
Setelah Frans dan Rio keluar dari ruangan penyekapan Om Bima dan Oma Rena. Cek aku tau bagaimana anaknya Wira, dia tidak pernah main main dengan ucapannya, andai aku habisi langsung anak itu dulu mungkin tidak akan seperti ini, batin Om Bima, akhhhhhhhhhh ******* , marahnya.
"Bim, dia siapa?", tanya Oma Rena.
"Dia anak nya Wira Wiguna, anak itu tidak pernah main main dengan ucapannya Ma, andai dulu aku langsung menghabisi bocah itu, mungkin sekarang kita tidak akan seperti ini, ini semua gara gara Mama tidak memperbolehkan aku membunuhnya secara langsung".
"Mengapa kamu menyalahkan Mama, salahkan wanita miskin dan dekil itu".
"Sekarang kita harus cari cara bagaiman kita bisa keluar dari sini Ma, bisa bisa kita mati di tangan dia".
"Iya Bim itu yang harus kita pikirkan sekarang".
.
.
"Iyo, gue titip mereka jangan sampai bisa keluar dari sini, gue pergi dulu".
"Pertanyaan nya siapa yang pernah bisa keluar dari ruangan itu".
"Gue percaya elu, gue pergi dulu ya titip kantor".
"Bulan depan gue libur ya", Rio cengengesan.
"Bulan depan gue potong leher elu juga", ucap Frans sambil berlalu.
Untung abang gue, kalau bukan sudah pasti gue jadiin elu santapan Morgan (Harimau ganas), bang, teriak Rio.
Frans tidak menghiraukan teriakan Rio, dia belalu saja tanpa menoleh.
__ADS_1
4 jam dalam perjalannan menuju rumah Dinda yang ada di kampung, Frans bersama sopir kali ini karena dia sambil kerja di mobil.
"Assalamualaikum", Frans mengetuk pintu, jujur saja dia lupa lupa ingat dengan posisi rumah mertuanya, karena hanya penah sekali kesini.
Sekarang sedang Frans bangunkan rumah yang lumayan luas, memang agak jauh dari yang sekarang di tempati walawpun tetap di kampung ini.
"Walaikum salam, tunggu", ucap Bu Ranti dari dalam. "Ehh nak ada apa?", kagetnya.
"Ibu sehat?", tanya Frans menyalami mertuanya sambil tersenyum.
"Sehat nak, kenapa ada apa, apa ada masalah sama Dinda", Bu Ranti panik.
"Ibu tenang, kami baik baik saja, saya kesini mau menjemput Ibu dan Ayah Dinda sedang merindukan kalian".
"Ya Allah nak sampai lupa Ibu ajak kamu masuk, ayo masuk dulu sini, tar Ibu panggilkan Ayah dulu ya".
"Tidak apa apa Bu, santai saja", Frans melihat muka panik mertuanya iya tersenyum, cek pantas saja anak nya juga suka panik tidak jelas hanya karena hal hal sepele ternyata menurun dari Ibunya, jadi kangen istri, batin Frans.
"Ayah sehat?, tanya Frans sambil menyalami mertuanya. Dinda tidak kenapa napa Yah, dia hanya rindu dengan kalian, mangkanya saya kesini untuk menjemput kalian".
"Ya Allah nak, Ayah kaget takut dia kenapa napa, perasaan Ayah sama Ibu seminggu ini tidak enak dan tidak tenang", keluh Ayah Hendra.
Ikatan batin antara anak dan orang tua memang begitu kuat, akan terasa ada yang beda dalam perasaan nya, jika salah satu di antara mereka ada yang sakit atau terluka.
"Maaf saya jika kedatangan saya kesini mengagetkan, kami sengaja tidak memberi tahu kalau Ayah dan Ibu akan saya jemput".
"Tidak apa apa nak, Ayah hanya takut dia terluka. Ibu cepat siap siap kasihan nak Frans kalau dia menunggu terlalu lama, takutnya menantu kita sedang sibuk".
"Santai saja jangan terlalu terburu buru, waktu saya sedang luang Yah".
__ADS_1
Setelah Ibu Ratna siap siap mereka langsung berangkat lagi ke kota, tidak lupa iya membawa oleh oleh kampung, makannan kesukaan anaknya dan juga besannya.
"Bu Ratna mau ke kota ya, duh punya menantu kaya raya enak banget ya Bu, di jemput naik mobil bagus", ucap Bu A.
"Huhh saya juga harus punya menantu orang kaya biar bisa kaya Bu Ratna", ucap bu B lagi.
"Iya mbak kita harus mencari menantu yang kaya biar bisa jalan jalan pakai mobil bagus", kata si Bu C.
Begitulah obrolan ibu ibu yang melihat Bu Ratna di jemput menantunya.
.
Sampai Jakarta sudah mau magrib, bolak balik dari kampung Dinda ke Jakarta, benar benar seharian full itupun karena pakai mobil pribadi.
Dinda dan Naomi sudah menunggu di depan gerbang, karena mendapat tlpon dari Frans kalau mereka sudah dekat ke rumah, Ibu dan anak itu sangat antusias menyambut yang akan datang.
Melihat mobil Frans yang masih di ujung jalan sana Naomi sudah lopmat lompat girang.
"Mamaaaa itu tuh tuh mobil Papa sama Nenek Kakek".
"Mana sayang, ohh iya itu mobil Papa", Dinda juga sangat girang melihat mobil suaminya yang masih di ujung sana.
Satpam yang melihat kekompakan ibu dan anak itu dia hanya bisa tertawa.
•
•
•
__ADS_1
❤❤❤ Happy reading😘
Terimakasih buat yang masih setia membaca karya Utor, salam sehat, semoga semuanya pada sehat sehat ya😇🙏