
Rasanya Frans baru juga menjalankan mobil, sudah sampe saja ke kontrakan Dinda.
"Sayang kita muter dulu yuk", ajak Frans.
"Muter kemana?", ini kontrakan saya sudah di depan mata pak.
"Ini terlalu cepat sampainya", Aku masih ingin berdua denganmu, keluh Frans.
"Ayolah pak Frans ini sudah mau Magrib", Dinda menunduk malas, jengah dengan kelakuan Frans yang seperti bocah.
Sampai saat ini Dinda masih bingbang dengan perasaannya, masih belum bisa percaya sepenuhnya.
"Makan malam di luar saja yuk", tanpa persetujuan Frans menjalankan mobilnya lagi.
"Mau kemana?, hari ini rasanya saya lelah pak, mau istirahat", Dinda menoleh ke arah Frans dengan malas.
"Makan doang sayang, habis itu kita pulang, mau ya temenin aku makan, kamu mau makan apa sayang?", mengambil tangan Dinda lalu menggenggamnya.
"Terserah", dengan malas Dinda lebih baik menatap jendela daripada melihat tingkah Frans yang sedang menggenggam tangan nya lalu sesekali mengecup tangan itu.
"Jangan terserah, kamu suka nya makan apa?".
"Ikut saja, terserah. Udah lepas ni tangan nyetir yang benar, gak lucu kalau nabrak".
"Baiklah, memilih mengalah daripada harus ribut tidak jelas, pikir Frans".
Sampai ke salah satu lestoran ternama di Jakarta, masuk ruangan VIP, Frans tidak mau terganggu, dia inging membuat Dinda nyaman dari tatapan tatapan orang yang ada di situ, apalagi ini pertama mereka makan berdua biasanya sama Naomi.
Dinda sebenarnya terkejut, ini pertama kali dia makan di tempat mewah, hatinya bertanya tanya ini tempat makan atau bukan sih, dia melihat tadi di sepanjang jalan pas menuju ruangan yang di pesan Frans, orang orang lagi pada makan.
Sudah jam setengah tujuh malam, karena tadi Dinda sempat minta berenti di Mushola untuk melaksanakan kewajibannya.
Frans merasa ter hempaskan, dia sampai lupa kapan terakhir Shalat, mungkin bisa di bilang dia Shalat hanya 1 tahun dua kali doang, pas Idul Fitri dan Idul Adha.
Gak salah kan gue milih calon istri, milih ibu buat anak anak gue, gue memang bukan orang benar atau dalam tanda kutipnya gue pendosa besar. Tapi untuk hidup selanjutnya gue juga butuh pendamping hidup yang bisa menuntun gue ke jalan yang benar. Seloroh Frans.
"Sayang kenapa diam terus, capek ya?, menggeserkan bangkunya agar lebih dekat dengan Dinda, lalu mengelus kepala Dinda yang tertutup kerudung segi empatnya.
Dinda menggelengkan kepala, dalam hatinya, capek karena tingkahmu yang tidak jelas selama seharian ini.
__ADS_1
"Ini hanya tempat makan doang ya?", tanya Dinda, sedikit bosan menunggu makanan yang mereka pesan.
"Iya sayang, memangnya kenapa?", tanya Frans lagi.
"Nggak, aneh aja tempat sebagus dan semewah ini hanya di jadikan tempat makan doang, huwhhh orang kaya mah bebas ya".
Jiwa misquen Dinda meronta ronta, sudah tidur tidak ke hujanan saja sudah Alhamdulillah batin Dinda, ini hanya tempat makan sudah kaya istana. Batinnya.
Frans tertawa mendengar penuturan Dinda, menurutnya lucu, ini padahal hanya lestoran bintang 4 bagaimana kalau bintang 5 ya, pikir Frans.
"Malah ketawa ihh nyebelin, ucap Dinda". Frans masih saja terkekeh.
Makanan datang, mereka makan dengan tenang, sesekali Frans minta di suapin dan dia juga memaksa Dinda agar mau dia suapin.
Makanannya enak semua pikir Dinda, dia tidak sungkan atawpun malu malu makan dengan Frans, yang menurutnya enak dia makan saja habisin.
karena sudah laper dan makan dengan menu baru, juga enak, Dinda merasa masabodo dengan Frans yang sudah selesai makan.
Frans memperhatikan cara makan Dinda yang tidak jaim makan di depanya, hanya bisa tersenyum, sesekali membantu mengupas kulit udang besar yang mau Dinda makan, hatinya merasa senang bukan main.
Pertama kalinya membantu wanita mengupas makannan nya, dari dulu dia tidak pernah sama sekali, bahkan yang sering malah dia yang di bantu.
Dinda sangat meresa kenyang, entahlah seperti bukan Dinda kalap dengan makannan yang ada di depannya , mungkin karena ini baru pertama kalinya makan se enak itu.
"Alhamdulillah ya Allah, kenyang ucapnya menoleh ke arah Frans sambil cengengesan".
Frans hanya tersenyum, lalu mengelus kepala Dinda, memberi minum dan mengelap mulut yang masih blepotan saus sambal.
Ahhhhh meleleh adek bang😍😍😍
"Ada yang mau lagi sayang?", tanya Frans, hatinya berbunga bunga melihat Dinda sudah tidak terlalu menjaga jarak lagi dengannya.
"Nggak ah kenyang", semua makannan aku yang habisin, kamu hanya makan sedikit.
"Aku kenyang hanya melihat kamu makan dengan lahap seperti tadi sayang", senyum Frans masih mengembang.
"Aaaaaa malu", Dinda menunduk, Maaf tadi makannan nya aku habisin semua.
"Gakpp sayang, gak jadi masalah, ada yang mau lagi gak, atau mau es cream?", tanya Frans lagi memastikan.
__ADS_1
"Emang boleh?", tanya Dinda dengan berbinar karena di tawarkan es cream.
"Boleh dong, asal jangan terlalu banyak ya, takut sakit ini sudah malam sayang".
"Huwaaaa Makasih pak Frans, baik deh".
Yang awalnya senyum lebar, kini muka Frans terlihat masam. Ya mau gimana ya orang di panggil pak lagi.
"Bisa gak, kalau lagi berdua kaya gini jangan panggil pak, Dinda Mahendra", geram Frans.
"Ehhh salah ya, Maaf deh Papanya Naomi jangan suka ngambek takutnya cepet tua lo".
Frans tidak menghiraukan itu, dengan cepat dia membawa Dinda ke depan yang ada tempat es cream nya.
Berasa ngajak Naomi, dalam hati Frans masih sedikit dongkol karena dia masih saja di panggil pak.
Setelah mengambil es cream yang Dinda suka dia membayarnya, lalu mengajak Dinda masuk ke mobilnya.
Salah dikit padahal tapi mukanya sudah berubah dingin lagi nyebelin emang bapak bapak satu ini, tapi baik sih cengengesan sendiri dalam hati.
"Marah ya?", tanya Dinda setelah mereka masuk ke dalam mobil.
Frans hanya diam saja.
yasudahlah Dinda makan es nya sampai habis dan juga sampai ke depan kontrakannya
"Papanya Naomi, kalau mukanya datar gitu keliatan banget sudah tua nya", di bilang seperti itu sama Dinda mata Frans semakin mendelik tajam.
Turun dari mobil lalu menutup pintu mobil kembali.
Dinda mengetuk kaca mobil Frans, setelah di turunkan kacanya dan Frans tanpa berniat menoleh, namun masih belum menjalankan mobilnya juga.
"Terimakasih mas Frans, terimakasih makanannan enak dan es cream nya, pulang hati hati di jalan ya, jangan ngebut, sampe rumah istirahat".
Hanya ucapan seperti itu mampuh mengembangkan senyuman Frans.
Tak mau terlihat senyumnya oleh Dinda Frans buru buru menutup kaca mobilnya, Akhhhh gemas rasanya ingin bawa pulang dan kurung di kamarnya.
❤❤❤
__ADS_1
Selamat membaca😊 jangan lupa like ya. Terimakasih🙏🙏🙏