa napa sudah pasti abangnya yang lebih sakit.


Sampai rumah sakit Frans langsung turun dari mobilnya tanpa memperdulikan Rio lagi, tanpa harus mondar mandir bertanya tanya istrinya di sebelahmana seorang perawat langsung membawa Frans ke ruangan Dinda.


"Ma Dinda kenapa?".


"Mama juga belum tau sayang kita tunggu dokter dulu ya".


"Ya Allah Ma", Frans terus mondar mandir sambil menunggu dokter di luar hatinya cemas takut terjadi sesuatu baru juga sembuh.


"Ma kakak ipar kenapa?", tanya Rio.


"Sayang kamu juga kesini, gak tau nak Mama juga belum tau dokter belum keluar".


"Semoga tidak terjadi apa apa saja Ma, bang berdo'a jangan terlalu panik kaya gini".

__ADS_1


"Gimana gak panik Iyo Dinda baru saja sembuh dan ceria lagi", suara Frans melemah dan sedikit bergetar menahan tangisnya.


"Kita terus berdo'a bang semoga tidak terjadi apa apa ya", Rio terus mengelus punggung Frans memberikan kekuatan.


Bisa di bilang sekarang Frans yang terauma jika Dinda sakit, mengingat sebulan yang lalu, Ya Allah membayangkannya saja sudah begitu sakit kalau bisa di tukar mending dia yang sakit daripada istrinya.


Tak lama dokter keluar. "Pak Frans, Bu Sinta Pak Rio selamat pagi", sapa dikter itu.


"Bagaimana keadaan istriku?", tanya Frans dengan menggebu.


"Pagi juga dok, bagaimana keadaan menantuku".


"Tenang saja Bu tidak terjadi apa apa dengan Bu Dinda, malah sepertinya akan ada kabar baik", ucap dokter itu sambil tersenyum.


"Maksudnya dok", bingung Frans.


"Kabar apa dok, kenapa menantu saya.


"Saya juga belum tau pasti tapi kita tunggu dokter Hera sebentar ya".


"Ma, Frans Iyo bagaimana keadaan Dinda?", ucap Papa Wira dengan keringat di dahinya, karena baru pulang olah raga mendapat tlpon dari istrinya beliau sangat panik dan langsung ke rumah sakit.


"Belum tau Pa, kata dokter tidak apa apa dan sepertinya akan ada kabar gembira Mama juga bingung".


"Yaudah Pa duduk dulu", ucap Rio.


Papa Wira dan Mama Sinta duduk dan dokter Hera juga sudah masuk kedalam ruang perawatan Dinda, Frans langsung masuk ikut ke dalam tidak tenang sebelum melihat bagaimana istrinya sekarang.


Melihat muka Dinda yang pucet hati Frans mencleos rasanya dia bukan suami yang baik untuk istrinya.


"Selamat Pak Frans Nona Naomi akan mempunyai adik", ucap dokter Hera sambil tersenyum.


"Maksudnya dok?", masih belum bisa mencerna apa kata dokter tadi.


"Bu Dinda sedang mengandung, usia kandungannya memasuki minggu ke empat".


Deg.. Jantung Frans rasanya berhenti berdetak antara bingung dan bahagia karena Dinda sedang mengandung anak nya.


Dinda mulai membuka matanya perlahan, "Mas aku dimana?".

__ADS_1


"Kamu di rumah sakit sayang tadi kamu pingsan di sekolah Naomi".


"Ya Allah ko bisa ya aku sampai pingsan mas".


Frans tersenyum lalu duduk dan mencium dahi istrinya bertubi tubi. "Terimakasih sayang, Terimaksih istriku".


"Maksudnya?", bingung Dinda.


"Kata dokter kamu sedang mengandung sayang, kamu mau minum?".


Dinda melirik ke samping kiri di sana masih ada dokter Hera yang masih berdiri sambil tersenyum. "Selamat Bu Dinda", ucapnya menunduk hormat.


"Ini beneran dok saya hamil?", Dinda memastikan.


"Iya Bu, jika Bu Dinda ingin melihat bagaimana janin yang ada dalam kandungan Ibu nanti kita USG ya".


Dinda menangguk matanya sudah berkaca kaca, "Mas aku hamil", air mata bahagia Dinda tak tertahan lagi.


"Iya sayang, Terimakasih sudah menjadi Ibu yang baik untuk Naomi dan anak kita akan bertambah", bahagianya Frans.


Dokter Hera keluar sebentar dari sana karena akan menyiapkan ruangan USG untuk Dinda.


Mama Sinta Papa Handra juga Rio masuk ke sana karena sudah di ijinkan oleh dokter Hera tadi.


"Sayang nak apa yang sakit bilang sama Mama sayang", ucap Mama Sinta.


"Ma Dinda sedang hamil", Frans tersenyum bangga.


Ketiga orang itu di buat cengo beberapa saat dengan kabar itu. "Hah Dinda hamil Frans?", tanya Mama Sinta memastikan.


"Iya Ma, usia kandungan nya karanya memasuki ke empat minggu ini".


"Ya Allah anak Mama cucu Mama, Terimakasih sayang, selamat ya sayang", mencium pipi kiri kanan dan kening menantunya dengan sayang dan lembut.


Senyum bahagia semua orang terpancar di sana berbeda dengan tadi yang sangat panik.


.


.

__ADS_1


.


❤❤❤ Happy reading 😘😘😘


__ADS_2