BUKAN WANITA LEMAH

BUKAN WANITA LEMAH
91.


__ADS_3

Sudah waktunya makan malam Oma Rena belum keluar dari kamarnya.


"Mama belum keluar juga Yah", ucap Bu Ratna.


"Belum tadi Ayah kesana katanya iya sebentar lagi".


"Yaudah nak makan duluan ya Ibu mau ke kamar Oma dulu sebentar", Bu Ratna bangkit dari duduknya berjalan ke kamar yang merguanya tempati.


Membuka pintu dengan pelan, "Ya Allah Mama kenapa?", melihat Oma Rena sedang menangis sambil meringkuk, Bu Ratna berjalan dengan cepat.


Sedangkan Oma Rena hanya menggeleng.


Mendengar Bu Ratana teriak semua orang yang ada di meja makan tadi masuk juga kedalam kamar itu.


"Mama kenapa?", tanya Ayah Hendra.


Oma Rena menggeleng lagi dan menggeleng terus di tanya kenapa juga, matanya terus melihat ke arah Dinda.


"Nak sepertinya Oma mau bicara denganmu", Bu Ratna mengelus lengan anaknya.


Dinda menoleh pada suaminya dengan muka ragu seolah bertanya.


Frans mengangguk "Oma gak akan nyelakain kamu sayang", mengelus kepala istrinya.

__ADS_1


Dinda mendekat dengan ragu, "Oomaaa", ucap Dinda dengan pelan.


Oma Rena menangis sejadi jadinya mengambil tangan Dinda iya dekap dengan erat, setelah mulai reda tangisnya baru iya bisa bicara, "Maafkan Oma ya sayang, maaf Oma sudah jahat sama kamu", masih dengan tangisnya.


Dinda menggeleng, "Aku udah maafin Oma sebelum Oma minta maaf juga", dia juga ikut menangis ada rasa haru dan sedikit senang, rasa takut masih ada dalam dadanya .


"Terimakasih cucu Oma, Dinda cucu Oma sayang", memeluk Dinda dengan sedikit susah sebab terhalang perut yang sudah membuncit.


Setelah itu mereka banyak mengobrol, Oma Rena terus saja minta maaf tak henti henti.


Awalnya Dinda juga masih canggung dalam hatinya masih ada rasa rasa takut, entahlah padahal Dinda sudah benar benar ingin sekali membuang rasa takut itu dia benar benar ingin bebas dari rasa was was yang selama ini terus menghantui hidupnya.


Hampir satu jam mereka bicara sampai melupakan makan malam kalau bukan Naomi yang ngomong laper duluan.


Makan dengan tenang di iringi clotehan Naomi yang seakan tak ada habisnya kata kata yang dia ucapkan.


"Oke nek", antusias Naomi.


Setelah makan mereka semua langsung masuk ke kamar masing masing karena sudah malam juga sudah hampir jam 10, Naomi yang setelah habis makan nya dia sudah terlihat mengantuk memang sudah lewat waktunya tidur, besok masih ada waktu ngobrol bareng lagi.


Sampai kamar rutinitas Frans sebelum tidur menyusun bantal dan guling untuk istrinya tidur dengan nyaman.


Dinda sudah berbaring di susul Frans juga yang ikut berbaring disamping sang istri meski terhalang guling. "Mas, besok kita jalan pagi ya di sini suka sejuk banget kalau pagi", ucap Dinda.

__ADS_1


"Hadiahnya apa nih sayang?", tanya Frans tersenyum miring.


Dinda mengelus perutnya, "Lihat sayang Papa suka minta imbalan terus nih", adunya pada anak yang masih dalam perut.


Frans juga ikut memegang dan mengelus perut istrinya merasakan tendangan dari sang anak, "Wih anak Papa makin hebat tendangannya ya", mencium perut Dinda bertubi tubi.


"Tuh kan adek aja marah katanya Papa jangan suka minta imbalan terus ke Mama", Dinda terkekeh.


"Itumah Mama aja yang pelit ya sayang", ucap Frans, setelah igu mereka tertawa bahagia.


"Masih ada rasa takut gak hmm?", tanya Frans lagi.


"Masih, gak tau kenapa padahal aku sudah berusaha melawan rasa takut itu", keluh Dinda.


"Gak apa pelan pelan saja sayang".


"Iya Mas, tidur yuk aku sudah ngantuk".


"Baiklah sayang", Frans langsung mengelus perut istrinya setiap malam memang seperti itu agar Dinda tidur dengan nyaman dan pulas.


.


.

__ADS_1


.


❤❤❤ Happy reading 😘😘😘


__ADS_2