BUKAN WANITA LEMAH

BUKAN WANITA LEMAH
64. Part 64


__ADS_3

Frans membantingkan diri ke sopa, sambil terus mengumpat, siapa sih yang datang, mengganggu saja, kesalnya.


Dinda dalam hatinya Masya Allah Ya Allah Terimakasih atas pertolongan mu, membuka pintu dia juga bertanya tanya siapa yang datang .


"Mamaaaa", Naomi menangis, rambutnya juga sudah aut autan sepatu yang tadi dia pakai sudah tidak ada.


"Heii kenapa sayang?", Dinda bingung melihat penampilan anaknya acak acakan, di situ juga ada Ibu Ranti, Mama Sinta yang mengantarkan cucunya.


"Maafkan kami sayang, kami tidak bisa membujuk Naomi, Naomi kekeh maunya hanya sama kamu", Mama Sinta merasa tidak bisa menjaga cucunya walau hanya sebentar.


"Gak apa apa Ma biar Naomi sama Dinda dulu, Mama sama Ibu istirahat saja. sepatunya mana sayang?, kenapa nangis kaya gini, kalau mau sama Mama tinggal bilang", merasa perihatin. Naomi masih sesegukan tidak bisa menjawab.


Dinda membawa Naomi ke dalam, setelah Ibu dan mertuanya pergi.


Frans melihat Dinda yang menggendong Naomi lumayan kesusahan karena dia masih memakai gaun. Awalnya Frans sangat murka dengan orang yang mengganggunya, tapi saat melihat penampilan anak nya dia juga kaget langsung mengambil Naomi dari gendongan Dinda.


"Kenapa dia sayang?", tanya Frans.


"Mau sama aku, tadi katanya Mama sama Ibu melarang dia mangkanya dia ngamuk", jelas Dinda. Frans mengangguk tanda mengerti, dalam hatinya gawat banget kalau seperti ini terus.


"Heii anak Papa, udahan nangisnya ya itu Mama sudah ada di depan kita, Mama gak bakalan kemana mana, Mama Dinda sudah jadi milik kita".


Ucapan Frans yang seperti itu membuat Dinda tersipu bahagia, pipinya merah. Merasa di cintai.

__ADS_1


"Udah ya nangisnya, tunggu sebentar Mama mau ganti baju dulu gerah, Nomi tunggu di sini sama Papa", di jawab dengan anggukan sama Naomi, secepatnya Dinda mengganti bajunya, gaun yang dia pakai sangat berat juga gak bisa leluasa berjalan.


Frans masih mengusap ngusap punggung Naomi, dalam hatinya, dia juga merasa bersalah karena tidak bisa memberikan keluarga yang utuh untuk anak nya, mangkanya Naomi jadi seperti ini. namun sekarang dia bersyukur di pertemukan dengan Dinda yang mau menerimanya, dan yang benar benar dia cintai juga.


"Tidur dia?", tanya Dinda, setelah menganti bajunya.


Frans menoleh tersenyum melihat istrinya, cantik banget walau tanpa make up, malah tambah manis kelihatannya, batin Frans.


"Belum sayang, nih sebentar ya aku juga mau ganti baju gerah", menaruh Naomi ke dalam pangkuan Dinda, sebelum pergi ke kamar mandi untuk mengganti bajunya Frans mencium kening Dinda.


Duh jantung gak aman banget deket sama dia, mau menolaknya tapi sekarang sudah halal. Batin Dinda.


Merebahkan badanya niat menidurkan Naomi, mata Naomi sudah tertutup namun sesekali masih sesegukan.


"Bobo ya sayang, Dinda mengecup dahi Naomi sambil mengelus tangannya, capek kan nangis, kalau mau sama Mama jangan nangis ya, minta di anterin dengan baik baik", Naomi mengangguk walawpun sudah mengantuk dia masih mendengar suara Dinda.


Dinda merasakan di peluk oleh Frans menegang kaku, mencoba untuk tetap tenang dan membiasakan diri. Setelah mendengar dengkuran halus dari Naomi Frans membalikan Dinda menghadap ke arahnya.


"Tegang amat mukanya sayang", Frans mengelus pipi Dinda. Dinda hanya menggeleng kecil. "Biasakan sayang, aku suami mu sekarang, Frans mencium dahi Dinda sangat lama", dia juga menahan diri untuk bersabar, karena Dinda bukan seperti perempuan pada umumnya, yang sering sekali menawarkan diri dengan suka rela padanya.


"Ngantuk", hanya satu kata yang Dinda keluarkan, sebenarnya dia menghindari tatapan Frans.


"Mau sampe kapan tidak menyebutku dengan embel embel apa gitu, kaya orang orang seperti sepasang suami istri pada umumnya".

__ADS_1


"Maunya di panggil apa?", meski tenggorokan sedikit tercekat Dinda berusaha bicara.


Frans mengambilkan air mineral yang ada di meja sampingnya. "Minum dulu sayang", lalu memutar kasur untuk menggeserkan Naomi lebih tengah lagi supaya dia tidak terlalu sempit. Dinda meminun air mineral itu sampai habis 1/2.


"Haus sayang?, Frans menghabiskan air yang sisa tadi Dinda minum".


"Ehhh gak jiji itu bekas aku", Dinda kaget karena Frans minum pas banget dari bekas bibirnya.


Tanpa bicara lagi setelah habis air itu Frans merebahkan diri lagi memeluk istrinya. Cup Frans ******* habis bibir Dinda.


"Napas sayang", gemas sendiri nyatanya berciuman dengan perawan sangatlah lucu.


Muka Dinda sudah seperti kepiting rebus, malu dan juga kehabisan oksigen dia, Frans tadi menciumnya sangat rakus.


"Manis banget sayang, ini membuatku candu Frans menyatukan bibirnya lagi". Dinda tersentak kaget merasakan itu, sedikit terbuka mulutnya membuat Frans tambah buas, tidak apa Dinda belum bisa membalasnya pikir Frans.


Naomi masih tidur tanpa mengetahui perbuatan Papa nya.




__ADS_1


❤❤❤


Happy reading, jangan lupa like ya😊, Terimakasih🙏🙏🙏


__ADS_2