BUKAN WANITA LEMAH

BUKAN WANITA LEMAH
89.


__ADS_3

Setelah makan siang Dinda menemani Naomi tidur siang, Naomi yang sering tidur dengan Mama da Papanya sekarang di bandingkan tidur di kamarnya sendiri.


Dinda tidak pernah merasa keberatan sama sekali, karena nanti juga bakal ada masa nya dimana anak tidak mau tidur 1 kamar lagi dengan Mama Papanya toh Naomi baru umur 5 tahun juga.


Dinda memeluk Naomi sambil terua mengusap ngusap lengan anak itu, Frans di sampingnya sedang asik dengan laptopnya.


"Sayang, Naomi sudah tidur?", tanya Frans.


"Baru aja".


"Kamu gak ikutan tidur?".


"Entahlah mataku gak ada rasa ngantuk sama sekali mas", Dinda menaruh melepaskan pelukan Naomi padanya dengan pelan dan hati hati, dia meringsut kepalanya pindah ke pangkuan sang suami menggeserkan laptop agar kepalanya bisa dalam pangkuan Frans.


Frans dengan senang hati menyambut nya lalu mengelus kepala sang istri, "Ada apa sayang apa ingin sesuatu".


"Usap usap kepala aja mas nyaman rasanya".


"Iya sayang kalau ngantuk tidur ya".


"Iya, ini gambar apa mas?".


"Ini desain namanya sayang, rencananya bulan depan mau mengeluarkan produk baru".


"Ohh, nanti di cetak ya, jadi pelastik atau kertas".


"Iya, ini desain buat plastik, tumben mau tau", Frans mengecup kening istrinya.


"Mau tau aja hehee".


"It's ok", Frans tersenyum.


Setiap apa yang Frans tempelkan pada Desain yang iya buat tidak lepas dari pertanyaan Dinda, tidak merasa keberatan sama sekali dengan semua pertanyaan istrinya malah ide ide dalam benak nya selalu muncul dengan cepat.


"Wah baru kali ini bikin desain cepat tanpa harus mikir lama, berkat Mama sama adik bayi ini", Frans mengusap perut Dinda.


"Adik bayi semoga nanti pintar kaya Papa nya ya, duh gak kebayang kalau kaya Mama nya mah lemot gak bisa apa apa".

__ADS_1


"Hustt jangan gitu sayang kamu terhebat dan paling hebat".


"Hebat darimana nya mas", Dinda terkekeh.


"Dari mana mana nya, malah hebat banget bisa dapet hati aku juga".


"Dih gombal".


"Sama istri sendiri bebas", Frans mengedipkan sebelah matanya, Dinda semakin salting mendapat kedipan genit dari sang suami.


Selesai membuat desain kurang lebih 1 jam Frans mengerjakan pekerjaan yang lainnya, menerima banyak email masuk dari Rio dan sekertarisny.


"Ini apa lagi mas?", kepo Dinda lagi melihat berjejeran angka dan tulisan.


"Ini data penjualan, yang ini data pengeluaran dan ini data keuntungan sayang".


"Ini gimana ya banyak baget angka sama nol nya, cara bacanya gimana".


"Kita harus teliti ada kejanggalan atau tidak dari semua data ini, pengeluarak kita sekian untuk apa apa saja, pemasukan kita sekian dari mana saja dan keuntungan kita sekian harus kita olah lagi".


"Ohh gitu ya, susah juga ternyata kerja kantoran ya mas".


"Masya Allah hebatnya suamiku, Papa nya anak ankku", Dinda menghadiahkan ciuman di pipi suaminya, jantung Frans kelojotan sendiri mendapat ciuman manis dari sang istri, mulai hari ini dia berencana akan kerja dari rumah terus, jika ada kepentingan yang mendesak barulah dia akan ke kantor.


"Do'ain terus biar usahanya lancar dan berkah buat kita ya".


"Aamiin pasti dong, anak nya udah mau nambah pasti kebutuhan juga bertambah, sehat sehat ya, Maaf kalau aku sering minta yang aneh aneh padahal cari uang gak gampang", sesal Dinda.


"Kamu belum pernah minta yang aneh aneh sayang selain makannan, harga makannan gak seberapa, kamu juga tidak pernah menggunakan kartu yang mas kasih, kadang bingung kenapa tidak pernah ada pemberitahuan kalau kamu memakai uang yang ada di dalam nya".


"Semuanya sudah cukup baju, tas sandal sepatu juga, kemarin juga kamu baru beliin jam tangan padahal sudah ada tiga jam tangan yang kamu beliin buat aku".


"Ya Allah sayang jadi itu alasan kamu, apa kamu tidak pernah ingin beli sesuatu apa gitu", kadang Frans bingung dengan istrinya padahal sudah di kasih dua kartu tapi sudah iya cirikan seminggu sekali istrinya itu minta uang cash 100 ribu, bingung buat apa dan tadi dia baru tau kalau uang 100 ribu itu bukan buat dia juga, ternyata Dinda kasih ke pengemis yang ada di lampu merah sekali lewat 10 ribu berarti selama 5 hari Naomi sekolah ya buat itu pengemis uang 100 ribu itu.


"Gak ada semuanya sudah cukup, cemilan buah sayuran banyak di kulkas es cream juga banyak".


Se sederhana itu Dinda, jika dirinya tidak inisiatif membelikan barang barang apa saja yang akan Dinda pakai berarti istrinya itu tidak akan berganti pakaian.

__ADS_1


"Isi uang yang ada di dalam kartu yang mas kasih ke kamu itu bahkan cukup buat beli mall juga sayang kalau kamu mau".


"Buat apa gak penting beli mall, boleh gak kalau aku pakai nanti buat sumbangan ke panti asuhan dan kaum duafa?".


Gemas sendiri dengan pertanyaan istrinya, sudah beberapa kali Frans mengisi kartu untuk istrinya pakai itu agar jika di gunakan tidak sampai kehabisan.


"Boleh banget sayang itu sudah hak kamu itu uang kamu bukan uang mas lagi".


"Uang suami uang istri tapi uang istri bukan uang suami ya hahaa padahal aku gak kerja mas".


Allahuakbar ingin ku krungin simpan ke dalam peti saking gemasnya Frans, "Kerjanya kan ngurusin suami ngurusin anak dan satu lagi kerja kamu yang paling besar nilainya mau tau gak", ucap Frans dengan senyuman abrahgadabrah nya.


"Apa itu mas?", tanya Dinda dengan polosnya.


"Muasin mas di ranjang setiap malam", bisik Frans sambil terkekeh.


Astagfirullohalazim Dinda malu sama diri sendiri juga kalau ngebahas urusan itu, "Ihhh mas apasih ngaco".


"Husttt pelankan suaranya sayang anak nya lagi tidur".


"Lagian bahas kaya begituan", cemberut Dinda.


"Katanya mau tau, ya emang itu pekerjaan seorang istri sayang, istri gak harus ngantor gak harus kerja yang lain rezeki akan mengalir terus jika selalu mendo'akan dan melayani suami dengan ikhlas dan tulus".


"Iya sih tapi gak di bahas juga mas kan malu".


"Ada kita doang berdua sayang", Frans mengedipkan matanya.


Dan setelah itu terjadilah pertempuran di siang hari, Frans membawa Dinda ke tempat ganti baju, di sana ada sopa lumayan besar, tentunya itu semua karena persiapan Frans juga jika Naomi sedang tidur bersama mereka, pasti Frans dan Dinda pindah tempat tidak mungkin di samping putrinya yang sedang tidur pulas.


Setelah pertempuran itu selesai Dinda tertidur pulas bersama Naomi, sedangkan muka Frans begitu cerah berseri seri dia melanjutkan pekerjaan nya lagi.


.


.


.

__ADS_1


❤❤❤ Happy rading 😘😘😘


__ADS_2