
Jam 7 pagi semua orang sudah siap untuk berkunjung ke rumah Dinda.
Naomi sangat antusias dari jam 5 pagi anak itu sudah minta mandi, karena tadi malam Naomi tidurnya dengan Dinda, belum jam 9 juga sudah tidur tidak seperti biasanya.
mereka membawa dua mobil untuk berjaga jaga saja karena perjalannan lumayan jauh takutnya mogok atau apalah.
Dinda dalam hatinya sudah dag dig dug, sungguh ini semua rasanya hanya mimpi, akan memiliki suami kaya raya tidak ada dalam mimpinya sedikitpun.
Jam 7 lewat semuanya sudah masuk ke dalam mobil Rio juga ikut.
"Om Iyo, Naomi sekarang sudah punya Mama lo", ucap Naomi dengan senyum mengembang, bangga pada diri sendiri karena sudah ada yang bisa di panggilnya dengan sebutan Mama.
Bahkan nanti hari senin dia akan bercerita pada sahabatnya Sisil dan Mely, karena tidak hanya mereka doang yang punya Mama dia juga sekarangmah punya.
"Hahh masa, kok om Iyo baru di kasih tau sih, curang ah, siapa sih yang mana Mama nya Naomi itu?", tanya Rio, sekedar menghibur Naomi padahal sebelum Naomi tau Rio yang lebih tau semuanya, bahkan ini semua rencana Papa Wira, tadinya juga kalau saja Frans masih menutup hatinya Papa Wira lah yang akan memaksa menjodohkannya.
"Huhhh Om Iyo, kudet", ucap Naomi, semua orang di buat melongo darimana anak itu tau bahasa macam itu pikir mereka semua.
"Iya nih Om tidak tau, duh Om ketinggalan ya, sedih deh Om kalau kaya gini". Derama Rio.
"Mama Dinda ini Mamanya Naomi Ommm Iyoooo, kesal Naomu.
mangkanya Om Iyo jangan kerja terus kaya Papa, jadi gak tau kan, iya kan Oma, meminta pendapat Oma Sinta.
"Iya sayang", ucap Oma.
"Ohhh Mama Dinda Mamanya Naomi, Om baru tau deh Maaf ya".
"It's ok Om".
"Ma dimana rumah Mama apa sebentar lagi sampe tanya Naomi".
"Masih jauh, kita di jalan 5 jam", ini baru setengah jam.
"Wawww jauh banget ya Ma, kenapa kita gak pake pesawat aja biar cepet sampe",
"Di sana tidak ada lapangan buat kapal", ucap Dinda.
Sedangkan yang lain hanya mesem mesem, mendengar Dinda menyebutkan lapangan.
"Ohhh berarti Papa besok kita bikin lapangan ya Pa, biar kalau ke rumah Mama cepet sampainya". Celoteh anak itu lagi.
__ADS_1
"Iya iya kita nanti bikin yang gede", jawab Frans.
Tidak berapa lama si bawel itu menutup matanya tanda dia mengantuk bosan di dalam perjalannan.
"Nah aman kuping kita dari celotehhan bawelnya", ucap Mama Sinta sambil terkekeh.
"Tapi lama lama mah dia tidurnya kita juga bosan Ma", jawab Rio lagi.
"Iya juga ya, ah gak lama dia nanti juga buka mata lagi, terus nanya terus apa yang dia lihat di tanya lagi".
Setelah itu hanya suara musik yang terdengar.
1 mobil Alphard dan satunya lagi mobil Pajero Sport itu beriringan.
Sayang sekali padahal tinggal kurang lebih 1 jam lagi sampai ke kampung Dinda, Namun mobil itu tidak bisa jalan karena macet.
Yang seharusnya sudah sampai rumah namun ini masih kurang lebih setengah jam lagi.
"Ma belum sampai ya", tanya Naomi anak itu terbangun mungkin sudah kenyang tidur.
"Belum sayang tunggu ya setengah jam lagi, semoga saja tidak ada macet lagi di depan", ucap Dinda, dia juga sudah pegal, sedikit sakit pinggang karena terlalu lama duduk.
Frans mengelus kepala Dinda, bukan apa apa dia juga melihat duduk gelisah nya Dinda saking pegal karena terlalu lama duduk.
Mama Papa memilih tertidur saking bosan dan ngantuknya di perjalannan.
Jalan menuju kampung Dinda tidak ada aspal atawpun coran, syukurnya bukan tanah liat yang mereka lewati hanya ada kerikil kerikil, di temani dengan gerimis gerimis kecil.
Sampai di kampung, hampir sekampung berbondong bondong melihat mobil bagus itu.
Aneh tidak seperti biasanya ada mobil bagus bahkan sangat jarang ada mobil lewat di kampung itu, kampung yang sangat asri.
Hampir membengbeng warga di pinggir jalan melihat dua mobil mewah. Mereka penasaran dengan yang punya mobil dan mau kemana mobil itu, pikir mereka.
Rumah Dinda ada di sedikit ujung kampung hingga dari ujung ke ujung lagi warga kampung itu membengbeng jalan.
Sampai ke depan rumah Dinda, rumah sederhana namun sangat bersih banyak pepohonan rumput rumput terawat ada beberapa bunga juga bermekaran.
Mama Sinta sangat senang melihat pemandangan hijau itu.
Ayah dan Ibu sampai melongo, bahkan ibu teriak ketakutan karena ada mobil mewah berenti pas di depan rumah mereka.
__ADS_1
"Ayah ya Allah yah punya salah apa kita, ada salah apa lagi kita yah", tangis bu Ranti pecah, mengingat 11 tahun silam.
"Ibu tenang dulu bu kita belum liat siapa yang ada di mobil itu", ucapa Ayah namun dalam hatinya Ayah juga merasa takut, takut keluarganya mengganggu mereka lagi.
Apa tujuan mereka, pikir Ayah padahal semuanya sudah Ayah kasih.
Tak lama yang ada dalam mobil itu pada turun semua.
Dinda yang berbeda tidak langsung ke tebak, karena memakai pakaian bagus kerudung bagus.
"Assalamualaikum Ayah Ibu", ucap Dinda di iringin oleh yang lainnya.
Sebelum menjawab Ibu dan Ayah saling lirik, suara Dinda tapi kenapa pakaiannya bagus semua, pikur mereka berdua.
Ya Dinda memakai pakaian brand, pilihan Mama Sinta.
"Nakkkkk ini kamu Dinda, teriak Ibu menangis memeluk Dinda haru".
"Iya ini Dinda Bu Yah".
"Ya Allah anak ibu baru 1 bulan di kota sudah pangling saja". Ucap bu Ranti.
Ayah menyalami satu persatu yang ada di belakang Dinda.
Warga kampung situ melihat dari kejaugan saja berkerumun juga lumayan sedikit jauh.
Papa Wira memperkenalkan diri dan keluarganya, setelah itu masuk ke dalam rumah sederhana itu namun nyaman karena swmuanya tertata rapih.
di sana tidak ada sopa atau yang lainnya. Lesehan beralasan karpet.
"Ya Allah nak, kamu tidak bilang kalau akan pulang bawa banyak orang bawa mobil bagus juga, ibu tadi sudah ketakutan nak", ucap Bu Ranti panjang lebar.
Dinda hanya terkekeuh mendengar celoteh Ibunya.
"Kami kesini ada niat pak bu", ucap Papa Wira dengan penuh wibawanya.
Ayah dan Ibu bahkan kakak dan abangnya Dinda juga ada di situ.
Pak Wira menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke sana. Menjelaskan dengan panjang kali lebar
❤❤❤
__ADS_1
Selamat memnbaca jangan lupa like ya😊 Terimakasih🙏🙏🙏